Saturday, January 20, 2018

Warung Langit


Link buat baca part sebelumnya --> Taman Kota Jakarta 

----------------------------------------------

Dalam psikologi kepribadian, ada empat tipe kepribadian manusia, yang gue yakin kalian juga sering mendengar keempat tipe ini. Melankolis, si teratur, perfeksionis tapi sensitif. Sanguin, si ceria, hangat, tapi kadang berpikir dangkal. Plegmatis, si santai, ramah, penyabar, tapi tidak tegas. Terakhir, ada Koleris, si aktif, mandiri, tapi kasar. Lah, ini udah kaya faksi-faksi di film Divergent.

Dari keempat tipe itu, gue condong ke faksi melankolis, tapi setelah gue cerna lagi, banyakan aspek yang jelek-jeleknya... Gue suka nyalahin diri gue sendiri, rendah diri, ga bisa cepet kalo ambil keputusan, karena semua harus gue pikir mateng sampe bikin plan a-z. Gue juga lebih sering sendu-haru-biru ga jelas, berbanding terbalik sama Alana yang menurut gue adalah seorang Sanguin. Dia tu cheerful, suka ngomong, gampang cairin suasana, berisik lucu gajelas, gue sering kebawa happy kalo lagi bareng dia. Warna dia itu cerah, ga kaya gue yang selalu kelabu, siapa tau dia bisa mencerahkan hidup gue yang sendu-biru #bhihik.

Kenapa tiba-tiba gue bahas ini? Ya gapapa, pingin aja. Oke. Skip.

Nah, setiap akhir tahun, gue selalu kumpul keluarga besar di Bandung, gue selalu menantikan momen itu, kumpul sama adik-adik sepupu, main kembang api di malam tahun baru, bakar-bakaran rumah, asik deh pokoknya. Tapi, taun ini lebih asik, kenapa? Karena gue bisa jalan-jalan di Bandung sama cewe, siapa cewe itu? Ya Alana #uhuk.

By the way, sejak jalan seharian sama Alana di taman Ayodya waktu itu, kami jadi makin rutin chat, tapi baru ada kesempatan ketemu lagi di Bandung ini. Gue janjian sama dia buat main di Bandung, karena kebetulan dia ada acara nikahan saudaranya di sebuah hotel di Bandung tanggal 24 Desember kemarin. Gue pinjem mobil om gue malem itu, nyetir ke arah Dago atas, jalanan ramai-ramai lancar, gue sampe hotelnya sekitar pukul delapan malam, gue iMessage Alana kalo gue udah parkir deket lobi, kebetulan ada yang baru keluar. Gue keluar mobil, mengeluarkan sepuntung rokok, eh, gue kan ga ngerokok, ini rokok siapa lagi gue pegang, ngaco ah. Gue lemparkan pandangan ke sekeliling, bengong ngeliatin ini hotel gede banget, sibuk bengong, eh, gue liat ada tiga perempuan cakep-cakep lagi jalan keluar lobi, dengan setelan warna navy-gray gelap gitu di baju dan peach gelap di roknya, pakaian mereka seragam. Astaga, itu yang sebelah kiri kan si Alana, ini pertama kalinya gue liat dia didandani, rambutnya diapain itu namanya gue ga ngerti, pokoknya jadi sedikit bergelombang, riasan di wajahnya tetap ngga menor, tipis kaya biasanya, gimana ya jelasinnya, dari outfit-nya dia keliatan dewasa, tapi aura lucu imut-nya juga ga ilang dari wajahnya, dan yang pasti, Sanguin-nya dia yang selalu terlihat “cerah”, selalu ceria seperti biasa, ah, gemeter lagi kan gue. Gue melambaikan tangan ke arah Alana, dia senyum membalas lambaian gue, lalu mereka bertiga jalan ke arah gue. Eh wait, gue liat Alana, terus gue liat diri gue sendiri, ­cuma kaus hitam, jaket jeans, blue jeans, sama sepatu, lah ini berasa gue supirnya Alana kalo liat outfit dia. Sial.

"...dari outfit-nya dia keliatan dewasa, tapi aura lucu imut-nya juga ga ilang dari wajahnya..."


“Hey!” sapa Alana setelah sampai di depan gue.
“Hey.” jawab gue sedikit gemetar, ini kayanya Bandung tambah dingin apa gimana?
“Oh iya, ini sepupu-sepupu gue, Kak Kila sama Daniza.” kata dia sambil menunjuk mereka bergantian yang kemudian gue salamin satu-satu. Beuh, ga akan cuci tangan dua hari ini gue kayanya.
“Tio, hehe.” kata gue pada mereka berdua.
“Hehe, okedeh, kita ga akan ganggu momen lo berdua hahaha, yuk, ah, Dan, kita masuk lagi. Eh, itu si Alana lo culik aja gapapa Yo, nyokapnya biar gue yang urusin hahahaha, bye!” kata Kak Kila ke gue sambil mengedipkan matanya.
“Kaak Kilaaa, hush hush ah sana.” kata Alana mendorong mereka berdua.
“Iyaa, kita cabut inii, take care Al, Yo.” kata Daniza tersenyum lebar. Lalu mereka berlari kecil sambil tertawa, masuk lagi ke hotel, sementara gue cuma bisa cengar-cengir.    
Sorry, ya, Yo, mereka sepupu gue yang emang deket, katanya penasaran gue mau pergi sama siapa hehe.” kata Alana.
“Gapapa kali. Tapi, lo paling pendek ya.” kata gue ga sadar sama diri sendiri.
“Eh siaaaal yaaaa.” kata dia sambil mendorong badan gue yang gue balas tertawa.
By the way, ini gue ga perlu pamit sama nyokap atau bokap lo?” kata gue kemudian.
“Ga perlu kok, gue udah pamit, tadi kan udah ketemu Kak Kila sama Daniza juga.” jawab Alana.
“Ooh, okedeh, jalan sekarang?” kata gue.
Hayuk.” jawab Alana sambil membuka pintu mobil.

Kami berdua muter-muter Bandung di Minggu malam itu, beneran muter-muter aja, sambil dia cerita-cerita kegiatannya, gue seperti biasa sebagai pendengar yang baik, sesekali menimpali sambil bercanda. Ceria sekali dia hari ini, gue ngebayangin gimana cheerful-nya anak gue sama dia nanti, oke, silakan muntah, gue juga geli. Kami sempet ke Cihampelas sebentar, jalan kaki di skywalk barunya itu, sampai akhirnya kami ke Two Cent Cafe. Gue bisa merasakan seluruh tatapan mengarah ke kami sejak kami masuk ke cafe ini. Ya iyalah, mungkin mereka mikir, baik amat ini majikan mau ngajak supirnya nongkrong. Hanya ada sisa satu tempat, bentuk sofa, baguslah, empuk.

“Enak juga ya, Yo, tempatnya, lo sering ke sini?” kata dia setelah duduk dan memesan Latte.
“Baru sekali sih, ini yang kedua.” jawab gue.
“Oh iya, gimana-gimana, cerita dong, keluarga besar lo di sini semua?” kata dia sambil memiringkan badannya ke arah gue.
“Iyaa, adik-adik sepupu gue ada enam di Bandung semua, satu sama gue di Depok, satu lagi di Semarang, tapi setiap akhir tahun semuanya kumpul di Bandung, lumayan, temu kangen.” jawab gue menjelaskan.
“Iih enak dong ya, rame, lo anak tunggal kan?” kata dia lagi.
“Iya, elo?” tanya gue.
“Gue juga anak tunggal, makanya gue seneng kalo udah bareng Kak Kila sama Daniza, gue sama Daniza seumuran, tapi beda dua tahun sama Kak Kila, dan kita akrab dari kecil, makanya kompak hehe.” kata dia sambil nyengir.

 Gue ngangguk-ngangguk.

"Eh, kita sama-sama anak tunggal, jangan-jangan kita jodoh, cieee." kata dia ngedorong badan gue, ngegodain.

Gue bisa ngerasain betapa panasnya muka gue digodain gitu, ga lucu nih Alana becandanya, bikin pengen gue amin-in. Gue langsung menenggak Hot hocolate gue, ngilangin kikuk.

“Eh, emang umur lo berapa sih?” kata gue tiba-tiba penasaran.

 Dia ngeliatin gue jail, lalu berbisik pelan sambil meletakan jari telunjuk di depan bibirnya.

“Ra-ha-sia, weeekk.” kata dia sambil menjulurkan lidahnya, ngeledek.
“Hahahahahahaha ngeseliin.” kata gue yang dia bales tertawa. “Cantik-cantik ya mereka.” kata gue lagi.
“Iya dong, mereka emang cantik-cantik banget! Tinggi, langsing, banyak yang suka.” kata dia lagi.
“Ah, gue lebih suka sama elo.” yhaaa kampret, ngomong apa gue.
“Gombaaaaaaal.” kata dia sambil nepuk lengan gue.

 Ah, tepukan di lengan ga pernah sebahagia ini.

“Hahahaha.” gue ketawa kuda. Padahal gue ga gombal huhu.

Gue bisa merasakan lagi tatapan iri dengki para laki-laki jahanam di cafe ini, yang seakan ga ikhlas liat cewe secakep Alana nongkrong sama Anoa kaya gue.

“Eh, lo gapapa kan, lo udah cakep parah gitu, tapi gue cuma gini setelannya.” kata gue.
“Ih gapapa kali, gue suka kok style lo yang kaya gini, simple, lo banget. Lo ya diri lo sendiri, ga harus jadi orang lain. Gue suka.” kata dia sambil senyum menatap ke arah gue. 
“Ya mana tau lo ilfeel nongkrong sama Anoa gini.” kata gue nyengir.
“Ha? Anoa? Hahahahahaha. Apaan, deh, Yoo.” kata dia tertawa sambil mendorong gue pelan.

Sampai akhirnya cafe udah mau tutup, kami akhirnya menyerah, setelah lampu-lampu di cafe mulai dimatiin. Hmm, mengusir secara halus. Kami akhirnya berjalan ke mobil, dan ternyata sudah dinanti oleh tukang parkir yang setia, thank you very much.

“Yo, ke mana lagi sekarang?” kata Alana sambil make seat belt.
“Hah? Gue mau anterin lo balik ini.” jawab gue.
“Yah, masih pingin main, Yo, kan lo mau nyulik gue, kapan lagi bisa jalan-jalan di Bandung malem-malem gini.” kata dia. Lo hebat kalo bisa tahan liat ekspresi super duper imutnya ini lebih dari 10 detik. Gue liat dua detik aja udah pengen nikah rasanya.
“Hahahaha, beneran gapapa emang?” tanya gue yang dia jawab dengan anggukan.
“Hmm, sebenernya abis nganter lo, gue mau hunting foto city light di daerah Dago atas, apa lo mau ikut gue hunting aja?” kata gue menawarkan.
“Mauuuuu!” kata dia semangat.
“Okedeeeh.” kata gue ikut semangat.
    
Gue muterin lewat Asia-Afrika, Braga, karena katanya dia mau liat. Sepanjang jalan dia buka jendela, senandung ga jelas, nunjuk-nunjuk objek yang menarik perhatiannya, bercanda minta mampir ke North Sea Bar Braga, seneng banget kayanya. Ah, 2017 sepertinya akan berakhir indah.

