Saturday, May 19, 2018

Aku, Bandung, dan Dia



Orang mungkin punya 1001 alasan untuk mencintai Jogja, tapi menurutku, kamu tidak perlu alasan apapun untuk mencintai Bandung dan isinya, kamu akan mencintainya begitu saja tepat ketika kamu menginjakkan kakimu di sini. Suasanya, tata kotanya, cuacanya, sampai jajanan-jajanan kecilnya. Seperti saat ini, bersama laki-laki di sebelahku, berbagi oksigen di ruangan sempit yang kita semua sepakat menyebutnya mobil, memutari kota Bandung di malam hari, dengan segala lampu-lampu jalannya, dan angin malam yang menerpa wajahku lembut. 


Aku tidak bisa ingat kapan terakhir aku sebahagia ini, setelah kebahagiaan dalam hidupku direnggut oleh laki-laki brengsek yang pernah aku cintai setengah mati, lima tahun yang lalu. Tapi, bersama laki-laki ini, kebahagiaanku kembali begitu saja, laki-laki yang selalu mendengarkan ceritaku, yang selalu menggunakan t-shirt hitamnya, yang selalu melontarkan lelucon ringannya, yang bisa membuat aku tertawa di saat obrolan pertama, yang sanggup membuatku hangat hanya dengan senyumannya.


Kamu mungkin tidak terlalu suka dengan laki-laki disampingku ini, dia tidak seperti laki-laki kebanyakan, dia tidak akan memulai sesuatu tanpa aku mulai sebelumnya. Aku ingat semua hal yang aku mulai untuk dia, obrolan pertama, iMessage pertama, genggaman tangan pertama, pelukan pertama, hingga ciumanku yang mendarat di pipi kirinya, yang membuat dia mematung lama, membuatku tidak tahan untuk tidak menciumnya lagi.


Kamu mungkin tidak suka dia, tapi aku suka.


Dan sungguh, bolehkah aku berharap bisa selalu seperti ini? 


Tuhan, bolehkan aku berharap?


Mungkin hanya dia, laki-laki yang bisa aku percaya, setelah aku membenci semua laki-laki di sekitarku karena trauma oleh perlakuan seseorang brengsek itu, ah, tidak perlu aku ceritakan, mengingatnya saja membuatku membenci diriku sendiri. Tapi laki-laki di sampingku ini berbeda, aku menyapanya di sebuah toko buku sekitar delapan bulan yang lalu, dia sedang berdiri tersenyum memegang sebuah novel karya penulis favoritku waktu itu, tempat yang sama ketika aku pertama kali melihatnya dua tahun sebelumnya. Dia tersenyum lebar, aku ingat setiap detil dari dia hari itu. Kacamatanya, t-shirt hitamnya, blue jeans dengan bercak noda di bagian lutut kirinya, dan sepatu Vans-nya yang seakan sengaja dibuat kotor.


Kamu tahu? Ketika kamu berada dalam satu titik terendah dalam hidupmu, kamu akan kehilangan rasa percaya pada siapa pun, bahkan apa pun. Aku telah merasakan itu, aku kehilangan rasa percayaku pada setiap orang di sekitarku, temanku, orang tuaku, bahkan aku tidak lagi percaya Tuhan. Untuk apa aku berdoa, untuk apa aku berusaha, untuk apa aku membuang semua tenaga dan uangku ketika takdir sudah menentukan semuanya. Aku marah, aku marah pada Tuhan ketika Dia mengambil Ayahku di ruang operasi yang dingin itu. Untuk apa aku membuang air mata berdoa pada Tuhan, ketika Ayahku sudah ditakdirkan untuk pergi sore itu? Aku marah, aku marah pada Tuhan, ketika takdirnya mempertemukan aku dengan laki-laki yang pergi begitu saja setelah membuat aku melakukan aborsi di usia 18 tahun, lima tahun lalu. 


Setiap hari, aku berharap bahwa tidurku ini akan menjadi tidur terakhirku, aku lelah, aku tidak ingin bangun lagi.


Tapi kamu tahu? Ketika kamu bertemu dengan seseorang yang tepat, semua rasa marahmu pada Tuhan akan berubah menjadi rasa syukur. 


“Al? Bengong gitu sih, isya dulu yuk, deket sini ada masjid gede bagus deh, dulu aku sering salat di situ.” suaranya memecah lamunanku.

“Yuk.” 

“Bawa mukena kan?” 

“Bawa dong, kan setiap jalan sama seorang Adityo Kristianto, aku harus selalu bawa mukena.” jawabku sambil tersenyum ke arahnya.

“Hehe, jangan cuma pas sama aku doang dong, Alana Travinska.” kali ini dia yang menatapku sambil tersenyum lebar.


Oh iya, perkenalkan, aku Alana Travinska. Kamu mungkin sudah mendengar tentang aku sebelumnya, tapi cerita dari dia hanya menceritakan kebaikanku saja, kebaikannya sendiri tidak pernah dia tunjukkan. Aku ingin kamu tau tentang dia, dari cara pandangku, dan aku harap kamu bisa menerima gaya berceritaku.


Tapi aku tidak akan bercerita di sini, karena ini bukan tempatku. 


"Al, ayo, ngelamun mulu."


Dan tidak sekarang, karena ini bukan waktuku.


"Alanaa."


Aku akan bercerita di tempat dan waktu yang tepat. Suatu saat.


"Iyaa, bawel deh."



Rangkulannya sudah melingkari pundakku. Sekarang, aku harus pergi.


"Yuk."


Sampai jumpa lagi.



--oo--


Click here for the beginning chapter --> Toko Buku



1 comment: