Link buat baca part sebelumnya ---> Warung Langit
---------------------------------------------------
Buat gue, buku bukan hanya sekedar untuk dibaca, semakin majunya teknologi,
semakin banyak fasilitas yang memudahkan kita untuk membaca. Sekarang, membaca
berita ataupun karya fiksi bisa dilakukan dengan mudah melalui smartphone.
Tapi ada kepuasan tersendiri ketika buku-buku yang gue baca berjejer rapi di
rak buku. Gue menikmati aroma kertas dari buku-buku lama yang bahkan warnanya
sudah berubah, menenangkan.
Gue dibesarkan dengan karya fiksi di sekitar gue, seri-seri dari
Enid Blyton peninggalan masa kecil nyokap yang membuat gue jatuh cinta dengan
dunia fiksi. Semakin dewasa, gue ‘berkenalan’ dengan penulis-penulis lain
dengan karyanya masing-masing yang membuat gue jatuh cinta dengan cara mereka
sendiri. Setiap penulis punya ciri khas, entah itu dalam membuka cerita, cara
mereka menyampaikan pesan, membuat konflik, bahkan dari cara mereka mengakhiri
sebuah cerita, mereka punya cirinya masing-masing. Gue menikmati rangkaian huruf yang mereka hasilkan menjadi rangkaian kata, gue menimati rangkaian kata yang
mereka hasilkan menjadi sebuah cerita, gue menikmati semuanya.
“Serius banget, Mas, bacanya, sampe yang di sini dicuekin.” suara Kak Kila mengagetkan gue.
“Loh, kalian udah balik? Cepet amat.” kata gue sambil memberi
pembatas pada halaman novel yang gue baca.
“Lamaa kalee, lo aja yang tenggelam sama dunia lo sendiri.” balas
Kak Kila.
“Hehe, maap-maap. Ya udah, gue nyari makan juga deh.” kata gue
sambil beranjak.
Gue lagi jalan sama Alana dan kakak sepupunya, Kak Kila. Ya, as you know kalo
gue dan Alana ga begitu suka ke PIM, tapi karena Kak Kila minta ditemenin ke
Linea, yang adanya di PIM, jadinya kami ‘terjebak’ di sini. Ini semua berawal
dari beberapa jam yang lalu, gue mau jemput Alana, pas sampai di rumahnya,
ternyata ada Kak Kila juga. Akhirnya kami jalan bertiga pake mobilnya Kak Kila,
mendarat di PIM dengan selamat, dan berakhir di food court PIM
1 setelah muterin PIM. Menurut gue, ini asyik, kan sekalian
pdkt sama anggota keluarganya yang lain. #uhuk. Gue jatuhkan pilihan makan gue
ke Hot Star Large Fried Chicken —semacam XXL fried chicken kalo
di Shihlin, tapi ini ga dipotongin— dan pesan minuman di tempat yang sama,
setelah menunggu sekitar 15 menit, gue balik ke tempat duduk dengan XXL chicken di
tangan kanan, dan minuman di tangan kiri, melihat Alana duduk sendirian di
meja.
“Loh, kok sendirian? Kak Kila ke mana?” tanya gue sambil meletakkan
minuman di meja.
“Baru banget ke toilet, lo ga makan nasi?” tanya Alana melihat
makanan yang gue bawa.
“Engga ah, lagi pengen ini, jarang nemunya.” kata gue sambil mulai
menggigit. “Abis ini tetep mau ke Gancit?” tanya gue.
“Tetep doong, eh, masih mau kan nemenin?” jawab Alana.
“Iyaa.” kata gue, lalu Ka Kila datang dan kami sibuk dengan
makanan masing-masing.
Sambil sibuk mengunyah, gue perhatikan mereka berdua, ngobrol
sambil sesekali tertawa. Pernah ga, kalian memutar kembali suatu kejadian, dan
membuat serangkaian skenario baru di cerita hidup kalian itu? Gue sedang
seperti itu, otak gue memutar kembali kejadian di Gramedia tempat Alana pertama
kali nyapa gue. Andai hari itu gue ga ke Gramedia, andai hari itu gue ke
Gramedia sejam sebelumnya, atau sejam setelahnya, andai waktu itu gue ke
Gramedia tanpa berhenti di lorong fiksi, andai semua itu yang terjadi, apakah
masih bisa gue ketemu dan kenal sama dua orang di depan gue ini? Semesta memang
punya cara sendiri untuk mempertemukan kita dengan seseorang. Entah orang itu
dipertemukan untuk sekedar kenal, atau bahkan ditakdirkan untuk singgah,
sementara atau selamanya.
Ada saatnya semesta juga sedikit bercanda, di saat kita berusaha
untuk bisa ‘meraih’ seseorang yang kita damba, malah datang seseorang yang
sebenarnya kita ‘minta’ secara tiba-tiba. Skenarionya pun kadang tidak terduga,
saling menabrak saat berjalan, duduk bersebelahan di kereta, papasan di gedung
kampus, bahkan sesederhana bertukar pandang di tempat fotokopian lalu berlanjut
perkenalan. Skenario gue adalah Alana menyapa gue saat itu, gue kembali
berandai, andai waktu itu dia ga nyapa gue, apakah gue akan notice kehadiran
dia, andai waktu itu gue memberikan respon yang berbeda, akankah tetap akan
seperti ini jadinya?
Gue percaya setiap orang yang kita temui, punya porsi dan peran
masing-masing dalam kehidupan kita. Ada yang hanya memiliki porsi untuk sekedar
kenal, beberapa menjadi teman, sedikit menjadi sahabat. Ada juga mereka yang
ditakdirkan untuk mengajarkan kepada kita tentang rasanya patah hati, rasa
dikhianati, dan rasanya jatuh cinta setengah mati, mereka yang hanya
ditakdirkan untuk kita damba, bukan untuk menemani hari-hari kita. Gue dan
mantan gue sepakat, bahwa dia dan gue hanya memiliki porsi untuk saling
berbagi, memahami, dan belajar bagaimana menjalin sebuah hubungan untuk satu
sama lain, bukan untuk menjadi teman hidup hingga mata ini tertutup.
Gue belum tau, apa porsi kehadiran Alana dalam hidup gue. Gue
rasa, gue hanya harus menikmati hari-hari yang gue jalani bareng dia, sampai
akhirnya gue tau, apa porsi dan peran dia di hidup gue.
Drrrt drrrt, handphone gue bergetar.
Lah, ada telepon.
“Eh bentar ya, ada telepon nih.” kata gue ke Alana dan Ka Kila
sambil beranjak pergi.
“Halo? Kenapa El? Ganggu ih, lagi jalan sama cewe.” kata gue di
telepon.
“Galak amat, Helen mau nanyain skripsi, Tio kan kual⎯ Wait,
apa?”
“Hehe, lagi jalan sama Alana, nih, El.” gue nyengir.
“Hmmmmmm.”
Helen, dia ini that kind of girl-friend yang mau
sedeket apapun ga akan jadi pacar, sama kaya Keyra (baca: Kopi dan Sirup). I know that I love
them both, but not that kind of love yang pengen jadi
pacar, Keyra lebih gue anggep sebagai kakak, karena gue dari dulu selalu pengen
punya kakak cewe. Nah, Helen, dia lebih gue anggep kaya nyokap sendiri.
Bawaannya pengen manja-manja terus kalo sama dia. Helen ini temen kampus
gue, satu fakultas, temen gue dari tingkat satu yang karena sekarang beda kelas
jadi susah ketemu. Gue sama Helen bisa akrab karena otak kami yang sama-sama
kotor dan rusak. Helen dan Keyra ini udah tau busuk-busuknya gue, aib gue,
mantan gue, isi gallery hp gue, dosa-dosa gue semua mereka
tau, dan mereka punya peran yang berbeda di tiap cerita hidup gue.
“Hoo, jadi yang ini serius nih,” kata Helen pas gue ceritain tentang
Alana di awal-awal gue kenal Alana dulu. “it’s not about boobies anymore, huh?” matanya mengerling jahil.
“What the fuck, El.” jawab gue yang direspon dengan
tawa kerasnya waktu itu.