“Eh Yo, setel lagu dong dari hp lo, hp gue lowbat nih.” kata dia.
“Boleh, nih pilih, di Spotify aja biar lo bisa milih lagu yang lo suka.” kata gue sambil memberikan hp gue.
“Hmmm, gue liat-liat lagu lo ah, katanya kan tipe orang bisa diliat dari lagu-lagunya.” kata dia dengan muka jailnya lagi.
“Hahahahaha teori apaan itu.” kata gue.
“Yo, lagu-lagu lo... sendu semua ya... puk puk” kata dia sambil menatap gue dan menepuk-nepuk pundak gue.
“Hahahahaha enaak tauu.” jawab gue.
“Eh, recently played lo... Lo suka Taylor Swift?” kata dia lagi.
“I...ya... Her first two albums were magical. Kenapa?” jawab gue sambil melihat ke arahnya.
“Iya sih bener, gue setuju, masih country-pop gitu, liriknya sederhana tapi kerasa jujur banget.” kata dia.
“Nah, itu. Gue ada playlist lagu yang gue suka dari tiga album pertamanya dia, coba aja liat, siapa tau lo suka.” kata gue.
“Iya, gue setel itu aja ya.” kata dia sambil mulai memilih playlist yang gue maksud.

Suara Taylor Swift mengalun memenuhi mobil, gue liat dia sesekali, sebentar ketawa, sebentar takut karena jalan yang gelap, terus ketawa lagi, terus tiba-tiba dia ngomong.

“Lo pernah pacaran, Yo?” kata dia sambil melihat ke arah gue.

 Gue ngeliat ke arah dia sebentar.
    
“Sekali.” jawab gue pelan.
“Wow, gue kira lo tipe-tipe pengoleksi mantan.” kata dia.

Pengoleksi mantan apaan, nembak cewe aja ga berani, kata gue dalem hati.

“Pffft, ngga lah. Terus, elo?” tanya gue.
“Dua kali.” jawab dia.
"What a lucky guy.” kata gue.
"Hehe, mereka ga asik, Yo, ga kaya elo." kata dia yang bikin gue kaget setengah mati. Rasa kagetnya udah kaya lo nyetir mobil posisi gigi 5, terus langsung lo pindah ke gigi 1. Alig ga tuh?
"Gombaaaaaal." bales gue akhirnya.
"Hahahahahaha." dia cuma ketawa. "Lo kenapa putus, udah lama?" kata dia lagi.
"Beda agama hehe, gue putus pas akhir-akhir tingkat satu kalo ga salah. Kayanya udah jalan setaun lebih deh.” jawab gue.

Dia cuma ngeliatin gue.

"Hehe, bodoh ya? Namanya anak muda, belom mikir panjang, cuma mikirin ego hehe. Tapi gue cuma nangis semingguan kok, strong kan gue? Hahahahaha.” kata gue lagi.
Sorry...” kata dia pelan sambil ngeliat gue.
“Hahahaha it’s okay Al, gue udah berdamai sama perasaan itu kok.” kata gue sambil tanpa sadar ngelus-elus rambutnya.

Ada hening beberapa detik, sampai akhirnya dia membuka mulutnya.

“Mantan gue yang pertama, selingkuh, yang kedua ga pernah ada buat gue. Gue pacaran bukan karena nyari status, gue pengen dan gue butuh orang yang ada buat gue...” dia diam sebentar.
“Percuma kan dia bisa ngasih gue jam mahal, tapi ga bisa ngasih sedikit waktunya buat gue.” kata dia melanjutkan.
“Hehe.” gue nyengir kuda, bingung mau ngomong apa.
“Beruntung ya mantan lo, lo sampe segitunya, at least lo ga main-main kan.” kata dia lagi.
“Hehe, gue yang beruntung, dia banyak ngajarin gue tentang menjalin sebuah hubungan, gue belajar banyak dari dia. Dia bisa bikin gue lupa sama cinta pertama gue.” jawab gue pelan.
“Cinta pertama lo?” kata dia memiringkan badannya ke arah gue.
“Yups, alig juga sih itu, itu cerita dari SMP, 9 taun yang lalu, dan dia masih sering dateng ke pikiran gue, sampe sekarang. Sempet ilang pas gue sama mantan gue, tapi setelah itu, entah kenapa sosoknya masih sering mampir. Ya akhir-akhir ini udah jarang sih. Semakin ke sini, gue semakin mencoba untuk berdamai sama keadaan, sama kenyataan. Gue ga mau stuck di dia terus.” jawab gue menjelaskan.
“Kalian deket?” tanya dia.
“Dulu, kami deket, bahkan dia masih mau ‘ada’ buat gue di salah satu momen terburuk di hidup gue saat itu, tapi mungkin gue aja kali ya yang ngerasa gitu hahaha. Tapi kemudian gue rasa ada satu momen, yang bikin dia bener-bener membuat jarak dari gue. Gue bikin salah, mungkin terlalu banyak, sampe gue bener-bener ga tau kesalahan apa yang bikin gue sama dia jadi sangat jauh. Sampe sekarang, gue ga tau alasan dia ‘pergi’.” kata gue.
“Hmm... Ga pernah jadian?” tanya dia lagi.
“Ga pernah, well, sejujurnya, dulu gue ga tau kenapa, tapi sekarang gue sadar, she’s never looked at me the way I looked at her, gue rasa itu ga akan berubah, dan gue rasa itu menjawab semua pertanyaan yang ada di kepala gue. she’ll never look at me the way I look at her.” gue senyum sambil ngeliat ke arah dia.

