Saturday, April 14, 2018

Hot Chocolate



Klik di sini kalo belum baca part sebelumnya --> Gelato Paradise

---------------------





“Biasa kan?” tanya Helen sambil meletakkan tasnya di sebelah gue.
“Iya El.” jawab gue pelan yang dia jawab dengan anggukan.

Oh terima kasih, entah kenapa hari ini sakit gue kambuh lagi, untung Helen juga lagi pas di kampus. Gue punya penyakit yang membuat gue bisa tiba-tiba sakit kepala luar biasa dan lemas luar biasa juga, yang bikin gue bener-bener ga bisa gerak. Gue abis bimbingan, dan tiba-tiba aja penyakit gue ini kambuh lagi. Gue langsung telepon Helen, nanyain dia di mana, dan pahlawan gue itu langsung keluar kelas, nyamperin gue kemudian nuntun gue ke mobilnya. 

Iya, kalo kalian liat cowo pake kaus-bomber-jeans-boots warna hitam, dan bawa map plastik bening lagi jalan dituntun sama cewe, kalian ga salah liat, itu gue. 

Helen udah sering bareng gue dan tau banget gue jarang bawa tas ke kampus, jadi, dulu gue minta tolong dia buat sedia Panadol merah dan satu bar cokelat di tasnya, untung dua barang itu ga keluar dari tasnya walaupun kami udah jarang ketemu. Gue sangat butuh Panadol untuk membunuh sakit kepala, dan cokelat manis yang bisa mengembalikkan gue dari lemas luar biasa ini. 

Setelah sampai di mobil Helen, gue makan cokelat dan minum Panadolnya, lalu gue tiduran di mobil Helen, sambil nunggu dia selesai kelas, hingga akhirnya di sini lah kami, Kopibar Margonda, gue yang terduduk lunglai dan Helen yang memesankan Hot Chocolate buat gue dan pasti Piccolo Latte buat dirinya sendiri. Oh iya, kalian ga salah baca, gue selalu pesan Hot Chocolate di kedai kopi mana pun, karena gue ga minum kopi, gue hanya penikmat aromanya saja.

“Gimana, udah mendingan?” Helen datang dari toilet bersamaan dengan datangnya minuman kami, gelas Hot Chocolate yang langsung gue genggam untuk menghangatkan tangan, coffee shop ini terlalu dingin buat gue yang sekarang.
“Lumayan, paling engga pusingnya udah ngurang.” gue menyeruput minuman gue. Sial, panas.
“Tumben kambuh lagi, kayanya udah lama lo ga kambuh?” tanya Helen.
“Ga tau, aneh gue juga.”
“Telat makan kali lo.”
“Biasanya juga gimana El.”
“Iya ya hehehe.” Helen terkekeh karena gue rasa semua juga tau kalo gue ga pernah makan di luar.

Kemudian gue menghabiskan hampir setengah jam mendengarkan Helen cerita, sambil pelan-pelan meminum hot chocolate gue, Helen emang paling bisa bikin gue nyaman lagi. Gue yang daritadi sandaran di pundaknya, merangkul lengannya, dia yang lalu melepas kacamata gue dan meletakkannya di meja, membiarkan gue terpejam sambil mendengar ceritanya. Ini siapa yang cowo siapa yang cewe sih sebenernya?

“Eh iya, Alana gimana Yo? Lo ga cerita lagi abis malem itu.” tanya Helen.

Gue tidak langsung menjawab.

Well, I’m fucked up.” jawab gue pelan.
“Loh? Kenapa?” tanya Helen lagi.

Kalian pernah ada dalam suatu keadaan diajak naik ke awan, terus pas udah sampe, kalian ditendang jatuh ke bawah? Nah itu. Sejak terakhir gue dan Alana jalan bareng di Gancit, dan dia cerita tentang pertemuan kami berdua, ga lama dari itu juga, entah kenapa dia menjadi tidak sehangat dulu. Gue gatau apa yang terjadi, dia jadi dingin ketika di chat, membalas seadanya. 

Gue ngerasa kaya semua yang udah kami lewatin berdua selama tujuh bulan 11 hari  berlalu begitu saja.

Iya, gue ngitungin, kenapa?


"Abis malem itu, dia kaya dingin gitu sih, El." jawab gue akhirnya
"Ko gitu? Lo abis ngapain emang?" 
"Gue ga ngapa-ngapain, gue sampe scroll chat gue ke atas, nginget-nginget perjalanan pulang dari rumahnya. Ga ada yang salah, semuanya normal, semuanya kaya bia..sa... Apa karena itu El?!" gue bangkit dari sandaran gue di pundaknya.

