Orang mungkin punya 1001 alasan
untuk mencintai Jogja, tapi menurutku, kamu tidak perlu alasan apapun untuk
mencintai Bandung dan isinya, kamu akan mencintainya begitu saja tepat ketika
kamu menginjakkan kakimu di sini. Suasanya, tata kotanya, cuacanya, sampai
jajanan-jajanan kecilnya. Seperti saat ini, bersama laki-laki di sebelahku,
berbagi oksigen di ruangan sempit yang kita semua sepakat menyebutnya mobil,
memutari kota Bandung di malam hari, dengan segala lampu-lampu jalannya, dan
angin malam yang menerpa wajahku lembut.
Aku tidak bisa ingat kapan
terakhir aku sebahagia ini, setelah kebahagiaan dalam hidupku direnggut oleh
laki-laki brengsek yang pernah aku cintai setengah mati, lima tahun yang lalu.
Tapi, bersama laki-laki ini, kebahagiaanku kembali begitu saja, laki-laki yang
selalu mendengarkan ceritaku, yang selalu menggunakan t-shirt hitamnya,
yang selalu melontarkan lelucon ringannya, yang bisa membuat aku tertawa di
saat obrolan pertama, yang sanggup membuatku hangat hanya dengan senyumannya.
Kamu mungkin tidak terlalu suka
dengan laki-laki disampingku ini, dia tidak seperti laki-laki kebanyakan, dia
tidak akan memulai sesuatu tanpa aku mulai sebelumnya. Aku ingat semua hal yang
aku mulai untuk dia, obrolan pertama, iMessage pertama, genggaman tangan
pertama, pelukan pertama, hingga ciumanku yang mendarat di pipi kirinya, yang
membuat dia mematung lama, membuatku tidak tahan untuk tidak menciumnya lagi.
Kamu mungkin tidak suka dia, tapi
aku suka.
Dan sungguh, bolehkah aku
berharap bisa selalu seperti ini?
Tuhan, bolehkan aku berharap?
Mungkin hanya dia, laki-laki yang
bisa aku percaya, setelah aku membenci semua laki-laki di sekitarku karena
trauma oleh perlakuan seseorang brengsek itu, ah, tidak perlu aku ceritakan,
mengingatnya saja membuatku membenci diriku sendiri. Tapi laki-laki di
sampingku ini berbeda, aku menyapanya di sebuah toko buku sekitar delapan bulan
yang lalu, dia sedang berdiri tersenyum memegang sebuah novel karya penulis
favoritku waktu itu, tempat yang sama ketika aku pertama kali melihatnya dua
tahun sebelumnya. Dia tersenyum lebar, aku ingat setiap detil dari dia hari
itu. Kacamatanya, t-shirt hitamnya, blue jeans dengan bercak noda di bagian lutut kirinya, dan sepatu Vans-nya yang seakan sengaja dibuat
kotor.
Kamu tahu? Ketika kamu berada
dalam satu titik terendah dalam hidupmu, kamu akan kehilangan rasa percaya pada
siapa pun, bahkan apa pun. Aku telah merasakan itu, aku kehilangan rasa percayaku
pada setiap orang di sekitarku, temanku, orang tuaku, bahkan aku tidak lagi
percaya Tuhan. Untuk apa aku berdoa, untuk apa aku berusaha, untuk apa aku
membuang semua tenaga dan uangku ketika takdir sudah menentukan semuanya. Aku
marah, aku marah pada Tuhan ketika Dia mengambil Ayahku di ruang operasi yang
dingin itu. Untuk apa aku membuang air mata berdoa pada Tuhan, ketika Ayahku
sudah ditakdirkan untuk pergi sore itu? Aku marah, aku marah pada Tuhan, ketika
takdirnya mempertemukan aku dengan laki-laki yang pergi begitu saja setelah
membuat aku melakukan aborsi di usia 18 tahun, lima tahun lalu.
Setiap hari, aku berharap bahwa
tidurku ini akan menjadi tidur terakhirku, aku lelah, aku tidak ingin bangun
lagi.
Tapi kamu tahu? Ketika kamu
bertemu dengan seseorang yang tepat, semua rasa marahmu pada Tuhan akan berubah
menjadi rasa syukur.
“Al? Bengong gitu sih, isya dulu
yuk, deket sini ada masjid gede bagus deh, dulu aku sering salat di situ.”
suaranya memecah lamunanku.
“Yuk.”
“Bawa mukena kan?”
“Bawa dong, kan setiap jalan sama
seorang Adityo Kristianto, aku harus selalu bawa mukena.” jawabku sambil
tersenyum ke arahnya.
“Hehe, jangan cuma pas sama aku
doang dong, Alana Travinska.” kali ini dia yang menatapku sambil tersenyum
lebar.
Oh iya, perkenalkan, aku Alana
Travinska. Kamu mungkin sudah mendengar tentang aku sebelumnya, tapi cerita dari dia hanya menceritakan kebaikanku saja, kebaikannya sendiri tidak pernah
dia tunjukkan. Aku ingin kamu tau tentang dia, dari cara pandangku, dan aku
harap kamu bisa menerima gaya berceritaku.
Tapi aku tidak akan bercerita
di sini, karena ini bukan tempatku.
"Al, ayo, ngelamun mulu."
Dan tidak sekarang, karena ini
bukan waktuku.
"Alanaa."
Aku akan bercerita di tempat dan
waktu yang tepat. Suatu saat.
"Iyaa, bawel deh."
Rangkulannya sudah melingkari
pundakku. Sekarang, aku harus pergi.
"Yuk."
Sampai jumpa lagi.
GILA, KEREN BANGET!!!
ReplyDelete