Saturday, February 17, 2018

Gelato Paradise


Link buat baca part sebelumnya ---> Warung Langit

---------------------------------------------------

Buat gue, buku bukan hanya sekedar untuk dibaca, semakin majunya teknologi, semakin banyak fasilitas yang memudahkan kita untuk membaca. Sekarang, membaca berita ataupun karya fiksi bisa dilakukan dengan mudah melalui smartphone. Tapi ada kepuasan tersendiri ketika buku-buku yang gue baca berjejer rapi di rak buku. Gue menikmati aroma kertas dari buku-buku lama yang bahkan warnanya sudah berubah, menenangkan.

Gue dibesarkan dengan karya fiksi di sekitar gue, seri-seri dari Enid Blyton peninggalan masa kecil nyokap yang membuat gue jatuh cinta dengan dunia fiksi. Semakin dewasa, gue ‘berkenalan’ dengan penulis-penulis lain dengan karyanya masing-masing yang membuat gue jatuh cinta dengan cara mereka sendiri. Setiap penulis punya ciri khas, entah itu dalam membuka cerita, cara mereka menyampaikan pesan, membuat konflik, bahkan dari cara mereka mengakhiri sebuah cerita, mereka punya cirinya masing-masing. Gue menikmati rangkaian huruf yang mereka hasilkan menjadi rangkaian kata, gue menimati rangkaian kata yang mereka hasilkan menjadi sebuah cerita, gue menikmati semuanya.

“Serius banget, Mas, bacanya, sampe yang di sini dicuekin.” suara Kak Kila mengagetkan gue.
“Loh, kalian udah balik? Cepet amat.” kata gue sambil memberi pembatas pada halaman novel yang gue baca.
“Lamaa kalee, lo aja yang tenggelam sama dunia lo sendiri.” balas Kak Kila.
“Hehe, maap-maap. Ya udah, gue nyari makan juga deh.” kata gue sambil beranjak.

Gue lagi jalan sama Alana dan kakak sepupunya, Kak Kila. Ya, as you know kalo gue dan Alana ga begitu suka ke PIM, tapi karena Kak Kila minta ditemenin ke Linea, yang adanya di PIM, jadinya kami ‘terjebak’ di sini. Ini semua berawal dari beberapa jam yang lalu, gue mau jemput Alana, pas sampai di rumahnya, ternyata ada Kak Kila juga. Akhirnya kami jalan bertiga pake mobilnya Kak Kila, mendarat di PIM dengan selamat, dan berakhir di food court PIM 1 setelah muterin PIM. Menurut gue, ini asyik, kan sekalian pdkt sama anggota keluarganya yang lain. #uhuk. Gue jatuhkan pilihan makan gue ke Hot Star Large Fried Chicken —semacam XXL fried chicken kalo di Shihlin, tapi ini ga dipotongin— dan pesan minuman di tempat yang sama, setelah menunggu sekitar 15 menit, gue balik ke tempat duduk dengan XXL chicken di tangan kanan, dan minuman di tangan kiri, melihat Alana duduk sendirian di meja.

“Loh, kok sendirian? Kak Kila ke mana?” tanya gue sambil meletakkan minuman di meja.
“Baru banget ke toilet, lo ga makan nasi?” tanya Alana melihat makanan yang gue bawa.
“Engga ah, lagi pengen ini, jarang nemunya.” kata gue sambil mulai menggigit. “Abis ini tetep mau ke Gancit?” tanya gue.
“Tetep doong, eh, masih mau kan nemenin?” jawab Alana.
“Iyaa.” kata gue, lalu Ka Kila datang dan kami sibuk dengan makanan masing-masing.

Sambil sibuk mengunyah, gue perhatikan mereka berdua, ngobrol sambil sesekali tertawa. Pernah ga, kalian memutar kembali suatu kejadian, dan membuat serangkaian skenario baru di cerita hidup kalian itu? Gue sedang seperti itu, otak gue memutar kembali kejadian di Gramedia tempat Alana pertama kali nyapa gue. Andai hari itu gue ga ke Gramedia, andai hari itu gue ke Gramedia sejam sebelumnya, atau sejam setelahnya, andai waktu itu gue ke Gramedia tanpa berhenti di lorong fiksi, andai semua itu yang terjadi, apakah masih bisa gue ketemu dan kenal sama dua orang di depan gue ini? Semesta memang punya cara sendiri untuk mempertemukan kita dengan seseorang. Entah orang itu dipertemukan untuk sekedar kenal, atau bahkan ditakdirkan untuk singgah, sementara atau selamanya.

Ada saatnya semesta juga sedikit bercanda, di saat kita berusaha untuk bisa ‘meraih’ seseorang yang kita damba, malah datang seseorang yang sebenarnya kita ‘minta’ secara tiba-tiba. Skenarionya pun kadang tidak terduga, saling menabrak saat berjalan, duduk bersebelahan di kereta, papasan di gedung kampus, bahkan sesederhana bertukar pandang di tempat fotokopian lalu berlanjut perkenalan. Skenario gue adalah Alana menyapa gue saat itu, gue kembali berandai, andai waktu itu dia ga nyapa gue, apakah gue akan notice kehadiran dia, andai waktu itu gue memberikan respon yang berbeda, akankah tetap akan seperti ini jadinya?

Gue percaya setiap orang yang kita temui, punya porsi dan peran masing-masing dalam kehidupan kita. Ada yang hanya memiliki porsi untuk sekedar kenal, beberapa menjadi teman, sedikit menjadi sahabat. Ada juga mereka yang ditakdirkan untuk mengajarkan kepada kita tentang rasanya patah hati, rasa dikhianati, dan rasanya jatuh cinta setengah mati, mereka yang hanya ditakdirkan untuk kita damba, bukan untuk menemani hari-hari kita. Gue dan mantan gue sepakat, bahwa dia dan gue hanya memiliki porsi untuk saling berbagi, memahami, dan belajar bagaimana menjalin sebuah hubungan untuk satu sama lain, bukan untuk menjadi teman hidup hingga mata ini tertutup.

Gue belum tau, apa porsi kehadiran Alana dalam hidup gue. Gue rasa, gue hanya harus menikmati hari-hari yang gue jalani bareng dia, sampai akhirnya gue tau, apa porsi dan peran dia di hidup gue.

Drrrt drrrt, handphone gue bergetar.

Lah, ada telepon.

“Eh bentar ya, ada telepon nih.” kata gue ke Alana dan Ka Kila sambil beranjak pergi.

“Halo? Kenapa El? Ganggu ih, lagi jalan sama cewe.” kata gue di telepon. 
“Galak amat, Helen mau nanyain skripsi, Tio kan kual⎯ Wait, apa?”
“Hehe, lagi jalan sama Alana, nih, El.” gue nyengir.
“Hmmmmmm.”


Helen, dia ini that kind of girl-friend yang mau sedeket apapun ga akan jadi pacar, sama kaya Keyra (baca: Kopi dan Sirup). I know that I love them bothbut not that kind of love yang pengen jadi pacar, Keyra lebih gue anggep sebagai kakak, karena gue dari dulu selalu pengen punya kakak cewe. Nah, Helen, dia lebih gue anggep kaya nyokap sendiri. Bawaannya pengen manja-manja terus kalo sama dia. Helen ini temen kampus gue, satu fakultas, temen gue dari tingkat satu yang karena sekarang beda kelas jadi susah ketemu. Gue sama Helen bisa akrab karena otak kami yang sama-sama kotor dan rusak. Helen dan Keyra ini udah tau busuk-busuknya gue, aib gue, mantan gue, isi gallery hp gue, dosa-dosa gue semua mereka tau, dan mereka punya peran yang berbeda di tiap cerita hidup gue.


“Hoo, jadi yang ini serius nih,” kata Helen pas gue ceritain tentang Alana di awal-awal gue kenal Alana dulu. “it’s not about boobies anymore, huh?” matanya mengerling jahil.
What the fuck,  El.” jawab gue yang direspon dengan tawa kerasnya waktu itu.


Well, dulu waktu gue dan Helen sama-sama jomlo, kami suka duduk di satu sudut kampus, ngeliatin setiap cewe atau cowo yang lewat, well argue about their size or whatsoeverpictured them nakedand drowning in our imagination. Kebiasaan bodoh dan kotor, I know.


“Jadi, apa? Mau nanya apa tadi El?” tanya gue kembali di telepon.
“Ga jadi deh, Tio lagi jalan kan.” jawab dia.
“Lebaaaay, apaan ih.”
“Hmm, mau nanya yang lain aja, boleh?” kata Helen.
“Iyaa boleeh, apa?”
“Gimana perasaannya buat Alana?” tanya Helen dengan suara pelan.


Gue diam, gue beberapa kali mendapat pertanyaan seperti ini, dan setiap mendapat pertanyaan itu, tetap gue tidak bisa menjawab. Maksud gue, gue tidak pernah bisa memberi ‘label’ pada perasaan gue sendiri. Gue ga pernah tau, di mana batasan nyaman, atau sayang, atau cinta, atau apapun itu. Gue selalu butuh waktu yang lama untuk akhirnya bisa memahami perasaan gue sendiri, dan akhirnya selalu gue berakhir dengan kata-kata seperti, gantungin anak orang mulu lo! atau ga tegas banget jadi cowo, dan kata-kata lain dengan nada serupa.

“Bingung El.” jawab gue akhirnya
“Ah, selalu, itu terus jawabannya.” kata Helen kesal.
“Ya gimana dong, beneran bingung. Gue ga pernah bisa ngasih label ke perasaan yang gue rasain. Tertarik, udah pasti. Tapi selebihnya, gatau.” jawab gue.
Okaylet me ask you, seberapa jauh lo kenal dia? tanya Helen lagi.
“Hmm...” jawab gue menggantung.
Her name?”
Check.”
Her address?”
Check.”
Her size?”
“Hoy! pekik gue.
Helen terkekeh, “Take it easy, DarlingNexther birthday?
Gue menggeleng, yang gue pun tau Helen gabisa liat gue menggeleng. “Ngga tau...”
SeriouslyHer hobbies?”
Not sure...”
Her collageHer past?” 
Gue menggeleng lagi, “Ga tau juga, why do I have to know about her past anyway?”
“Hehe, but you do tell her about yoursyour past, kan?”
I did...” kata gue pelan.
“Hehe, ya udah deh, dadah Yoo, mmmuah!” Helen menutup telepon.


Di satu titik gue sadar, gue sebenernya ga tau banyak tentang Alana, selama ini gue ngapain aja? Gue jadi inget omongan Helen dulu, “Yo, jangan sampe salah mengartikan sifat baik seseorang. Mungkin buat kita, kita rasain nyaman, kita ngerasa sayang. Tapi belum tentu buat mereka. Jangan sampe akhirnya tersiksa karena salah mengartikan perasaan orang lain ke kita. Karena kita, selalu butuh kejelasan, selalu butuh kepastian.” Gue menggeleng-gelengkan kepala, mengusir pikiran itu dari kepala gue. Gue gamau berpikir terlalu jauh, untuk sekarang, gue hanya ingin menikmati hari-hari gue bareng Alana. Untuk sekarang, ini cukup, lebih dari cukup.


Gue berjalan kembali ke meja, gue lihat Kak Kila udah selesai makan, Alana lagi mengunyah suapan terakhirnya. Lah, cepet amat, perasaan gue nelpon ga lama-lama banget.


“Siapa Yo?” tanya Kak Kila.
“Temen Kak, nanyain skripsi gitu.” jawab gue.
“Oalah, kirain ada apa-apa. Eh lo berdua mau lanjut ke Gancit ya? Bawa mobil gue aja deh, gue mau balik ke rumah lo Al, pake gojek, kan deket.” kata Kak Kila memecah lamunan gue.
“Lah, ngga ikut, Kak?” tanya gue.
“Ngga ah, gue mau nyiapin presentasi buat besok, sambil ngaca-ngaca cantik pake sepatu baru hahahahaha.” tawa Kak Kila.
“Yeee curaang, udah dapet barangnya, langsung baliik.” kata Alana.
“Hehe, sorry, Honey.” Kak Kila mengecup pipi Alana. “Ya udah, cabut sekarang?” kata Kak Kila yang gue dan Alana balas dengan anggukan.