Well, dulu waktu gue dan Helen
sama-sama jomlo, kami suka duduk di satu sudut kampus, ngeliatin setiap cewe
atau cowo yang lewat, we’ll argue about their size or
whatsoever, pictured them naked, and drowning in our
imagination. Kebiasaan bodoh dan kotor, I know.
“Jadi, apa? Mau nanya apa tadi El?” tanya gue kembali di telepon.
“Ga jadi deh, Tio lagi jalan kan.” jawab dia.
“Lebaaaay, apaan ih.”
“Hmm, mau nanya yang lain aja, boleh?” kata Helen.
“Iyaa boleeh, apa?”
“Gimana perasaannya buat Alana?” tanya Helen dengan suara pelan.
Gue diam, gue beberapa kali mendapat pertanyaan seperti ini, dan
setiap mendapat pertanyaan itu, tetap gue tidak bisa menjawab. Maksud gue, gue
tidak pernah bisa memberi ‘label’ pada perasaan gue sendiri. Gue ga pernah tau,
di mana batasan nyaman, atau sayang, atau cinta, atau apapun itu. Gue selalu
butuh waktu yang lama untuk akhirnya bisa memahami perasaan gue sendiri, dan
akhirnya selalu gue berakhir dengan kata-kata seperti, gantungin anak
orang mulu lo! atau ga tegas banget jadi cowo, dan
kata-kata lain dengan nada serupa.
“Bingung El.” jawab gue akhirnya
“Ah, selalu, itu terus jawabannya.” kata Helen kesal.
“Ya gimana dong, beneran bingung. Gue ga pernah bisa ngasih label
ke perasaan yang gue rasain. Tertarik, udah pasti. Tapi selebihnya, gatau.”
jawab gue.
“Okay, let me ask you, seberapa jauh lo kenal
dia? tanya Helen lagi.
“Hmm...” jawab gue menggantung.
“Her name?”
“Check.”
“Her address?”
“Check.”
“Her size?”
“Hoy! pekik gue.
Helen terkekeh, “Take it easy, Darling. Next, her
birthday?”
Gue menggeleng, yang gue pun tau Helen gabisa liat gue menggeleng.
“Ngga tau...”
“Seriously? Her hobbies?”
“Not sure...”
“Her collage? Her past?”
Gue menggeleng lagi, “Ga tau juga, why do I have to know
about her past anyway?”
“Hehe, but you do tell her about yours, your
past, kan?”
“I did...” kata gue pelan.
“Hehe, ya udah deh, dadah Yoo, mmmuah!” Helen menutup telepon.
Di satu titik gue sadar, gue sebenernya ga tau banyak tentang Alana, selama ini
gue ngapain aja? Gue jadi inget omongan Helen dulu, “Yo, jangan sampe salah
mengartikan sifat baik seseorang. Mungkin buat kita, kita rasain nyaman, kita
ngerasa sayang. Tapi belum tentu buat mereka. Jangan sampe akhirnya tersiksa
karena salah mengartikan perasaan orang lain ke kita. Karena kita, selalu butuh
kejelasan, selalu butuh kepastian.” Gue menggeleng-gelengkan kepala, mengusir
pikiran itu dari kepala gue. Gue gamau berpikir terlalu jauh, untuk sekarang,
gue hanya ingin menikmati hari-hari gue bareng Alana. Untuk sekarang, ini
cukup, lebih dari cukup.
Gue berjalan kembali ke meja, gue lihat Kak Kila udah selesai makan, Alana lagi
mengunyah suapan terakhirnya. Lah, cepet amat, perasaan gue nelpon ga lama-lama
banget.
“Siapa Yo?” tanya Kak Kila.
“Temen Kak, nanyain skripsi gitu.” jawab gue.
“Oalah, kirain ada apa-apa. Eh lo berdua mau lanjut ke Gancit ya?
Bawa mobil gue aja deh, gue mau balik ke rumah lo Al, pake gojek, kan deket.”
kata Kak Kila memecah lamunan gue.
“Lah, ngga ikut, Kak?” tanya gue.
