Sunday, April 29, 2018

Teman Baik?


Halooo semuaaanyaa!!

Wah udah lama banget ya ga ketemu, setelah berbulan-bulan blog gue diambil alih sama diri gue yang lain, akhirnya gue kembali!

Jadi, apa kabar kalian? Sehat?
Masih suka ngupil pake jempol? 
Masih doyan liatin update-an mantan sama pacar barunya?
Masih diem-diem screenshot Insta Story gebetan? 
Masih sabar ditinggal maen sama pacar?
Masih toleransi sama pacar yang suka ngomong kasar?
Masih ngasih maaf sama pacar yang doyan selingkuh?
Hah??
Masih??
Kereen.

Malem ini, ditemenin sama susu kental manis dan semangkuk kebahagiaan semu, ayo kita mulai!

----------------------

Kali ini, tentu gue tetep akan ngomongin topik yang sangat dekat dengan kita, usia-usia dewasa awal di mana kita erat dengan masalah cinta, mencari dan menemukan pasangan hidup, #uhuk. Hei, itu bukan omongan gue, itu omongan Robert Havighurst. Hah, lo gatau siapa itu Havighurst? Seriously bro

Banyak orang ngomongin tentang cinta, tapi setiap ditanya, “Apa itu cinta?” mereka cuma bisa diam.

Pfft, tipikal. 

Gue ga mau ngoceh ngajarin kalian apa itu cinta, silakan cari sendiri biar kalian ga males baca. Baca di sumber terpercaya, dari jurnal atau buku, lebih bagus yang internasional. Minimal tiga, jangan lupa daftar pustaka sama bawa bukti fisiknya! Sori, bawaan aslab. 

Cinta itu banyak bentuknya, cinta orang tua pada anaknya, cinta seorang guru pada murid-muridnya, hingga cinta antar sepasang kekasih. Setiap dari kita tentu punya hak yang sama untuk mencintai dan dicintai. Entah bagaimana bentuknya, ada yang senang mencintai dalam diam, ada yang tetap mencintai walau disakiti, bahkan ada yang hobinya mencintai mereka yang sudah memiliki pasangan, pffftt. Ya walaupun, tidak setiap rasa cinta kita bisa terbalaskan. Untuk itulah, ada yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. 

Oh iya, ngomongin cinta antar kekasih, Sternberg punya teori yang menurut gue luar biasa bener tentang cinta. Kata Sternberg, cinta itu terdiri dari tiga aspek, yaitu keintiman, komitmen, dan gairah. Oke, pikiran lo jangan kotor dulu. Keintiman di sini adalah kedekatan emosional antar dua individu dalam hubungan tersebut, sementara gairah adalah perasaan romantis antar pasangan, dan komitmen, ya lo tau lah pasti. Ketiga aspek ini harus punya keseimbangan, lo ga bisa hanya mikirin gairah sama keintiman lo, tanpa mikirin komitmen, dan begitu juga di aspek lainnya. Semua harus seimbang agar hubungan yang dijalin bisa dalam kondisi yang baik. Ya kecuali kalo emang lo cuma having fun aja, ga serius. 

Btw kayanya gue udah mulai ga sober malem-malem gini gue bisa inget teori Sternberg. 

Nah, kenapa banyak cerita cinta yang gagal? Coba deh kita cerna lagi hubungan kita sama pacar, oh sori, hubungan elo maksudnya, gue kan jomlo. Hubungan lo sama pacar lo gimana? Apa tiga aspek tadi seimbang atau engga, kalo engga, ya bukannya harus putus, tapi kan bisa diperbaiki. Gunanya tau teori ini adalah, lo bisa tau kira-kira di aspek mana yang kurang dalam hubungan lo. Coba deh lo baca-baca teori lengkapnya, menyenangkan kok, ga sulit untuk dipahami. Udah umur segini, udahan lah maen-maennya, udah waktunya serius sama pasangan, jangan dikit-dikit putus. Duh, jadi pengen punya pacar. Skip.

Oke, setelah ngomongin cinta, gue mau bahas tentang proses jatuh cinta, yang juga punya banyak bentuk, ada jatuh cinta tiba-tiba, ada jatuh cinta yang memang dipupuk dari nol, dan buat gue, ada salah satu jatuh cinta yang seharusnya tidak pernah terjadi, yaitu jatuh cinta pada sahabat sendiri.

Dan sekarang, gue akan fokus pada hal itu.

Mari kita berkaca pada satu cerita, ini dari teman gue, siapa ya namanya, sebentar, gue sedang memikirkan nama samarannya. Oke, nama teman gue ini Vio.

Heh, ini temen gue ya, bukan gue, emang namanya aja mirip. Oke. Next.
 