Kami menunggu hingga Kak Kila dapat Gojek, baru setelah itu pergi ke Gancit. Jarak antara PIM sama Gancit ini ga jauh sebenernya, tapi karena macet, hampir setengah jam kami baru bisa menginjakkan kaki di Gancit.

"...Kami menunggu hingga Ka Kila dapat Gojek, baru setelah itu pergi ke Gancit...."


 Salat Ashar, muter-muter dari Uniqlo, H&M, Giordano, sampai makan gelato di Gelato Paradise.

“Ih ternyata gelato tu enak ya!” kata gue girang.
“Hahahaha, segitunya, emang belom pernah?” Alana tertawa melihat ke-norak-an gue.
“Ini pertama kalinya Al, thank you by the way mau nraktir.” kata gue sambil tetap berbinar-binar.
“Hahahaha iya Yoo, abis lo hari ini diem aja sih, gue kan jadi takut, makasih juga udah mau nemenin, sampe bawain belanjaan gue segala.” jawab Alana.
“Hah? Emang iya gue diem?” kata gue kaget.
“Hehehe, iya, ah udah lah, thank you pokoknya.” kata dia sambil menyeka pipi kirinya. “Eh, gue mau nanya deh, lo kenapa sih kalo pake ­t-shirt tu dimasukkin gitu?” kata dia lagi.
“Oh, ini? Kenapa? Aneh ya?” kata gue sambil menunjuk baju gue. “Ga ada alasan khusus sih, gue pengen beda aja dari yang lain, gue ga pengen jadi mainstream, gue harus jadi yang beda sendiri.” gue menjelaskan.
“Hooo, engga sih. Ya, emang ga biasa, tadinya gue kira biar rapi atau baju lo kegedean.”
“Hahahaha no no, alasannya sesimpel itu, gue ga suka aja sama kaya kebanyakan orang, gimana biar beda? Yaudah gue masukkin aja bajunya, terinspirasi sedikit dari foto-foto bokap gue zaman kuliah.” kata gue sambil tertawa.


Gue kembali tenggelam dalam ke-norak-an gue sama si gelato ini, sampe gue sadar Alana ngeliatin gue, dia ngeliatin gue kaya tatapan seorang Ibu yang akhirnya bisa beliin anaknya paket panas McD untuk pertama kalinya. 


“Sori... gue kampungan banget ya...” kata gue pelan.
“Hahahahaha ngga Yoo, gue seneng aja liat lo semangat banget. Happiness looks good on you. Lo harus sering-sering kaya gini Yo, lo harus bahagia.”

Gue diam sebentar, melihat dia yang tersenyum manis ke gue, lalu gue ikut tersenyum. As long as I'm with you, Al

“Hehe, berarti lo harus sering-sering juga beliin gue gelato.” kata gue akhirnya.
“Hahahahahaha, maunya! Abis ini temenin gue ke satu tempat lagi, Yo.”
Okay, ke mana?”
“Ikut aja.”
Yes Mam!” gue pose hormat, yang dia balas dengan tertawa.

Setelah akhirnya gue selesai bernorak ria dengan gelato, (iya, gue lama-lamain biar ga cepet abis gelatonya) gue kembali ngikutin Alana, naik eskalator dua lantai, dan dari arah jalan ini, gue tau dia mau kemana. Ternyata bener tebakan gue, dia mau ke Gramedia.

“Hehe” dia tersenyum
“Hehe, mau nyari buku, Al?” kata gue yang dia balas dengan gelengan kepala. “Terus?” tanya gue lagi.
“Pengin  aja.” dia beranjak masuk ke dalam Gramedia, gue ngikut di belakang.