 Ada hening sejenak, dia cuma ngeliatin gue.

“Yoo...” kata dia pelan.
“Apaa, hahahahaha.” jawab gue.
I’m so sorry, dalem banget ya buat lo?” kata dia lagi.
“Hahahaha begitulah, mereka berdua membuat gue tenggelam di dua perasaan berbeda yang sama dalemnya, mantan gue mengajarkan rasa sakitnya perpisahan, first love gue mengajarkan apa itu cinta bertepuk sebelah tangan, dan susahnya melupakan. But hey, a real first love selalu punya tempat spesial kan buat kita?” kata gue yang dia jawab dengan anggukan.
“Gue belum pernah sedalem itu...” kata dia.
“Ntar juga lo nemu kok, yah, sori-sori, jadi sendu gini, eh, lagu kesukaan gue nih, Untouchable!” kata gue saat intro lagu Untouchable mulai mengalun.

“Yoo... Sekarang lo gimana?” kata dia pelan.
“Sekarang? Muuuuch better, kan ada elo di sini.” jawab gue jujur.
“Iih... gombal terus...” kata dia merajuk.
“Hahahahaha.” gue tertawa. Tertawa karena kejujuran gue hanya dikira gombal...

Ga lama, kami berdua sampe di tempat gue mau hunting foto, daerah Warung Langit. Gelap, karena emang udah lewat tengah malem.

“Udah sampe nih.” kata gue sambil memarkirkan mobil.
“Oh di sini? Ih gelap banget Yo.” kata dia sambil melepas seat belt.
“Iya, gimana? Mau balik aja?” kata gue menawarkan.
“Ih ngga lah, gue cuma bilang aja, yuk.” kata dia sambil membuka pintu mobil.
    
Gue turun dari mobil, mengambil tas kamera di kursi belakang, gue liat dia kedinginan, ya bajunya gitu, gue pun berinisiatif memberikan jaket gue ke dia, asli bukan modus, karena gue juga belum merasa kedinginan, dia lebih butuh.

“Nih, pake aja, lumayan tangan lo jadi ga begitu dingin.” kata gue sambil memberikan jaket gue ke dia.
“Elo gimana?” kata dia.
“Yah, segini mah masih biasa, dulu gue SD berangkat sekolah lebih dingin dari ini hehe. Tuh, liat lampu-lampu kota Bandung.” kata gue sambil mengeluarkan kamera.
“Iya Yo, bagus ya ternyata dari atas sini.” kata dia sambil memakai jaket gue. “Ternyata kita tu kecil ya Yo, dunia ini gede banget. Kita emang ga pantes sombong.” kata dia lagi.
    
Gue ngeliat dia, lama. Gue pernah ngomong hal yang sama dulu, persis. Gue ngerasa dejavu. Tuhan, apakah ini takdir? Hahahaha yakali.

Gue mulai ambil beberapa foto, gue lebih banyak ngambil foto long exposureshutter speed lambat, biar ada efek di city light-nya. Sekitar 15 menitan, gue liat Alana udah meluk-meluk badannya sendiri, ya emang tambah dingin sih disini.