Dia ini perempuan cantik luar biasa, (makanya gue ga jatuh cinta sama dia, gue hanya jatuh cinta pada perempuan yang lucu, imut, gemesin, dan besar, emm hatinya.) Vio ini punya sahabat baik, cowo, yang udah bersama selama tujuh tahun. Mereka deket banget, udah kenal sama keluarga satu sama lain, Vio juga suka cerita tentang masalah percintaannya ke sahabatnya itu (selama mereka sahabatan, Vio ganti pacar tiga kali, sementara sahabatnya setia menjomlo) dan selama itu juga tidak ada perasaan lebih yang terjalin di antara mereka berdua. Ya, itu kata Vio, gue dengerin cerita dia sambil manggut-manggut benerin bulu mata. Sedikit banyak memang benar, tapi dia tidak tau kalo ternyata, sahabatnya itu memiliki rasa yang dia simpan sendiri selama dua tahun terakhir. Banyak yang bilang kalo emang pertemanan atau persahabatan itu tidak bisa terjadi di antara laki-laki dan perempuan. Gue gatau sih, karena alhamdulilah selama ini gue tidak pernah jatuh cinta pada sahabat gue sendiri. 
 
Shit. Oke, pernah. Iya, gue pernah jatuh cinta sama sahabat gue sendiri. Sekali, dan itu cerita lama, biarlah tenggelam saja di palung Mindanao.

Nah, karena akhirnya Vio tau kalo sahabatnya itu punya rasa, dia bingung, saling diam, sampe sahabatnya Vio itu memilih untuk menjauh, daripada harus selalu ada di bayang-bayang Vio. Hubungan mereka jadi canggung, dan tidak seperti dulu lagi. Seperti yang pernah gue bilang di postingan sebelumnya, ketika satu orang telah memilih untuk pergi, meski dia kembali, rasanya tidak akan sama lagi. Dan itu yang terjadi antara Vio dan sahabatnya. Bayangin, lo kehilangan sahabat baik lo yang udah nemenin ke mana-mana selama tujuh tahun terakhir hanya karena sahabat lo tidak bisa menahan rasa cintanya buat elo. Itu sakit. 

Itu hanya salah satu, tapi dari setiap kasus —anjaas, kasus— yang gue lihat, kisah cinta pada sahabat sendiri ini tidak pernah berakhir indah. Kebanyakan selalu punya ending yang sama, yaitu salah satunya memilih menjauh. Gue ga bilang semua ya, gue bilang kebanyakan. Kenapa seperti itu? Karena kebanyakan dari kita selalu tidak siap dan tidak pernah berpikir akan menjalin hubungan percintaan dengan sahabat sendiri. Kita tidak bisa menerima ketika ternyata pernyataan cinta itu lahir dari mulut sahabat kita sendiri, dan akhirnya kita mulai mempertanyakan, “Kenapa? Kenapa harus elo?”

Well, siapa sih yang bisa mengatur kapan cinta datang dan pada siapa kita jatuh cinta?

Dan pada akhirnya, semua bisa terbaca. Akan ada satu pihak yang memilih untuk pergi, ditinggalkan atau meninggalkan. Gue bahas ini, karena gue melihat Vio cukup 'terpukul' karena kejadian itu. Kehilangan sahabat yang selalu menemani ke mana-mana, tau aib-aib kita, tau kelemahan kita, yang paling paham sama jalan pikir kita, kehilangan orang seperti itu tu berat, dan menemukan orang yang bisa klop lagi juga bukan mudah. Dan ditinggal seperti itu tu rasanya hampa, linglung, dan sakit di saat yang bersamaan. Sama rasanya seperti ketika lo gagal SNMPTN, terus SBMPTN juga gagal, terus akhirnya lo sedih, terus lo nyebrang jalan dan ketabrak truk semen tapi ga mati. Kebayang kan? Sip.
 
Gue inget, ada temen gue pernah bilang ke gue, “Yo, gue kasih tau nih ya, jatuh cinta sama sahabat sendiri tu sama kaya lo ke McD terus pesen nasi rendang, ga mungkin bisa. Jadi, kalo lo jatuh cinta sama sahabat lo, itu mungkin emang niat awal lo aja, niat awal lo deket sama dia tu mau sahabatan atau emang mau pacaran?” Gue serius denger ceramah dia waktu itu, dan selang dua minggu kemudian, dia jadian sama sahabatnya sendiri. Pengen gue tampol pake sambel botol rasanya. 

Terlepas dari itu semua, jatuh cinta sama sahabat sendiri memang hal yang cukup rumit. Tentu ada hal positif dan negatif yang akan terjadi, positifnya, kalian berdua tau seluk beluk masing-masing, tau aib masing-masing, dan udah nyaman satu sama lain. Taaapi, itu kalo kalian berdua punya rasa yang sama. Kalo engga? Ya sisi negatifnya kaya temen gue tadi, si Vio, canggung paraaah. Persahabatan ancur. Hubungan putus. Sahabat ilang. Kurang apa lagi? Tentu ga ada yang salah sama peraaaan yang tiba-tiba muncul, tapi mungkin kalian harus memahami dan bener-bener berpikir, apa yang mau dikorbanin, perasaan atau persahabatan?
 
Sekali lagi, katanya, sahabatan tu ga mungkin antar laki-laki dan perempuan, kalo lo ga ngerasa punya perasaan lebih buat sahabat lo, mungkin sahabat lo yang punya perasaan lebih buat elo. Who knows? Coba lo liat lagi sahabat lo, lo bayangin, kalo dia tiba-tiba ngungkapin perasaan cintanya ke elo, lo bakal ngapain? Lo bakal gimana? Apa lo siap? 


Jadi, menurut lo, kalo jatuh cinta sama sahabat sendiri, mending lanjutin atau udahin?




1 comment: