Saturday, February 17, 2018

Gelato Paradise


Link buat baca part sebelumnya ---> Warung Langit

---------------------------------------------------

Buat gue, buku bukan hanya sekedar untuk dibaca, semakin majunya teknologi, semakin banyak fasilitas yang memudahkan kita untuk membaca. Sekarang, membaca berita ataupun karya fiksi bisa dilakukan dengan mudah melalui smartphone. Tapi ada kepuasan tersendiri ketika buku-buku yang gue baca berjejer rapi di rak buku. Gue menikmati aroma kertas dari buku-buku lama yang bahkan warnanya sudah berubah, menenangkan.

Gue dibesarkan dengan karya fiksi di sekitar gue, seri-seri dari Enid Blyton peninggalan masa kecil nyokap yang membuat gue jatuh cinta dengan dunia fiksi. Semakin dewasa, gue ‘berkenalan’ dengan penulis-penulis lain dengan karyanya masing-masing yang membuat gue jatuh cinta dengan cara mereka sendiri. Setiap penulis punya ciri khas, entah itu dalam membuka cerita, cara mereka menyampaikan pesan, membuat konflik, bahkan dari cara mereka mengakhiri sebuah cerita, mereka punya cirinya masing-masing. Gue menikmati rangkaian huruf yang mereka hasilkan menjadi rangkaian kata, gue menimati rangkaian kata yang mereka hasilkan menjadi sebuah cerita, gue menikmati semuanya.

“Serius banget, Mas, bacanya, sampe yang di sini dicuekin.” suara Kak Kila mengagetkan gue.
“Loh, kalian udah balik? Cepet amat.” kata gue sambil memberi pembatas pada halaman novel yang gue baca.
“Lamaa kalee, lo aja yang tenggelam sama dunia lo sendiri.” balas Kak Kila.
“Hehe, maap-maap. Ya udah, gue nyari makan juga deh.” kata gue sambil beranjak.

Gue lagi jalan sama Alana dan kakak sepupunya, Kak Kila. Ya, as you know kalo gue dan Alana ga begitu suka ke PIM, tapi karena Kak Kila minta ditemenin ke Linea, yang adanya di PIM, jadinya kami ‘terjebak’ di sini. Ini semua berawal dari beberapa jam yang lalu, gue mau jemput Alana, pas sampai di rumahnya, ternyata ada Kak Kila juga. Akhirnya kami jalan bertiga pake mobilnya Kak Kila, mendarat di PIM dengan selamat, dan berakhir di food court PIM 1 setelah muterin PIM. Menurut gue, ini asyik, kan sekalian pdkt sama anggota keluarganya yang lain. #uhuk. Gue jatuhkan pilihan makan gue ke Hot Star Large Fried Chicken —semacam XXL fried chicken kalo di Shihlin, tapi ini ga dipotongin— dan pesan minuman di tempat yang sama, setelah menunggu sekitar 15 menit, gue balik ke tempat duduk dengan XXL chicken di tangan kanan, dan minuman di tangan kiri, melihat Alana duduk sendirian di meja.

“Loh, kok sendirian? Kak Kila ke mana?” tanya gue sambil meletakkan minuman di meja.
“Baru banget ke toilet, lo ga makan nasi?” tanya Alana melihat makanan yang gue bawa.
“Engga ah, lagi pengen ini, jarang nemunya.” kata gue sambil mulai menggigit. “Abis ini tetep mau ke Gancit?” tanya gue.
“Tetep doong, eh, masih mau kan nemenin?” jawab Alana.
“Iyaa.” kata gue, lalu Ka Kila datang dan kami sibuk dengan makanan masing-masing.

Sambil sibuk mengunyah, gue perhatikan mereka berdua, ngobrol sambil sesekali tertawa. Pernah ga, kalian memutar kembali suatu kejadian, dan membuat serangkaian skenario baru di cerita hidup kalian itu? Gue sedang seperti itu, otak gue memutar kembali kejadian di Gramedia tempat Alana pertama kali nyapa gue. Andai hari itu gue ga ke Gramedia, andai hari itu gue ke Gramedia sejam sebelumnya, atau sejam setelahnya, andai waktu itu gue ke Gramedia tanpa berhenti di lorong fiksi, andai semua itu yang terjadi, apakah masih bisa gue ketemu dan kenal sama dua orang di depan gue ini? Semesta memang punya cara sendiri untuk mempertemukan kita dengan seseorang. Entah orang itu dipertemukan untuk sekedar kenal, atau bahkan ditakdirkan untuk singgah, sementara atau selamanya.

Ada saatnya semesta juga sedikit bercanda, di saat kita berusaha untuk bisa ‘meraih’ seseorang yang kita damba, malah datang seseorang yang sebenarnya kita ‘minta’ secara tiba-tiba. Skenarionya pun kadang tidak terduga, saling menabrak saat berjalan, duduk bersebelahan di kereta, papasan di gedung kampus, bahkan sesederhana bertukar pandang di tempat fotokopian lalu berlanjut perkenalan. Skenario gue adalah Alana menyapa gue saat itu, gue kembali berandai, andai waktu itu dia ga nyapa gue, apakah gue akan notice kehadiran dia, andai waktu itu gue memberikan respon yang berbeda, akankah tetap akan seperti ini jadinya?

Gue percaya setiap orang yang kita temui, punya porsi dan peran masing-masing dalam kehidupan kita. Ada yang hanya memiliki porsi untuk sekedar kenal, beberapa menjadi teman, sedikit menjadi sahabat. Ada juga mereka yang ditakdirkan untuk mengajarkan kepada kita tentang rasanya patah hati, rasa dikhianati, dan rasanya jatuh cinta setengah mati, mereka yang hanya ditakdirkan untuk kita damba, bukan untuk menemani hari-hari kita. Gue dan mantan gue sepakat, bahwa dia dan gue hanya memiliki porsi untuk saling berbagi, memahami, dan belajar bagaimana menjalin sebuah hubungan untuk satu sama lain, bukan untuk menjadi teman hidup hingga mata ini tertutup.

Gue belum tau, apa porsi kehadiran Alana dalam hidup gue. Gue rasa, gue hanya harus menikmati hari-hari yang gue jalani bareng dia, sampai akhirnya gue tau, apa porsi dan peran dia di hidup gue.

Drrrt drrrt, handphone gue bergetar.

Lah, ada telepon.

“Eh bentar ya, ada telepon nih.” kata gue ke Alana dan Ka Kila sambil beranjak pergi.

“Halo? Kenapa El? Ganggu ih, lagi jalan sama cewe.” kata gue di telepon. 
“Galak amat, Helen mau nanyain skripsi, Tio kan kual⎯ Wait, apa?”
“Hehe, lagi jalan sama Alana, nih, El.” gue nyengir.
“Hmmmmmm.”


Helen, dia ini that kind of girl-friend yang mau sedeket apapun ga akan jadi pacar, sama kaya Keyra (baca: Kopi dan Sirup). I know that I love them bothbut not that kind of love yang pengen jadi pacar, Keyra lebih gue anggep sebagai kakak, karena gue dari dulu selalu pengen punya kakak cewe. Nah, Helen, dia lebih gue anggep kaya nyokap sendiri. Bawaannya pengen manja-manja terus kalo sama dia. Helen ini temen kampus gue, satu fakultas, temen gue dari tingkat satu yang karena sekarang beda kelas jadi susah ketemu. Gue sama Helen bisa akrab karena otak kami yang sama-sama kotor dan rusak. Helen dan Keyra ini udah tau busuk-busuknya gue, aib gue, mantan gue, isi gallery hp gue, dosa-dosa gue semua mereka tau, dan mereka punya peran yang berbeda di tiap cerita hidup gue.


“Hoo, jadi yang ini serius nih,” kata Helen pas gue ceritain tentang Alana di awal-awal gue kenal Alana dulu. “it’s not about boobies anymore, huh?” matanya mengerling jahil.
What the fuck,  El.” jawab gue yang direspon dengan tawa kerasnya waktu itu.


Well, dulu waktu gue dan Helen sama-sama jomlo, kami suka duduk di satu sudut kampus, ngeliatin setiap cewe atau cowo yang lewat, well argue about their size or whatsoeverpictured them nakedand drowning in our imagination. Kebiasaan bodoh dan kotor, I know.


“Jadi, apa? Mau nanya apa tadi El?” tanya gue kembali di telepon.
“Ga jadi deh, Tio lagi jalan kan.” jawab dia.
“Lebaaaay, apaan ih.”
“Hmm, mau nanya yang lain aja, boleh?” kata Helen.
“Iyaa boleeh, apa?”
“Gimana perasaannya buat Alana?” tanya Helen dengan suara pelan.


Gue diam, gue beberapa kali mendapat pertanyaan seperti ini, dan setiap mendapat pertanyaan itu, tetap gue tidak bisa menjawab. Maksud gue, gue tidak pernah bisa memberi ‘label’ pada perasaan gue sendiri. Gue ga pernah tau, di mana batasan nyaman, atau sayang, atau cinta, atau apapun itu. Gue selalu butuh waktu yang lama untuk akhirnya bisa memahami perasaan gue sendiri, dan akhirnya selalu gue berakhir dengan kata-kata seperti, gantungin anak orang mulu lo! atau ga tegas banget jadi cowo, dan kata-kata lain dengan nada serupa.

“Bingung El.” jawab gue akhirnya
“Ah, selalu, itu terus jawabannya.” kata Helen kesal.
“Ya gimana dong, beneran bingung. Gue ga pernah bisa ngasih label ke perasaan yang gue rasain. Tertarik, udah pasti. Tapi selebihnya, gatau.” jawab gue.
Okaylet me ask you, seberapa jauh lo kenal dia? tanya Helen lagi.
“Hmm...” jawab gue menggantung.
Her name?”
Check.”
Her address?”
Check.”
Her size?”
“Hoy! pekik gue.
Helen terkekeh, “Take it easy, DarlingNexther birthday?
Gue menggeleng, yang gue pun tau Helen gabisa liat gue menggeleng. “Ngga tau...”
SeriouslyHer hobbies?”
Not sure...”
Her collageHer past?” 
Gue menggeleng lagi, “Ga tau juga, why do I have to know about her past anyway?”
“Hehe, but you do tell her about yoursyour past, kan?”
I did...” kata gue pelan.
“Hehe, ya udah deh, dadah Yoo, mmmuah!” Helen menutup telepon.


Di satu titik gue sadar, gue sebenernya ga tau banyak tentang Alana, selama ini gue ngapain aja? Gue jadi inget omongan Helen dulu, “Yo, jangan sampe salah mengartikan sifat baik seseorang. Mungkin buat kita, kita rasain nyaman, kita ngerasa sayang. Tapi belum tentu buat mereka. Jangan sampe akhirnya tersiksa karena salah mengartikan perasaan orang lain ke kita. Karena kita, selalu butuh kejelasan, selalu butuh kepastian.” Gue menggeleng-gelengkan kepala, mengusir pikiran itu dari kepala gue. Gue gamau berpikir terlalu jauh, untuk sekarang, gue hanya ingin menikmati hari-hari gue bareng Alana. Untuk sekarang, ini cukup, lebih dari cukup.


Gue berjalan kembali ke meja, gue lihat Kak Kila udah selesai makan, Alana lagi mengunyah suapan terakhirnya. Lah, cepet amat, perasaan gue nelpon ga lama-lama banget.


“Siapa Yo?” tanya Kak Kila.
“Temen Kak, nanyain skripsi gitu.” jawab gue.
“Oalah, kirain ada apa-apa. Eh lo berdua mau lanjut ke Gancit ya? Bawa mobil gue aja deh, gue mau balik ke rumah lo Al, pake gojek, kan deket.” kata Kak Kila memecah lamunan gue.
“Lah, ngga ikut, Kak?” tanya gue.
“Ngga ah, gue mau nyiapin presentasi buat besok, sambil ngaca-ngaca cantik pake sepatu baru hahahahaha.” tawa Kak Kila.
“Yeee curaang, udah dapet barangnya, langsung baliik.” kata Alana.
“Hehe, sorry, Honey.” Kak Kila mengecup pipi Alana. “Ya udah, cabut sekarang?” kata Kak Kila yang gue dan Alana balas dengan anggukan.

Kami menunggu hingga Kak Kila dapat Gojek, baru setelah itu pergi ke Gancit. Jarak antara PIM sama Gancit ini ga jauh sebenernya, tapi karena macet, hampir setengah jam kami baru bisa menginjakkan kaki di Gancit.

"...Kami menunggu hingga Ka Kila dapat Gojek, baru setelah itu pergi ke Gancit...."


 Salat Ashar, muter-muter dari Uniqlo, H&M, Giordano, sampai makan gelato di Gelato Paradise.

“Ih ternyata gelato tu enak ya!” kata gue girang.
“Hahahaha, segitunya, emang belom pernah?” Alana tertawa melihat ke-norak-an gue.
“Ini pertama kalinya Al, thank you by the way mau nraktir.” kata gue sambil tetap berbinar-binar.
“Hahahaha iya Yoo, abis lo hari ini diem aja sih, gue kan jadi takut, makasih juga udah mau nemenin, sampe bawain belanjaan gue segala.” jawab Alana.
“Hah? Emang iya gue diem?” kata gue kaget.
“Hehehe, iya, ah udah lah, thank you pokoknya.” kata dia sambil menyeka pipi kirinya. “Eh, gue mau nanya deh, lo kenapa sih kalo pake ­t-shirt tu dimasukkin gitu?” kata dia lagi.
“Oh, ini? Kenapa? Aneh ya?” kata gue sambil menunjuk baju gue. “Ga ada alasan khusus sih, gue pengen beda aja dari yang lain, gue ga pengen jadi mainstream, gue harus jadi yang beda sendiri.” gue menjelaskan.
“Hooo, engga sih. Ya, emang ga biasa, tadinya gue kira biar rapi atau baju lo kegedean.”
“Hahahaha no no, alasannya sesimpel itu, gue ga suka aja sama kaya kebanyakan orang, gimana biar beda? Yaudah gue masukkin aja bajunya, terinspirasi sedikit dari foto-foto bokap gue zaman kuliah.” kata gue sambil tertawa.


Gue kembali tenggelam dalam ke-norak-an gue sama si gelato ini, sampe gue sadar Alana ngeliatin gue, dia ngeliatin gue kaya tatapan seorang Ibu yang akhirnya bisa beliin anaknya paket panas McD untuk pertama kalinya. 


“Sori... gue kampungan banget ya...” kata gue pelan.
“Hahahahaha ngga Yoo, gue seneng aja liat lo semangat banget. Happiness looks good on you. Lo harus sering-sering kaya gini Yo, lo harus bahagia.”

Gue diam sebentar, melihat dia yang tersenyum manis ke gue, lalu gue ikut tersenyum. As long as I'm with you, Al

“Hehe, berarti lo harus sering-sering juga beliin gue gelato.” kata gue akhirnya.
“Hahahahahaha, maunya! Abis ini temenin gue ke satu tempat lagi, Yo.”
Okay, ke mana?”
“Ikut aja.”
Yes Mam!” gue pose hormat, yang dia balas dengan tertawa.

Setelah akhirnya gue selesai bernorak ria dengan gelato, (iya, gue lama-lamain biar ga cepet abis gelatonya) gue kembali ngikutin Alana, naik eskalator dua lantai, dan dari arah jalan ini, gue tau dia mau kemana. Ternyata bener tebakan gue, dia mau ke Gramedia.

“Hehe” dia tersenyum
“Hehe, mau nyari buku, Al?” kata gue yang dia balas dengan gelengan kepala. “Terus?” tanya gue lagi.
“Pengin  aja.” dia beranjak masuk ke dalam Gramedia, gue ngikut di belakang.

Kami berjalan masuk, melewati tempat alat tulis, yang membuat gue berhenti sebentar.

“Tau ga, Al, dulu, pas SMA, gue selalu pake pulpen ini, yang item sama yang pink.” gue menunjukkan sebuah pulpen Hi-Tech ukuran 0.3
“Hah? Buat apa? Itu kan mahal.”
“Iya, buat nulis aja, gue seneng nulis pake pulpen ini.” jawab gue sambil kemudian kembali mengikuti dia.

Sampai di lorong fiksi, Alana berhenti, gue melihat-lihat novel yang kira-kira akan mencuri perhatian gue. Lalu Alana menggumam pelan.

“Udah lima bulan, ya.”
“Apa?”
“Pertama kali ngobrol, di sini.” kata dia sambil meraba-raba novel di rak. “Yo, wanna know the truth?” lanjut dia.
“Hm?” kata gue sambil melihat dia.
“Gue udah liat elo, dua kali, sebelum akhirnya gue berani nyapa lo hari itu.” Alana tersenyum sebentar, lalu melanjutkan kalimatnya. “Gue masih inget, pertama kali liat elo di sini, lo beli Divortiare, terus gue liat lo lagi pas elo beli Twivortiare, Twivortiare 2, sama Critical Eleven. Lo cukup telat ya, ‘kenal’ sama karyanya Ika Natassa.”

 Gue masih diam, dan Alana masih melanjutkan kalimatnya. 

“Gatau kenapa, ngeliat elo exited pas beli buku-bukunya dia, bikin gue pengen bisa kenal, tapi gue ga berani, akhirnya gue janji sama diri gue sendiri, kalo gue sampe ketemu elo untuk ketiga kalinya, gue mau nyapa elo. Abis gue janji kaya gitu, hampir setiap minggu gue ke sini, dan lo ga pernah dateng lagi. Gue udah nyerah sebenernya, gue juga udah lupa sama elo, gue udah ga ke sini lagi. Sampe akhirnya lo muncul lagi, gue ga begitu yakin awalnya, rambut lo beda, kacamata lo ganti, tapi kemudian gue yakin kalo itu beneran elo, karena elo berdiri di situ sambil lagi-lagi megang novelnya dia, tiga tahun, sampe akhirnya gue berani nyapa lo di sini.” Alana mengakhiri kalimatnya, mengarahkan badannya ke arah gue.

Gue cuma bisa berdiri kaku di situ, menatap dia, tanpa tau harus ngomong apa. Gue selalu percaya bahwa semesta mempertemukan gue sama Alana begitu saja. Gue selalu percaya kalo Alana hanyalah perempuan biasa yang tidak sengaja melihat gue memilih novel di deretan penulis favoritnya. Gue selalu percaya bahwa semesta mempertemukan gue dan Alana sesederhana itu, sesederhana dia liat gue, lalu datang menyapa, tanpa rencana, tanpa usaha, dan tanpa embel-embel lainnya.

 Gue bingung.

“Awalnya gue ga terlalu tertarik sama elo, karena gue rasa elo cuma cowo biasa yang iseng mau beli novelnya Ika Natassa, tapi di pertemuan kedua, gue liat lo borong bukunya dia, dan gue seneng bisa nemu cowo yang punya kesukaan yang sama. Rasa tertarik gue ke elo semudah itu, gue jadi pengen kenal, pengen ngobrol sama elo. Karena gue gapunya banyak temen ngobrol yang punya kesukaan yang sama.” lanjut Alana.

 Gue tersenyum.

Ada banyak hal yang gue suka dari membaca fiksi, salah satunya adalah perasaan hangat, dan perasaan nyaman yang gue dapet setiap gue membaca sebuah novel. Entah itu cerita petualangan, drama, komedi, atau romance, dan perasaan-perasaan tersebut tidak bisa gue bagi dengan orang-orang terdekat gue. Keyra, dia sama sekali anti dengan cerita fiksi. Adek gue, well, dia baca beberapa koleksi gue, but he’s not really into it. Helen, ga hobi baca, dan gue sebegitu bahagianya saat gue tau dan gue ketemu Alana, gue bisa ngobrolin tentang hal yang gue suka, dengan orang yang memiliki kesukaan yang sama. Tidak bisa gue hitung berapa banyak gue dan Alana bertukar cerita tentang dunia fiksi, and in the end, yang kita butuhkan untuk menemani hari-hari kita adalah orang yang bisa kita ajak ngobrol kan? Dan buat gue, itu Alana.

Sekarang, gue menemukan alasan lain untuk jatuh cinta pada fiksi. Karena di lorong fiksi ini, gue menemukan ‘obat’ untuk semua luka yang gue punya, gue harap, obat ini bukan untuk sementara.

“Senyum doang... Kan malu jadinya...” ucap Alana.
“Hehe, dasar.”
“Apa...”
“Ngga hehe. Hey, Al,” kata gue yang dia balas dengan tatapan. “thank you.” lanjut gue.

 Dia tersenyum.

“Yuk.” ajak dia sambil menenteng sebuah novel karya Alicia Lidwina, Unspoken Words.

Gue dan dia lalu berjalan keluar, berdampingan, menjauhi Gramedia, tanpa kata, tanpa suara.  Berjalan pelan menuruni eskalator, lalu Alana menunjuk ke deretan tempat duduk.

“Duduk sebentar yuk, pegel.” ajak dia seakan tidak ingin cepat pulang dan mengakhiri hari lebih cepat. Lalu entah kenapa, gue mengeluarkan handphone dan earphone dari saku celana. “Pernah nonton Begin Again?” tanya gue.

 Dia mengangguk.

So, lo tau kan kira-kira gue mau ngapain?” kata gue.
Dia mengangguk, lalu tersenyum lebar, “Gue juga penasaran sama lagu-lagu sendu lo.” 

Gue juga tersenyum, lalu gue ulurkan earphone sebelah kiri ke dia, dan gue pake yang sebelah kanan. Gue pilih beberapa lagu dari Bruno Major, Destiny’s Child, Boyz II Men dan Sabrina Claudio yang sedikit banyak mengungkapkan isi pikiran gue. 

I’m sorry Al, I’m really sorry, gue pengen maju sama elo, gue pengen bikin progress, tapi lima bulan masih terlalu cepat buat gue, lo belum kenal gue, gue belum kenal elo. Gue belum tau perasaan elo, dan bahkan gue belum tau perasaan gue sendiri. Biarkan ini berjalan sebentar lagi, supaya elo dan gue bisa mengenal lebih jauh. Gue emang pengen elo, tapi mungkin sekarang lebih baik kita seperti ini. Gue cuma gamau, dan gue cuma takut lo pergi ninggalin gue, tanpa alasan. 

Karena mereka yang memilih pergi, meski suatu saat datang kembali, mereka tidak akan sama lagi.

“Al, serius lo waktu itu udah dua kali liat gue?” tanya gue.
Dia mengangguk, “Iya, gila aja kali kalo gue baru pertama liat elo, terus langsung nyapa. Gue ga seberani dan senekat itu. Untung respon lo positif ke gue.” 
“Tapi kenapa sampe berani mau nyapa duluan?” 
“Hmm, I don’t knowbut that’s worth to try kan?” jawab dia 

Gue mengangkat bahu, menggoda, “Entah hehe.”

“Ih!” dia mendorong gue pelan.

Kami larut lagi dalam alunan lagu, dia memejamkan mata, sesekali kepalanya mengikuti alunan musik. Fyuh, untung pilihan lagu gue ga dihina. 

Melihat dia seperti ini, duduk di sebelah gue, dengerin lagu bareng gue, jalan bareng gue, cuma satu pertanyaan yang pengen gue tanyain ke dia. 


Are you happy, Al?”


Dia mengangguk.


Are you?” tanya Alana balik ke gue.


 Gue diam, entah kenapa gue sendiri tidak tau jawaban dari pertanyaan itu.



Am I happy?



Klik disini untuk chapter berikutnya --> Hot Chocolate




Saturday, January 20, 2018

Warung Langit


Link buat baca part sebelumnya --> Taman Kota Jakarta 

----------------------------------------------

Dalam psikologi kepribadian, ada empat tipe kepribadian manusia, yang gue yakin kalian juga sering mendengar keempat tipe ini. Melankolis, si teratur, perfeksionis tapi sensitif. Sanguin, si ceria, hangat, tapi kadang berpikir dangkal. Plegmatis, si santai, ramah, penyabar, tapi tidak tegas. Terakhir, ada Koleris, si aktif, mandiri, tapi kasar. Lah, ini udah kaya faksi-faksi di film Divergent.