Kami berjalan masuk, melewati tempat alat tulis, yang membuat gue berhenti sebentar.

“Tau ga, Al, dulu, pas SMA, gue selalu pake pulpen ini, yang item sama yang pink.” gue menunjukkan sebuah pulpen Hi-Tech ukuran 0.3
“Hah? Buat apa? Itu kan mahal.”
“Iya, buat nulis aja, gue seneng nulis pake pulpen ini.” jawab gue sambil kemudian kembali mengikuti dia.

Sampai di lorong fiksi, Alana berhenti, gue melihat-lihat novel yang kira-kira akan mencuri perhatian gue. Lalu Alana menggumam pelan.

“Udah lima bulan, ya.”
“Apa?”
“Pertama kali ngobrol, di sini.” kata dia sambil meraba-raba novel di rak. “Yo, wanna know the truth?” lanjut dia.
“Hm?” kata gue sambil melihat dia.
“Gue udah liat elo, dua kali, sebelum akhirnya gue berani nyapa lo hari itu.” Alana tersenyum sebentar, lalu melanjutkan kalimatnya. “Gue masih inget, pertama kali liat elo di sini, lo beli Divortiare, terus gue liat lo lagi pas elo beli Twivortiare, Twivortiare 2, sama Critical Eleven. Lo cukup telat ya, ‘kenal’ sama karyanya Ika Natassa.”

 Gue masih diam, dan Alana masih melanjutkan kalimatnya. 

“Gatau kenapa, ngeliat elo exited pas beli buku-bukunya dia, bikin gue pengen bisa kenal, tapi gue ga berani, akhirnya gue janji sama diri gue sendiri, kalo gue sampe ketemu elo untuk ketiga kalinya, gue mau nyapa elo. Abis gue janji kaya gitu, hampir setiap minggu gue ke sini, dan lo ga pernah dateng lagi. Gue udah nyerah sebenernya, gue juga udah lupa sama elo, gue udah ga ke sini lagi. Sampe akhirnya lo muncul lagi, gue ga begitu yakin awalnya, rambut lo beda, kacamata lo ganti, tapi kemudian gue yakin kalo itu beneran elo, karena elo berdiri di situ sambil lagi-lagi megang novelnya dia, tiga tahun, sampe akhirnya gue berani nyapa lo di sini.” Alana mengakhiri kalimatnya, mengarahkan badannya ke arah gue.

Gue cuma bisa berdiri kaku di situ, menatap dia, tanpa tau harus ngomong apa. Gue selalu percaya bahwa semesta mempertemukan gue sama Alana begitu saja. Gue selalu percaya kalo Alana hanyalah perempuan biasa yang tidak sengaja melihat gue memilih novel di deretan penulis favoritnya. Gue selalu percaya bahwa semesta mempertemukan gue dan Alana sesederhana itu, sesederhana dia liat gue, lalu datang menyapa, tanpa rencana, tanpa usaha, dan tanpa embel-embel lainnya.

 Gue bingung.

“Awalnya gue ga terlalu tertarik sama elo, karena gue rasa elo cuma cowo biasa yang iseng mau beli novelnya Ika Natassa, tapi di pertemuan kedua, gue liat lo borong bukunya dia, dan gue seneng bisa nemu cowo yang punya kesukaan yang sama. Rasa tertarik gue ke elo semudah itu, gue jadi pengen kenal, pengen ngobrol sama elo. Karena gue gapunya banyak temen ngobrol yang punya kesukaan yang sama.” lanjut Alana.

 Gue tersenyum.

Ada banyak hal yang gue suka dari membaca fiksi, salah satunya adalah perasaan hangat, dan perasaan nyaman yang gue dapet setiap gue membaca sebuah novel. Entah itu cerita petualangan, drama, komedi, atau romance, dan perasaan-perasaan tersebut tidak bisa gue bagi dengan orang-orang terdekat gue. Keyra, dia sama sekali anti dengan cerita fiksi. Adek gue, well, dia baca beberapa koleksi gue, but he’s not really into it. Helen, ga hobi baca, dan gue sebegitu bahagianya saat gue tau dan gue ketemu Alana, gue bisa ngobrolin tentang hal yang gue suka, dengan orang yang memiliki kesukaan yang sama. Tidak bisa gue hitung berapa banyak gue dan Alana bertukar cerita tentang dunia fiksi, and in the end, yang kita butuhkan untuk menemani hari-hari kita adalah orang yang bisa kita ajak ngobrol kan? Dan buat gue, itu Alana.

