Halooo semuaaanyaa!!
Wah udah lama banget ya
ga ketemu, setelah berbulan-bulan blog gue diambil alih sama diri gue yang
lain, akhirnya gue kembali!
Jadi, apa kabar kalian?
Sehat?
Masih suka ngupil pake
jempol?
Masih doyan liatin update-an
mantan sama pacar barunya?
Masih diem-diem screenshot
Insta Story gebetan?
Masih sabar ditinggal
maen sama pacar?
Masih toleransi sama
pacar yang suka ngomong kasar?
Masih ngasih maaf sama
pacar yang doyan selingkuh?
Hah??
Masih??
Kereen.
Malem ini, ditemenin
sama susu kental manis dan semangkuk kebahagiaan semu, ayo kita mulai!
----------------------
Kali ini, tentu gue
tetep akan ngomongin topik yang sangat dekat dengan kita, usia-usia dewasa awal
di mana kita erat dengan masalah cinta, mencari dan menemukan pasangan hidup,
#uhuk. Hei, itu bukan omongan gue, itu omongan Robert Havighurst. Hah, lo
gatau siapa itu Havighurst? Seriously bro?
Banyak orang ngomongin
tentang cinta, tapi setiap ditanya, “Apa itu cinta?” mereka cuma bisa diam.
Pfft, tipikal.
Gue ga mau ngoceh
ngajarin kalian apa itu cinta, silakan cari sendiri biar kalian ga males baca. Baca di sumber terpercaya, dari jurnal atau buku, lebih bagus yang
internasional. Minimal tiga, jangan lupa daftar pustaka sama bawa bukti
fisiknya! Sori, bawaan aslab.
Cinta itu banyak
bentuknya, cinta orang tua pada anaknya, cinta seorang guru pada
murid-muridnya, hingga cinta antar sepasang kekasih. Setiap dari kita tentu
punya hak yang sama untuk mencintai dan dicintai. Entah bagaimana bentuknya, ada
yang senang mencintai dalam diam, ada yang tetap mencintai walau disakiti,
bahkan ada yang hobinya mencintai mereka yang sudah memiliki pasangan, pffftt.
Ya walaupun, tidak setiap rasa cinta kita bisa terbalaskan. Untuk itulah, ada
yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan.
Oh iya, ngomongin cinta
antar kekasih, Sternberg punya teori yang menurut gue luar biasa bener tentang
cinta. Kata Sternberg, cinta itu terdiri dari tiga aspek, yaitu keintiman,
komitmen, dan gairah. Oke, pikiran lo jangan kotor dulu. Keintiman di sini
adalah kedekatan emosional antar dua individu dalam hubungan tersebut,
sementara gairah adalah perasaan romantis antar pasangan, dan komitmen, ya lo
tau lah pasti. Ketiga aspek ini harus punya keseimbangan, lo ga bisa hanya
mikirin gairah sama keintiman lo, tanpa mikirin komitmen, dan begitu juga di
aspek lainnya. Semua harus seimbang agar hubungan yang dijalin bisa dalam
kondisi yang baik. Ya kecuali kalo emang lo cuma having
fun aja, ga serius.
Btw kayanya gue
udah mulai ga sober malem-malem
gini gue bisa inget teori Sternberg.
Nah, kenapa banyak
cerita cinta yang gagal? Coba deh kita cerna lagi hubungan kita sama pacar, oh
sori, hubungan elo maksudnya, gue kan jomlo. Hubungan lo sama pacar lo gimana?
Apa tiga aspek tadi seimbang atau engga, kalo engga, ya bukannya harus putus,
tapi kan bisa diperbaiki. Gunanya tau teori ini adalah, lo bisa tau kira-kira
di aspek mana yang kurang dalam hubungan lo. Coba deh lo baca-baca teori
lengkapnya, menyenangkan kok, ga sulit untuk dipahami. Udah umur segini, udahan
lah maen-maennya, udah waktunya serius sama pasangan, jangan dikit-dikit putus.
Duh, jadi pengen punya pacar. Skip.
Oke, setelah ngomongin
cinta, gue mau bahas tentang proses jatuh cinta, yang juga punya banyak bentuk,
ada jatuh cinta tiba-tiba, ada jatuh cinta yang memang dipupuk dari nol, dan
buat gue, ada salah satu jatuh cinta yang seharusnya tidak pernah terjadi,
yaitu jatuh cinta pada
sahabat sendiri.
Dan sekarang, gue akan
fokus pada hal itu.
Mari kita berkaca pada
satu cerita, ini dari teman gue, siapa ya namanya, sebentar, gue sedang
memikirkan nama samarannya. Oke, nama teman gue ini Vio.
Heh, ini temen gue ya,
bukan gue, emang namanya aja mirip. Oke. Next.