Dari keempat tipe itu, gue condong ke faksi melankolis, tapi setelah gue cerna lagi, banyakan aspek yang jelek-jeleknya... Gue suka nyalahin diri gue sendiri, rendah diri, ga bisa cepet kalo ambil keputusan, karena semua harus gue pikir mateng sampe bikin plan a-z. Gue juga lebih sering sendu-haru-biru ga jelas, berbanding terbalik sama Alana yang menurut gue adalah seorang Sanguin. Dia tu cheerful, suka ngomong, gampang cairin suasana, berisik lucu gajelas, gue sering kebawa happy kalo lagi bareng dia. Warna dia itu cerah, ga kaya gue yang selalu kelabu, siapa tau dia bisa mencerahkan hidup gue yang sendu-biru #bhihik.

Kenapa tiba-tiba gue bahas ini? Ya gapapa, pingin aja. Oke. Skip.

Nah, setiap akhir tahun, gue selalu kumpul keluarga besar di Bandung, gue selalu menantikan momen itu, kumpul sama adik-adik sepupu, main kembang api di malam tahun baru, bakar-bakaran rumah, asik deh pokoknya. Tapi, taun ini lebih asik, kenapa? Karena gue bisa jalan-jalan di Bandung sama cewe, siapa cewe itu? Ya Alana #uhuk.

By the way, sejak jalan seharian sama Alana di taman Ayodya waktu itu, kami jadi makin rutin chat, tapi baru ada kesempatan ketemu lagi di Bandung ini. Gue janjian sama dia buat main di Bandung, karena kebetulan dia ada acara nikahan saudaranya di sebuah hotel di Bandung tanggal 24 Desember kemarin. Gue pinjem mobil om gue malem itu, nyetir ke arah Dago atas, jalanan ramai-ramai lancar, gue sampe hotelnya sekitar pukul delapan malam, gue iMessage Alana kalo gue udah parkir deket lobi, kebetulan ada yang baru keluar. Gue keluar mobil, mengeluarkan sepuntung rokok, eh, gue kan ga ngerokok, ini rokok siapa lagi gue pegang, ngaco ah. Gue lemparkan pandangan ke sekeliling, bengong ngeliatin ini hotel gede banget, sibuk bengong, eh, gue liat ada tiga perempuan cakep-cakep lagi jalan keluar lobi, dengan setelan warna navy-gray gelap gitu di baju dan peach gelap di roknya, pakaian mereka seragam. Astaga, itu yang sebelah kiri kan si Alana, ini pertama kalinya gue liat dia didandani, rambutnya diapain itu namanya gue ga ngerti, pokoknya jadi sedikit bergelombang, riasan di wajahnya tetap ngga menor, tipis kaya biasanya, gimana ya jelasinnya, dari outfit-nya dia keliatan dewasa, tapi aura lucu imut-nya juga ga ilang dari wajahnya, dan yang pasti, Sanguin-nya dia yang selalu terlihat “cerah”, selalu ceria seperti biasa, ah, gemeter lagi kan gue. Gue melambaikan tangan ke arah Alana, dia senyum membalas lambaian gue, lalu mereka bertiga jalan ke arah gue. Eh wait, gue liat Alana, terus gue liat diri gue sendiri, ­cuma kaus hitam, jaket jeans, blue jeans, sama sepatu, lah ini berasa gue supirnya Alana kalo liat outfit dia. Sial.

"...dari outfit-nya dia keliatan dewasa, tapi aura lucu imut-nya juga ga ilang dari wajahnya..."


“Hey!” sapa Alana setelah sampai di depan gue.
“Hey.” jawab gue sedikit gemetar, ini kayanya Bandung tambah dingin apa gimana?
“Oh iya, ini sepupu-sepupu gue, Kak Kila sama Daniza.” kata dia sambil menunjuk mereka bergantian yang kemudian gue salamin satu-satu. Beuh, ga akan cuci tangan dua hari ini gue kayanya.
“Tio, hehe.” kata gue pada mereka berdua.
“Hehe, okedeh, kita ga akan ganggu momen lo berdua hahaha, yuk, ah, Dan, kita masuk lagi. Eh, itu si Alana lo culik aja gapapa Yo, nyokapnya biar gue yang urusin hahahaha, bye!” kata Kak Kila ke gue sambil mengedipkan matanya.
“Kaak Kilaaa, hush hush ah sana.” kata Alana mendorong mereka berdua.
“Iyaa, kita cabut inii, take care Al, Yo.” kata Daniza tersenyum lebar. Lalu mereka berlari kecil sambil tertawa, masuk lagi ke hotel, sementara gue cuma bisa cengar-cengir.    
Sorry, ya, Yo, mereka sepupu gue yang emang deket, katanya penasaran gue mau pergi sama siapa hehe.” kata Alana.
“Gapapa kali. Tapi, lo paling pendek ya.” kata gue ga sadar sama diri sendiri.
“Eh siaaaal yaaaa.” kata dia sambil mendorong badan gue yang gue balas tertawa.
By the way, ini gue ga perlu pamit sama nyokap atau bokap lo?” kata gue kemudian.
“Ga perlu kok, gue udah pamit, tadi kan udah ketemu Kak Kila sama Daniza juga.” jawab Alana.
“Ooh, okedeh, jalan sekarang?” kata gue.
Hayuk.” jawab Alana sambil membuka pintu mobil.