Sekarang, gue menemukan alasan lain untuk jatuh cinta pada fiksi. Karena di lorong fiksi ini, gue menemukan ‘obat’ untuk semua luka yang gue punya, gue harap, obat ini bukan untuk sementara.

“Senyum doang... Kan malu jadinya...” ucap Alana.
“Hehe, dasar.”
“Apa...”
“Ngga hehe. Hey, Al,” kata gue yang dia balas dengan tatapan. “thank you.” lanjut gue.

 Dia tersenyum.

“Yuk.” ajak dia sambil menenteng sebuah novel karya Alicia Lidwina, Unspoken Words.

Gue dan dia lalu berjalan keluar, berdampingan, menjauhi Gramedia, tanpa kata, tanpa suara.  Berjalan pelan menuruni eskalator, lalu Alana menunjuk ke deretan tempat duduk.

“Duduk sebentar yuk, pegel.” ajak dia seakan tidak ingin cepat pulang dan mengakhiri hari lebih cepat. Lalu entah kenapa, gue mengeluarkan handphone dan earphone dari saku celana. “Pernah nonton Begin Again?” tanya gue.

 Dia mengangguk.

So, lo tau kan kira-kira gue mau ngapain?” kata gue.
Dia mengangguk, lalu tersenyum lebar, “Gue juga penasaran sama lagu-lagu sendu lo.” 

Gue juga tersenyum, lalu gue ulurkan earphone sebelah kiri ke dia, dan gue pake yang sebelah kanan. Gue pilih beberapa lagu dari Bruno Major, Destiny’s Child, Boyz II Men dan Sabrina Claudio yang sedikit banyak mengungkapkan isi pikiran gue. 

I’m sorry Al, I’m really sorry, gue pengen maju sama elo, gue pengen bikin progress, tapi lima bulan masih terlalu cepat buat gue, lo belum kenal gue, gue belum kenal elo. Gue belum tau perasaan elo, dan bahkan gue belum tau perasaan gue sendiri. Biarkan ini berjalan sebentar lagi, supaya elo dan gue bisa mengenal lebih jauh. Gue emang pengen elo, tapi mungkin sekarang lebih baik kita seperti ini. Gue cuma gamau, dan gue cuma takut lo pergi ninggalin gue, tanpa alasan. 

Karena mereka yang memilih pergi, meski suatu saat datang kembali, mereka tidak akan sama lagi.

“Al, serius lo waktu itu udah dua kali liat gue?” tanya gue.
Dia mengangguk, “Iya, gila aja kali kalo gue baru pertama liat elo, terus langsung nyapa. Gue ga seberani dan senekat itu. Untung respon lo positif ke gue.” 
“Tapi kenapa sampe berani mau nyapa duluan?” 
“Hmm, I don’t knowbut that’s worth to try kan?” jawab dia 

Gue mengangkat bahu, menggoda, “Entah hehe.”

“Ih!” dia mendorong gue pelan.

Kami larut lagi dalam alunan lagu, dia memejamkan mata, sesekali kepalanya mengikuti alunan musik. Fyuh, untung pilihan lagu gue ga dihina. 

Melihat dia seperti ini, duduk di sebelah gue, dengerin lagu bareng gue, jalan bareng gue, cuma satu pertanyaan yang pengen gue tanyain ke dia. 


Are you happy, Al?”


Dia mengangguk.


Are you?” tanya Alana balik ke gue.


 Gue diam, entah kenapa gue sendiri tidak tau jawaban dari pertanyaan itu.



Am I happy?



Klik disini untuk chapter berikutnya --> Hot Chocolate