“Udah yuk.” kata gue sambil ngajak dia jalan ke mobil.
“Eh, kok udahan?” kata dia mengikuti gue di belakang.
“Nih, mau liat-liat ga?” kata gue memberikan kamera ke dia.
“Mauuu.” jawab dia.
    
Kami duduk di mobil, dia ngeliat hasil foto gue, gue ngeliatin wajahnya. Indah.

“Bagus-bagus, Yo! Lo suka foto-foto ya?” kata dia sambil terus melihat hasil foto gue.
“Yah lumayan, hobi, walaupun ga jago-jago banget.” jawab gue.
“Ihh ini bagus-baguus, ini juga ada hasil foto lo yang lain ya? Gue boleh liat?” kata dia yang gue jawab dengan anggukan.

 Dia liat semua hasil foto-foto gue yang ada di kamera itu, sesekali ber-“waah” ria, ah, gue ngerasa hangat.

“Yo, gue boleh ikut ga kalo lo mau hunting foto lagi?” kata dia setelah selesai melihat hasil foto gue.
“Boleh dong, tapi kalo lo ada tugas gambar atau lo mau gambar, gue juga boleh ikut ya?” kata gue.
Deal!” kata dia senyum sambil memberikan kamera ke gue.
“Yaudah, balik ya sekarang?” kata gue.
“Okeeey bosquu!” kata dia sambil mengacungkan jempol.

Di perjalanan pulang, gue setel lagu-lagu slow, dia yang keliatannya capek cuma diem di mobil sambil nusuk-nusuk lengan kiri gue pake jarinya.

“Yo...” kata dia tiba-tiba ngagetin gue.
“Yaps?” jawab gue.
“Hmm...” kata dia menggumam.
“Kenapaaa?” gue liatin dia.
“Itu...” dia nunduk.
“Kenapa sih Aaal.” kata gue gemes.

 Dia diem agak lama.

“Lapar...” kata dia pelan.

Krik

Gue diem, kaget lucu. Dia juga diem

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA, astaga gue kira apaaan Aaal.” gue tertawa lepas.
“Iih malah ketawa! Sebel aaah!” kata dia merajuk, memeluk lututnya, lalu menghadap ke jendela.
“Hahahahaha jangan ngambeek, iya kita cari makan yaa.” kata gue akhirnya.
“Iya... hehehe.” jawab dia. “Ini lagu-lagunya enak-enak, Yo, playlist elo?” tanya dia kemudian.
“Bukan, ini playlist-nya Spotify, Warm Fuzzy Feeling judul playlist-nya.” jawab gue.
“Enak-enak.” kata dia yang gue jawab dengan anggukan.

Kami menuruni Dago atas yang gelap-sepi-dingin malam itu, dia ga terlalu banyak gerak kaya pas berangkat, cuma senandung-senandung kecil ngikutin lagu. Selang dua lagu kemudian, gue liat dia malah ketiduran. 

Gue liat dia, jari-jari mungilnya, rambut hitam-kecoklatannya, hembusan pelan nafasnya. Gue bergumam pelan. 

Hey Al, lo tau, kenapa gue suka lagu Untouchable itu? Karena lagu itu, ngingetin gue tentang elo.

     In the middle of the night
     When I'm in this dream
     It's like a million little stars
     Spelling out your name
     You gotta come on, come on
     Say that we'll be together
     Come on, come on    
     Little taste of Heaven

Gue mau selalu ceria, bareng elo. Gue mau mencerahkan hari-hari sendu-biru gue, bareng eloGue mau menutup luka lama gue, gue mau menutup lembaran kisah lama gue, gue mau melawan rasa takut gue dalam menjalin hubungan, gue mau mulai cerita baru dalam hidup gue, bareng elo.

 Gue mau bareng elo, Al.

 Gue mau selalu bareng elo.

 Alana.

 Gue mau elo.


    

    
     Klik disini untuk chapter berikutnya --> Gelato Paradise