Kami berdua muter-muter Bandung di Minggu malam itu, beneran muter-muter aja, sambil dia cerita-cerita kegiatannya, gue seperti biasa sebagai pendengar yang baik, sesekali menimpali sambil bercanda. Ceria sekali dia hari ini, gue ngebayangin gimana cheerful-nya anak gue sama dia nanti, oke, silakan muntah, gue juga geli. Kami sempet ke Cihampelas sebentar, jalan kaki di skywalk barunya itu, sampai akhirnya kami ke Two Cent Cafe. Gue bisa merasakan seluruh tatapan mengarah ke kami sejak kami masuk ke cafe ini. Ya iyalah, mungkin mereka mikir, baik amat ini majikan mau ngajak supirnya nongkrong. Hanya ada sisa satu tempat, bentuk sofa, baguslah, empuk.

“Enak juga ya, Yo, tempatnya, lo sering ke sini?” kata dia setelah duduk dan memesan Latte.
“Baru sekali sih, ini yang kedua.” jawab gue.
“Oh iya, gimana-gimana, cerita dong, keluarga besar lo di sini semua?” kata dia sambil memiringkan badannya ke arah gue.
“Iyaa, adik-adik sepupu gue ada enam di Bandung semua, satu sama gue di Depok, satu lagi di Semarang, tapi setiap akhir tahun semuanya kumpul di Bandung, lumayan, temu kangen.” jawab gue menjelaskan.
“Iih enak dong ya, rame, lo anak tunggal kan?” kata dia lagi.
“Iya, elo?” tanya gue.
“Gue juga anak tunggal, makanya gue seneng kalo udah bareng Kak Kila sama Daniza, gue sama Daniza seumuran, tapi beda dua tahun sama Kak Kila, dan kita akrab dari kecil, makanya kompak hehe.” kata dia sambil nyengir.

 Gue ngangguk-ngangguk.

"Eh, kita sama-sama anak tunggal, jangan-jangan kita jodoh, cieee." kata dia ngedorong badan gue, ngegodain.

Gue bisa ngerasain betapa panasnya muka gue digodain gitu, ga lucu nih Alana becandanya, bikin pengen gue amin-in. Gue langsung menenggak Hot hocolate gue, ngilangin kikuk.

“Eh, emang umur lo berapa sih?” kata gue tiba-tiba penasaran.

 Dia ngeliatin gue jail, lalu berbisik pelan sambil meletakan jari telunjuk di depan bibirnya.

“Ra-ha-sia, weeekk.” kata dia sambil menjulurkan lidahnya, ngeledek.
“Hahahahahahaha ngeseliin.” kata gue yang dia bales tertawa. “Cantik-cantik ya mereka.” kata gue lagi.
“Iya dong, mereka emang cantik-cantik banget! Tinggi, langsing, banyak yang suka.” kata dia lagi.
“Ah, gue lebih suka sama elo.” yhaaa kampret, ngomong apa gue.
“Gombaaaaaaal.” kata dia sambil nepuk lengan gue.

 Ah, tepukan di lengan ga pernah sebahagia ini.

“Hahahaha.” gue ketawa kuda. Padahal gue ga gombal huhu.

Gue bisa merasakan lagi tatapan iri dengki para laki-laki jahanam di cafe ini, yang seakan ga ikhlas liat cewe secakep Alana nongkrong sama Anoa kaya gue.

“Eh, lo gapapa kan, lo udah cakep parah gitu, tapi gue cuma gini setelannya.” kata gue.
“Ih gapapa kali, gue suka kok style lo yang kaya gini, simple, lo banget. Lo ya diri lo sendiri, ga harus jadi orang lain. Gue suka.” kata dia sambil senyum menatap ke arah gue. 
“Ya mana tau lo ilfeel nongkrong sama Anoa gini.” kata gue nyengir.
“Ha? Anoa? Hahahahahaha. Apaan, deh, Yoo.” kata dia tertawa sambil mendorong gue pelan.

Sampai akhirnya cafe udah mau tutup, kami akhirnya menyerah, setelah lampu-lampu di cafe mulai dimatiin. Hmm, mengusir secara halus. Kami akhirnya berjalan ke mobil, dan ternyata sudah dinanti oleh tukang parkir yang setia, thank you very much.