“Ngga ah, gue mau nyiapin presentasi buat besok, sambil
ngaca-ngaca cantik pake sepatu baru hahahahaha.” tawa Kak Kila.
“Yeee curaang, udah dapet barangnya, langsung baliik.” kata Alana.
“Hehe, sorry, Honey.” Kak Kila mengecup pipi Alana.
“Ya udah, cabut sekarang?” kata Kak Kila yang gue dan Alana balas dengan
anggukan.
Kami menunggu hingga Kak Kila dapat Gojek, baru setelah itu pergi
ke Gancit. Jarak antara PIM sama Gancit ini ga jauh sebenernya, tapi karena
macet, hampir setengah jam kami baru bisa menginjakkan kaki di Gancit.
| "...Kami menunggu hingga Ka Kila dapat Gojek, baru setelah itu pergi ke Gancit...." |
Salat Ashar, muter-muter dari Uniqlo, H&M, Giordano, sampai
makan gelato di Gelato Paradise.
“Ih ternyata gelato tu enak ya!” kata gue girang.
“Hahahaha, segitunya, emang belom pernah?” Alana tertawa melihat
ke-norak-an gue.
“Ini pertama kalinya Al, thank you by the way mau
nraktir.” kata gue sambil tetap berbinar-binar.
“Hahahaha iya Yoo, abis lo hari ini diem aja sih, gue kan jadi
takut, makasih juga udah mau nemenin, sampe bawain belanjaan gue segala.” jawab
Alana.
“Hah? Emang iya gue diem?” kata gue kaget.
“Hehehe, iya, ah udah lah, thank you pokoknya.”
kata dia sambil menyeka pipi kirinya. “Eh, gue mau nanya deh, lo kenapa sih
kalo pake t-shirt tu dimasukkin gitu?” kata dia lagi.
“Oh, ini? Kenapa? Aneh ya?” kata gue sambil menunjuk baju gue. “Ga
ada alasan khusus sih, gue pengen beda aja dari yang lain, gue ga pengen
jadi mainstream, gue harus jadi yang beda sendiri.” gue
menjelaskan.
“Hooo, engga sih. Ya, emang ga biasa, tadinya gue kira biar rapi
atau baju lo kegedean.”
“Hahahaha no no, alasannya sesimpel itu, gue ga suka
aja sama kaya kebanyakan orang, gimana biar beda? Yaudah gue masukkin aja
bajunya, terinspirasi sedikit dari foto-foto bokap gue zaman kuliah.” kata gue
sambil tertawa.
Gue kembali tenggelam dalam ke-norak-an gue sama si gelato ini,
sampe gue sadar Alana ngeliatin gue, dia ngeliatin gue kaya tatapan seorang Ibu
yang akhirnya bisa beliin anaknya paket panas McD untuk pertama kalinya.
“Sori... gue kampungan banget ya...” kata gue pelan.
“Hahahahaha ngga Yoo, gue seneng aja liat lo semangat
banget. Happiness looks good on you. Lo harus sering-sering kaya
gini Yo, lo harus bahagia.”
Gue diam sebentar, melihat dia yang tersenyum manis ke gue, lalu
gue ikut tersenyum. As long as I'm with you, Al
“Hehe, berarti lo harus sering-sering juga beliin gue gelato.”
kata gue akhirnya.
“Hahahahahaha, maunya! Abis ini temenin gue ke satu tempat
lagi, Yo.”
“Okay, ke mana?”
“Ikut aja.”
“Yes Mam!” gue pose hormat, yang dia balas dengan tertawa.
Setelah akhirnya gue selesai bernorak ria dengan gelato, (iya, gue
lama-lamain biar ga cepet abis gelatonya) gue kembali ngikutin Alana, naik
eskalator dua lantai, dan dari arah jalan ini, gue tau dia mau kemana. Ternyata
bener tebakan gue, dia mau ke Gramedia.
“Hehe” dia tersenyum
“Hehe, mau nyari buku, Al?” kata gue yang dia balas dengan
gelengan kepala. “Terus?” tanya gue lagi.
“Pengin aja.” dia beranjak masuk ke dalam Gramedia, gue
ngikut di belakang.
Kami berjalan masuk, melewati tempat alat tulis, yang membuat gue
berhenti sebentar.
“Tau ga, Al, dulu, pas SMA, gue selalu pake pulpen ini, yang item
sama yang pink.” gue menunjukkan sebuah pulpen Hi-Tech ukuran 0.3
“Hah? Buat apa? Itu kan mahal.”
“Iya, buat nulis aja, gue seneng nulis pake pulpen ini.” jawab gue
sambil kemudian kembali mengikuti dia.
Sampai di lorong fiksi, Alana berhenti, gue melihat-lihat novel
yang kira-kira akan mencuri perhatian gue. Lalu Alana menggumam pelan.
“Udah lima bulan, ya.”
“Apa?”
“Pertama kali ngobrol, di sini.” kata dia sambil meraba-raba novel
di rak. “Yo, wanna know the truth?” lanjut dia.
“Hm?” kata gue sambil melihat dia.
“Gue udah liat elo, dua kali, sebelum akhirnya gue berani nyapa lo
hari itu.” Alana tersenyum sebentar, lalu melanjutkan kalimatnya. “Gue masih
inget, pertama kali liat elo di sini, lo beli Divortiare, terus gue liat lo lagi
pas elo beli Twivortiare, Twivortiare 2, sama Critical Eleven. Lo cukup telat
ya, ‘kenal’ sama karyanya Ika Natassa.”
Gue masih diam, dan Alana masih melanjutkan
kalimatnya.
“Gatau kenapa, ngeliat elo exited pas beli
buku-bukunya dia, bikin gue pengen bisa kenal, tapi gue ga berani, akhirnya gue
janji sama diri gue sendiri, kalo gue sampe ketemu elo untuk ketiga kalinya,
gue mau nyapa elo. Abis gue janji kaya gitu, hampir setiap minggu gue ke sini,
dan lo ga pernah dateng lagi. Gue udah nyerah sebenernya, gue juga udah lupa
sama elo, gue udah ga ke sini lagi. Sampe akhirnya lo muncul lagi, gue ga begitu
yakin awalnya, rambut lo beda, kacamata lo ganti, tapi kemudian gue yakin kalo
itu beneran elo, karena elo berdiri di situ sambil lagi-lagi megang novelnya
dia, tiga tahun, sampe akhirnya gue berani nyapa lo di sini.” Alana mengakhiri
kalimatnya, mengarahkan badannya ke arah gue.
Gue cuma bisa berdiri kaku di situ, menatap dia, tanpa tau harus
ngomong apa. Gue selalu percaya bahwa semesta mempertemukan gue sama Alana
begitu saja. Gue selalu percaya kalo Alana hanyalah perempuan biasa yang tidak
sengaja melihat gue memilih novel di deretan penulis favoritnya. Gue selalu
percaya bahwa semesta mempertemukan gue dan Alana sesederhana itu, sesederhana
dia liat gue, lalu datang menyapa, tanpa rencana, tanpa usaha, dan tanpa
embel-embel lainnya.
Gue bingung.
“Awalnya gue ga terlalu tertarik sama elo, karena gue rasa elo
cuma cowo biasa yang iseng mau beli novelnya Ika Natassa, tapi di pertemuan
kedua, gue liat lo borong bukunya dia, dan gue seneng bisa nemu cowo yang punya
kesukaan yang sama. Rasa tertarik gue ke elo semudah itu, gue jadi pengen
kenal, pengen ngobrol sama elo. Karena gue gapunya banyak temen ngobrol yang
punya kesukaan yang sama.” lanjut Alana.
Gue tersenyum.
Ada banyak hal yang gue suka dari membaca fiksi, salah satunya
adalah perasaan hangat, dan perasaan nyaman yang gue dapet setiap gue membaca
sebuah novel. Entah itu cerita petualangan, drama, komedi, atau romance, dan perasaan-perasaan tersebut tidak bisa gue bagi dengan orang-orang terdekat
gue. Keyra, dia sama sekali anti dengan cerita fiksi. Adek gue, well,
dia baca beberapa koleksi gue, but he’s not really into it. Helen,
ga hobi baca, dan gue sebegitu bahagianya saat gue tau dan gue ketemu Alana,
gue bisa ngobrolin tentang hal yang gue suka, dengan orang yang memiliki
kesukaan yang sama. Tidak bisa gue hitung berapa banyak gue dan Alana bertukar
cerita tentang dunia fiksi, and in the end, yang kita butuhkan
untuk menemani hari-hari kita adalah orang yang bisa kita ajak ngobrol kan? Dan
buat gue, itu Alana.