Helen menggumam pelan, mengangkat bahunya.

"Apa karena harusnya hari itu gue bikin movement?" Gue mengambil kacamata di meja, dan memakainya. "Apa harusnya malem itu gue... gue... Tapi gue malah ga ngapa-ngapain..." gue merasakan kerutan di dahi gue memikirkan kemungkinan itu.
"Well, dari cerita lo sih, emang paling engga malem itu harusnya lo ngomong apa kek." Helen mengangkat satu alisnya.
"Tapi... Waktu itu kan baru lima bulan El, apa ga kecepetan?"

Helen tersenyum.

"Menurut gue, masa pdkt tu ga ada patokan lama atau bentarnya sih. Itu kan situasional, tiap orang beda-beda, kalo keadaan udah mendukung ya kenapa engga, dan kadang momen kan ga dateng dua kali. Mungkin menurut dia, malem itu momennya. Lo tu selalu kelamaan, takut ngambil langkah, kaya dulu, pdkt dua tahun, ga jadi juga kan? Lama pdkt tu ga menjamin lo bakal sukses atau engga." kata Helen pelan, membuat gue merasa ditonjok pas di ulu hati.

Gue terdiam, mengulang kembali ingatan gue tentang malem itu. Alana yang menahan gue lama di depan rumahnya, wajahnya yang tiba-tiba lesu saat gue pamit pulang tanpa ngomong sesuatu yang penting, yang gue kira itu wajah lesunya karena capek jalan seharian. Alana yang malam itu minta di telepon saat gue ngabarin kalo gue udah sampe rumah, bukan sekedar membalas chat seperti biasa, yang kemudian 16 menit di telepon lebih banyak kami habiskan dengan diam, dan gue masih ga sadar sama 'kemauan' dia.

Gue mengutuk diri gue sendiri. Udah dua bulanan dari malam itu, sampe sekarang, Alana yang ga sehangat dulu tapi masih nanyain hari-hari gue, nanyain kegiatan gue, walaupun ketika gue tanya balik dia cuma jawab seadanya. Bodohnya gue.

Dan lamunan gue pecah saat Keyra dateng.

"Kenapa lagi ini si Cebol, El?" tanya Keyra ke Helen.
"Ga tau nih Ra, tiba-tiba dia kambuh lagi." jawab Helen.
"Jahat lo Key." gue menimpali sambil menggeser posisi duduk.
"Iya, emang gue temen lo yang jahat ini, yang abis lo telpon mau ngangkot dari apartemen, ke sini, terus nanti ngambil motor lo di kampus terus ntar gue parkirin di parkiran apartemen gue sebelom perkiran kampus lo ditutup." Keyra nyerocos.
"Hehehehehe, kalian ini terbaik emang hehehe." kata gue menatap Helen dan Keyra bergantian.

Keyra menarik kursi, lalu duduk di hadapan gue.

"Yaudah sini mana kunci motor lo?"
"Loh, ga di sini dulu?" tanya Helen.
"Engga ah, lagi nugas gue, deadline." jawab Keyra.
"Yah maap Key." kata gue merasa bersalah, sambil memberikan kunci motor gue.
"Apa sih ah, lebay lo. Di mana? Di G?" kata Keyra menanyakan lokasi motor gue sambil mengambil kunci motor dari tangan gue.
"Iya, di G." jawab gue.
"Ya udah, gue cabut ya." Keyra beranjak bangkit dari kursinya.
"Ati-ati Key, thank you." kata gue dan Helen hampir bersamaan.

Lalu Keyra berhenti sejenak.

"Lo gapapa kan gue tinggal?" tanya Keyra ke Helen.
"Iya, gue udah gapa–" jawab gue.
"Gue ga nanya elo, Cebol." potong Keyra.
Helen terkekeh, "Iya Ra, gapapa ko gue, lo lanjut aja."
"Oke." lalu Keyra mengarahkan pandangannya ke gue, "Ga usah sering kambuh lo, nyusahin aja, buruan sembuh, kasian Helen." kata Keyra sambil berlalu, seakan tidak membutuhkan jawaban gue. 
"Siaap komandan!" jawab gue, dan gue lihat Keyra tersenyum.

Setelah Keyra pergi, gue kembali larut dalam pikiran gue tantang Alana.