Dia ini perempuan cantik
luar biasa, (makanya gue ga jatuh cinta sama dia, gue hanya jatuh cinta pada
perempuan yang lucu, imut, gemesin, dan besar, emm hatinya.) Vio ini punya
sahabat baik, cowo, yang udah bersama selama tujuh tahun. Mereka deket banget,
udah kenal sama keluarga satu sama lain, Vio juga suka cerita tentang masalah
percintaannya ke sahabatnya itu (selama mereka sahabatan, Vio ganti pacar
tiga kali, sementara sahabatnya setia menjomlo) dan selama itu juga tidak ada
perasaan lebih yang terjalin di antara mereka berdua. Ya, itu kata Vio, gue
dengerin cerita dia sambil manggut-manggut benerin bulu mata. Sedikit banyak
memang benar, tapi dia tidak tau kalo ternyata, sahabatnya itu memiliki rasa
yang dia simpan sendiri selama dua tahun terakhir. Banyak yang bilang kalo emang
pertemanan atau persahabatan itu tidak bisa terjadi di antara laki-laki dan
perempuan. Gue gatau sih, karena alhamdulilah selama ini gue tidak pernah jatuh
cinta pada sahabat gue sendiri.
Shit. Oke, pernah. Iya, gue
pernah jatuh cinta sama sahabat gue sendiri. Sekali, dan itu cerita lama,
biarlah tenggelam saja di palung Mindanao.
Nah, karena akhirnya Vio
tau kalo sahabatnya itu punya rasa, dia bingung, saling diam, sampe sahabatnya
Vio itu memilih untuk menjauh, daripada harus selalu ada di bayang-bayang
Vio. Hubungan mereka jadi canggung, dan tidak seperti dulu lagi. Seperti
yang pernah gue bilang di postingan sebelumnya, ketika satu orang telah memilih
untuk pergi, meski dia kembali, rasanya tidak akan sama lagi. Dan itu yang
terjadi antara Vio dan sahabatnya. Bayangin, lo kehilangan sahabat baik lo yang
udah nemenin ke mana-mana selama tujuh tahun terakhir hanya karena sahabat lo
tidak bisa menahan rasa cintanya buat elo. Itu sakit.
Itu hanya salah satu,
tapi dari setiap kasus —anjaas, kasus— yang gue lihat, kisah cinta pada sahabat
sendiri ini tidak pernah berakhir indah. Kebanyakan selalu punya ending yang
sama, yaitu salah satunya memilih menjauh. Gue ga bilang semua ya, gue bilang
kebanyakan. Kenapa seperti itu? Karena kebanyakan dari kita selalu tidak siap
dan tidak pernah berpikir akan menjalin hubungan percintaan dengan sahabat
sendiri. Kita tidak bisa menerima ketika ternyata pernyataan cinta itu lahir
dari mulut sahabat kita sendiri, dan akhirnya kita mulai mempertanyakan,
“Kenapa? Kenapa harus elo?”
Well,
siapa sih yang bisa mengatur kapan cinta datang dan pada siapa kita jatuh
cinta?
Dan pada akhirnya, semua
bisa terbaca. Akan ada satu pihak yang memilih untuk pergi, ditinggalkan atau
meninggalkan. Gue bahas ini, karena gue melihat Vio cukup 'terpukul' karena
kejadian itu. Kehilangan sahabat yang selalu menemani ke mana-mana, tau aib-aib
kita, tau kelemahan kita, yang paling paham sama jalan pikir kita, kehilangan
orang seperti itu tu berat, dan menemukan orang yang bisa klop lagi juga bukan
mudah. Dan ditinggal seperti itu tu rasanya hampa, linglung, dan sakit di saat
yang bersamaan. Sama rasanya seperti ketika lo gagal SNMPTN, terus SBMPTN juga
gagal, terus akhirnya lo sedih, terus lo nyebrang jalan dan ketabrak truk semen
tapi ga mati. Kebayang kan? Sip.
Gue inget, ada temen gue
pernah bilang ke gue, “Yo, gue kasih tau nih ya, jatuh cinta sama sahabat sendiri
tu sama kaya lo ke McD terus pesen nasi rendang, ga mungkin bisa. Jadi, kalo lo
jatuh cinta sama sahabat lo, itu mungkin emang niat awal lo aja, niat
awal lo deket sama dia tu mau sahabatan atau emang mau pacaran?” Gue
serius denger ceramah dia waktu itu, dan selang dua minggu kemudian, dia jadian
sama sahabatnya sendiri. Pengen gue tampol pake sambel botol rasanya.
Terlepas dari itu semua,
jatuh cinta sama sahabat sendiri memang hal yang cukup rumit. Tentu ada hal
positif dan negatif yang akan terjadi, positifnya, kalian berdua tau seluk
beluk masing-masing, tau aib masing-masing, dan udah nyaman satu sama lain.
Taaapi, itu kalo kalian berdua punya rasa yang sama. Kalo engga? Ya sisi
negatifnya kaya temen gue tadi, si Vio, canggung paraaah. Persahabatan ancur.
Hubungan putus. Sahabat ilang. Kurang apa lagi? Tentu ga ada yang salah sama
peraaaan yang tiba-tiba muncul, tapi mungkin kalian harus memahami dan
bener-bener berpikir, apa yang mau dikorbanin, perasaan atau persahabatan?
Sekali lagi, katanya,
sahabatan tu ga mungkin antar laki-laki dan perempuan, kalo lo ga ngerasa punya
perasaan lebih buat sahabat lo, mungkin sahabat lo yang punya perasaan lebih
buat elo. Who knows? Coba lo liat lagi sahabat lo, lo bayangin, kalo dia
tiba-tiba ngungkapin perasaan cintanya ke elo, lo bakal ngapain? Lo bakal
gimana? Apa lo siap?
Jadi, menurut lo, kalo
jatuh cinta sama sahabat sendiri, mending lanjutin atau udahin?
goksss
ReplyDelete