Sekarang, gue menemukan alasan lain untuk jatuh cinta pada fiksi.
Karena di lorong fiksi ini, gue menemukan ‘obat’ untuk semua luka yang gue
punya, gue harap, obat ini bukan untuk sementara.
“Senyum doang... Kan malu jadinya...” ucap Alana.
“Hehe, dasar.”
“Apa...”
“Ngga hehe. Hey, Al,” kata gue yang dia balas dengan tatapan. “thank
you.” lanjut gue.
Dia tersenyum.
“Yuk.” ajak dia sambil menenteng sebuah novel karya Alicia
Lidwina, Unspoken Words.
Gue dan dia lalu berjalan keluar, berdampingan, menjauhi Gramedia,
tanpa kata, tanpa suara. Berjalan pelan menuruni eskalator, lalu Alana
menunjuk ke deretan tempat duduk.
“Duduk sebentar yuk, pegel.” ajak dia seakan tidak ingin cepat
pulang dan mengakhiri hari lebih cepat. Lalu entah kenapa, gue
mengeluarkan handphone dan earphone dari saku
celana. “Pernah nonton Begin Again?” tanya gue.
Dia mengangguk.
“So, lo tau kan kira-kira gue mau ngapain?” kata gue.
Dia mengangguk, lalu tersenyum lebar, “Gue juga penasaran sama
lagu-lagu sendu lo.”
Gue juga tersenyum, lalu gue ulurkan earphone sebelah
kiri ke dia, dan gue pake yang sebelah kanan. Gue pilih beberapa lagu dari
Bruno Major, Destiny’s Child, Boyz II Men dan Sabrina Claudio yang sedikit
banyak mengungkapkan isi pikiran gue.
I’m sorry Al, I’m really
sorry, gue pengen maju sama elo, gue pengen bikin progress,
tapi lima bulan masih terlalu cepat buat gue, lo belum kenal gue, gue
belum kenal elo. Gue belum tau perasaan elo, dan bahkan gue belum tau perasaan
gue sendiri. Biarkan ini berjalan sebentar lagi, supaya elo dan gue bisa mengenal
lebih jauh. Gue emang pengen elo, tapi mungkin sekarang lebih baik kita seperti
ini. Gue cuma gamau, dan gue cuma takut lo pergi ninggalin gue, tanpa
alasan.
Karena mereka yang memilih pergi, meski suatu saat datang kembali,
mereka tidak akan sama lagi.
“Al, serius lo waktu itu udah dua kali liat gue?” tanya gue.
Dia mengangguk, “Iya, gila aja kali kalo gue baru pertama liat
elo, terus langsung nyapa. Gue ga seberani dan senekat itu. Untung respon lo
positif ke gue.”
“Tapi kenapa sampe berani mau nyapa duluan?”
“Hmm, I don’t know, but that’s worth to
try kan?” jawab dia
Gue mengangkat bahu, menggoda, “Entah hehe.”
“Ih!” dia mendorong gue pelan.
Kami larut lagi dalam alunan lagu, dia memejamkan mata, sesekali
kepalanya mengikuti alunan musik. Fyuh, untung pilihan lagu gue ga
dihina.
Melihat dia seperti ini, duduk di sebelah gue, dengerin lagu
bareng gue, jalan bareng gue, cuma satu pertanyaan yang pengen gue tanyain ke
dia.
“Are you happy, Al?”
Dia mengangguk.
“Are you?” tanya Alana balik ke gue.
Gue diam, entah kenapa gue sendiri tidak tau jawaban dari
pertanyaan itu.
Am I happy?
Klik disini untuk chapter berikutnya --> Hot Chocolate