"Udah, mungkin bukan karena itu juga alasannya." Helen menyeruput minumannya pelan.
"Terus apa dong El? Mungkin dia bosen aja kali ya, sebenernya dua sampe tiga hari setelah malem itu tu dia masih ga terlalu dingin, tapi abis itu baru deh. Apa dia bosen sama gue yang gitu-gitu aja?" kata gue mencoba menerka-nerka lagi.
"Kenapa lo bisa mikir gitu?" tanya Helen.
"Ya lo kan tau gue... Gue separah itu ya El? Se-ngebosen-in itu?" kata gue.

Helen mengubah posisi duduknya yang sedari tadi menopang dagu dengan tangan kirinya.

"Yo, gue rasa Alana juga udah ngerti elo. Elo yang pasif, yang ga bisa mulai duluan, dan gue rasa, Alana bisa nge-cover kelemahan lo itu dengan baik. Dia bisa bertahan sama elo sampe segini lama, kalo dia emang ga tahan sama elo, dia pasti bakal ninggalin elo dari jauh-jauh hari. Ga akan masih rajin nge-chat elo." kata Helen pelan.

Saat itu handphone gue berbunyi, notifikasi iMessage. Dari Alana.

"Di mana? Udah pulang?" cuma itu isi pesannya.
See? Buat seorang Alana, ini dingin banget, bener-bener tidak hangat seperti Alana yang gue tau, tapi dia masih selalu chat gue seperti ini setiap hari, walaupun setelah menjawab pertanyaannya itu, chat gue tidak akan dibalas lagi.

"Alana nih, El." kata gue ke Helen.
"Tuh, baru diomongin, dia masih mau kan chat elo." jawab Helen.

Gue masih terdiam melihat notifikasi itu, belum gue balas.

"Coba, selama dua bulan ini lo ngapain aja? Lo udah ngajak dia ketemuan?" tanya Helen.

Gue menggeleng.

"Astaga, ga lo ajak jalan atau ketemuan sama sekali?" bisa gue liat tatapan heran Helen ke gue.
"Abis... Biasanya kan dia yang ngajak, jadi karena selama ini dia ga ngajak, gue kira dia sibuk jadi ga bisa jalan..." jawab gue pelan.
Helen menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gue semakin yakin lo tu sebenernya emang bukan cowo."
"Terus gimana dong, gue ajak ketemu nih?" tanya gue.
"Ya iyalah Adityo Kristianto, lo tuh ya, udah kaya kucing dikasih ikan asin, tapi bukannya dimakan malah diliatin aja. Dulu kan lo bisa ngajak ketemuan cewe lo tiap hari, masa sekarang ga bisa?" kata Helen sebal.
"Emang kucing makan ikan asin, El?" kata gue ngaco.
"JANGAN NGALIHIN PEMBICARAAN!" gue rasa Helen mau ngebakar gue idup-idup.
"I... Iya... Ya kan itu dulu udah jadi cewe gue, ini kan belom, takut lah gue." gue membela diri. 
"Yaudah yaudah iya, udah deh, sekarang lo mending ajak dia ketemuan aja kapan kek."
"Iya."

Gue membalas iMessage Alana, bilang kalo gue lagi sama Helen, lalu mengajaknya ketemuan. Tidak sampai satu menit, ada balasan dari dia, "Tumben belum pulang?" cuma itu jawaban dia. Gue jelasin di chat tentang penyakit gue yang kambuh, and you know what? Dia telepon gue.

"El..." kata gue ke Helen sambil menunjukkan layar handphone gue yang menunjukkan ada telepon masuk dari Alana.
"Angkat lah." Helen lalu mengambil earphone  dan mulai memutar lagu di handphone-nya.

Gue angkat telepon Alana dengan gemetaran, dalam dua bulan, ini pertama kalinya lagi gue akan mendengar suaranya.

"Ha... Halo..." 
"Kamu kenapa?" tanya Alana singkat, suaranya datar, kaya jalan tol baru jadi.

Eh, wait, gue ga inget kalo gue dan Alana udah pindah ke fase aku-kamu.

"Ngg, itu, ini, penyakit lama, emang suka kambuh." jawab gue akhirnya.
"Sakit apa? Kamu ga pernah cerita." kata Alana masih dengan suara datarnya. Gue udah diem gemeter megang handphone.

Lalu gue jelaskan panjang lebar tentang penyakit gue ini, Alana diam, mendengarkan penjelasan gue.

"Halo?" kata gue karena gue tidak mendengar suara Alana.
"Iya, lanjut aja." jawab dia.
"Iya gitu, sekarang masih di sini sama Helen, motor tadi udah diambil Keyra, diparkir di apartemennya." kata gue lagi.
"Kenapa baru cerita? Terus kalo kambuhnya pas lagi sama aku gimana? Aku kan ga sedia Panadol sama cokelat di tas. Kamu mau aku panik lari-lari ke minimarket? Terus kalo lagi di tempat yang ga ada minimarket kaya waktu itu gimana?" jeleger. Gue berasa disamber petir tepat di ubun-ubun kepala gue denger rentetan pertanyannya.

Gue bingung mau jawab apa, asli gue gelagapan. Gue ga bermaksud ngerahasiain apa-apa ke dia, bukan maksud ga cerita juga, tapi emang udah lama gue ga kambuh, jadi gue rasa ga perlu cerita ke dia.

"Iya kan udah lama ga kambuh, jadi ga kepikiran juga mau cerita..." jawab gue akhirnya.

Hening, tidak ada jawaban. Gue melihat layar handphone, melihat kalo-kalo teleponnya udah mati.

"Halo? Al?"
"Iya." 
"Maaf..." kata gue sambil menggaruk-garuk kepala.

Alana tidak langsung manjawab.

"Yaudah." jawab Alana akhirnya.

Gue yang bingung mau ngomong apa akhirnya inget mau ngajak dia ketemuan.

"Eh Al."
"Apa?"
"Itu... Emm... Main yuk, udah lama engga." astaga Tuhan, tolol banget emang gue, itu ngajak ketemuan macam apa? 
"Eh, maksudnya ketemuan, udah lama ga ketemu." ralat gue.
"Iya gampang lah. Yaudah ya, cepet sembuh. Salam buat Helen." lalu telepon ditutup. Meninggalkan gue yang melongo dengan bodohnya.

Gue meletakkan handphone di meja, dan tertawa tolol, menertawai kebodohan gue yang terlalu akut.

"Gimana?" tanya Helen sambil melepas earphone dari telinganya.
"Ha ha ha, Helen, selamat, temen lo ini harus dapet penghargaan pemeran pria tolol terbaik taun ini." jawab gue tetap dengan mata yang menerawang.
"Hah? Apa sih? Kenapa?" tanya Helen lagi.

Lalu gue ceritakan apa yang terjadi di telepon, dan Helen sukses menarik semua perhatian orang di coffee shop ini karena suara tawanya.

"Hahahahahaha, asli deh gue ga ngerti apa isi kepala lo itu." Helen masih setengah mati berusaha menahan tawanya.

Gue diam, meratapi kebodohan gue sendiri.

"Tapi dia masih peduli kan sama elo." Helen menyeka air mata tawa yang muncul di mata kanannya.

"Ya iya sih..." gue mengaduk-aduk sisa Hot Chocolate gue yang tidak lagi panas kemudian meminumnya. Manis, lalu pahit di akhirnya.

Gue rasa kalian juga tau, minuman cokelat akan selalu seperti itu, kan? Ketika kalian memesan cokelat panas, akan lebih enak jika diminum sebelum dingin. Karena ketika cokelat itu tidak lagi panas, akan ada rasa pahit yang tertinggal di sisa tegukan terakhir kalian. Dulu gue selalu menunggu hingga cokelat panas gue menjadi dingin, lalu gue sadar, ketika dingin, rasa pahitnya akan muncul.

Mungkin seperti itu juga yang terjadi sekarang. Gue terlalu lama menunggu, hingga akhirnya Alana yang 'hangat' menjadi 'dingin' ke gue. Alana yang 'manis' menjadi 'pahit' gue rasakan. Walau tidak sepenuhnya pahit, gue tetap merasakan manisnya, ketika dia tetap chat gue setiap hari. Tidak sepenuhnya dingin, gue tetap merasakan hangatnya, ketika mendengar suaranya yang mengkhawatirkan gue. 

Dia masih ada.

Mungkin, 'Hot Chocolate' gue tidak sehangat dulu, tidak semanis dulu. Tapi tetap akan gue nikmati dingin dan pahitnya. Karena, dia ada buat gue.

"Yo, lo tu harus bisa pertahanin Alana," Helen menenggak sisa minumannya. "Dia udah terlalu bagus buat elo. Sayang kalo sampe dia hilang. Liat deh elo, muka lo biasa aja, tinggi juga engga, dompet tipis, dan Alana masih ada buat elo. Lo harus banyak bersyukur sama Tuhan." kata Helen melanjutkan.
"Iya El. Gue juga sadar, kayanya emang santet gue ke Alana berhasil."
"Kampret hahahahaha." Helen tertawa.

Hening sejenak, gue masih bengong dengan pandangan yang menerawang entah ke mana.

"Balik yuk." ajak gue akhirnya.
"Yuk. Gue anterin sampe rumah ya." Helen menawarkan.
"Ga usah, sampe apartemen Keyra aja. Sekalian ambil motor." 
"Emang lo udah kuat bawa motor?"
"Udah, nanti gue istirahat dulu aja di tempat Keyra."
"Ya udah."

Di dalam mobil, gue lebih banyak diam, mendengarkan lagu-lagu dari Brava Radio ditambah kemacetan jalan Margonda dan cahaya lampu di malam hari membuat gue kembali tenggelam dalam pikiran gue tentang Alana. Tidak banyak wanita yang bisa menerima ke-pasif-an gue, tidak banyak wanita yang bisa menerima kebodohan gue, dan tidak banyak wanita yang bisa menerima kelemahan gue, tapi dia bisa menerima gue. Gue beruntung. Terlalu beruntung.

"Di sini aja El, biar gue nyebrang." kata gue setelah mobil mendekati JPO Margo City.
"Okey." Helen meminggirkan mobilnya, lalu mencubit pipi kanan gue pelan. "Jangan kambuh lagi lah, untung ada gue tadi, kalo engga gimana? Bawa tas, ya?" kata Helen dengan nada khawatir.
"Iya, Mami. Thank you ya," gue memeluk Helen erat, lalu beranjak keluar.
"Ati-ati nyebrangnyaa." Helen melambai ke arah gue yang mulai berjalan menuju JPO.

Di keramaian JPO ini, segala hiruk-pikuknya membuat gue memperhatikan semuanya. Mereka yang berjualan, mereka yang mengharapkan sepeser rupiah, mereka yang jalan terburu-buru, mereka yang tertawa dengan temannya, dan bahkan mereka yang hanya diam melihat ke arah jalan. Lalu gue pun tenggelam dalam pikiran gue sendiri. Setiap dari kita tentu punya persoalan masing-masing, gue dikelilingi oleh perempuan-perempuan hebat di sekitar gue, dengan persoalan percintaan mereka masing-masing. Keyra yang sengaja menyibukkan diri agar bisa melupakan Naren. Helen yang mulai luluh pada adik tingkat (dia paling anti sama laki-laki yang lebih muda dari dia) dan gue dengan persoalan gue sendiri.

Sekarang, gue harus 'berjuang' untuk mendapatkan Hot Chocolate gue lagi.

Gue merasakan handphone gue bergetar, gue lihat ada notifikasi iMessage dari Alana.

"Ayo ketemu." isi pesannya.

Gue tersenyum, cukup dua kata itu saja sudah bisa membuat jantung gue berdegup luar biasa kencang, dan cukup dua kata itu saja sudah bisa membuat gue tidak bisa berhenti tersenyum lebar.

Gue mencari nama Alana di recent call, tanpa keraguan gue telepon dia.

Hanya perlu dua nada panggil, Alana mengangkat telepon gue.

"Hei." ucap gue ringan.
"Hei..." suaranya tidak lagi datar, suaranya lemah, tidak lagi dingin.
"Hehe."
"Yo..." kata Alana menggantung.
"Iya?" jawab gue lembut.
"Kangen..." suranya lirih, gue bisa mendengar dia sedikit terisak, kerongkongan gue seperti tercekat mendengar isakannya.

Gue terdiam sejenak, tidak gue sadari sudah berapa lama gue berdiri mematung di depan Maxx Coffee.

"Kita ketemu ya." kata gue akhirnya.
"He'em..." jawab dia yang gue bisa bayangkan dia mengangguk menjawab pernyataan gue.

Ada hening beberapa saat, lalu gue kembali bicara.

"Hey, I think I lost something.
"Apa?"
"The sweetest smile of yours."
"Hmm..." Alana hanya menggumam pelan.
"Can you find it for me?"
"I know where it is...
"You do? So where's the smile?"
"Here..." jawab Alana pelan.
"Where's the smile?" ulang gue.
"Here..." jawab Alana lebih kuat.
"Hehe, udah senyum?"
"Udah..."
"We'll meet soon, ya." gue tersenyum, karena gue tau, dia juga tersenyum.
"Iya."

Lalu gue menutup telepon, gue masukkan handphone ke dalam saku, dan kembali berjalan.




Perjuangan gue memang baru akan dimulai.




Tapi gue rasa, untuk sekarang, ini selesai.




Iya, selesai.




-oo-

0 comments:

Post a Comment