“Yo, ke mana lagi sekarang?” kata Alana sambil make seat belt.
“Hah? Gue mau anterin lo balik ini.” jawab gue.
“Yah, masih pingin main, Yo, kan lo mau nyulik gue, kapan lagi bisa jalan-jalan di Bandung malem-malem gini.” kata dia. Lo hebat kalo bisa tahan liat ekspresi super duper imutnya ini lebih dari 10 detik. Gue liat dua detik aja udah pengen nikah rasanya.
“Hahahaha, beneran gapapa emang?” tanya gue yang dia jawab dengan anggukan.
“Hmm, sebenernya abis nganter lo, gue mau hunting foto city light di daerah Dago atas, apa lo mau ikut gue hunting aja?” kata gue menawarkan.
“Mauuuuu!” kata dia semangat.
“Okedeeeh.” kata gue ikut semangat.
    
Gue muterin lewat Asia-Afrika, Braga, karena katanya dia mau liat. Sepanjang jalan dia buka jendela, senandung ga jelas, nunjuk-nunjuk objek yang menarik perhatiannya, bercanda minta mampir ke North Sea Bar Braga, seneng banget kayanya. Ah, 2017 sepertinya akan berakhir indah.

“Eh Yo, setel lagu dong dari hp lo, hp gue lowbat nih.” kata dia.
“Boleh, nih pilih, di Spotify aja biar lo bisa milih lagu yang lo suka.” kata gue sambil memberikan hp gue.
“Hmmm, gue liat-liat lagu lo ah, katanya kan tipe orang bisa diliat dari lagu-lagunya.” kata dia dengan muka jailnya lagi.
“Hahahahaha teori apaan itu.” kata gue.
“Yo, lagu-lagu lo... sendu semua ya... puk puk” kata dia sambil menatap gue dan menepuk-nepuk pundak gue.
“Hahahahaha enaak tauu.” jawab gue.
“Eh, recently played lo... Lo suka Taylor Swift?” kata dia lagi.
“I...ya... Her first two albums were magical. Kenapa?” jawab gue sambil melihat ke arahnya.
“Iya sih bener, gue setuju, masih country-pop gitu, liriknya sederhana tapi kerasa jujur banget.” kata dia.
“Nah, itu. Gue ada playlist lagu yang gue suka dari tiga album pertamanya dia, coba aja liat, siapa tau lo suka.” kata gue.
“Iya, gue setel itu aja ya.” kata dia sambil mulai memilih playlist yang gue maksud.

Suara Taylor Swift mengalun memenuhi mobil, gue liat dia sesekali, sebentar ketawa, sebentar takut karena jalan yang gelap, terus ketawa lagi, terus tiba-tiba dia ngomong.

“Lo pernah pacaran, Yo?” kata dia sambil melihat ke arah gue.

 Gue ngeliat ke arah dia sebentar.
    
“Sekali.” jawab gue pelan.
“Wow, gue kira lo tipe-tipe pengoleksi mantan.” kata dia.

Pengoleksi mantan apaan, nembak cewe aja ga berani, kata gue dalem hati.

“Pffft, ngga lah. Terus, elo?” tanya gue.
“Dua kali.” jawab dia.
"What a lucky guy.” kata gue.
"Hehe, mereka ga asik, Yo, ga kaya elo." kata dia yang bikin gue kaget setengah mati. Rasa kagetnya udah kaya lo nyetir mobil posisi gigi 5, terus langsung lo pindah ke gigi 1. Alig ga tuh?
"Gombaaaaaal." bales gue akhirnya.
"Hahahahahaha." dia cuma ketawa. "Lo kenapa putus, udah lama?" kata dia lagi.
"Beda agama hehe, gue putus pas akhir-akhir tingkat satu kalo ga salah. Kayanya udah jalan setaun lebih deh.” jawab gue.

Dia cuma ngeliatin gue.

"Hehe, bodoh ya? Namanya anak muda, belom mikir panjang, cuma mikirin ego hehe. Tapi gue cuma nangis semingguan kok, strong kan gue? Hahahahaha.” kata gue lagi.
Sorry...” kata dia pelan sambil ngeliat gue.
“Hahahaha it’s okay Al, gue udah berdamai sama perasaan itu kok.” kata gue sambil tanpa sadar ngelus-elus rambutnya.

Ada hening beberapa detik, sampai akhirnya dia membuka mulutnya.

“Mantan gue yang pertama, selingkuh, yang kedua ga pernah ada buat gue. Gue pacaran bukan karena nyari status, gue pengen dan gue butuh orang yang ada buat gue...” dia diam sebentar.
“Percuma kan dia bisa ngasih gue jam mahal, tapi ga bisa ngasih sedikit waktunya buat gue.” kata dia melanjutkan.
“Hehe.” gue nyengir kuda, bingung mau ngomong apa.
“Beruntung ya mantan lo, lo sampe segitunya, at least lo ga main-main kan.” kata dia lagi.
“Hehe, gue yang beruntung, dia banyak ngajarin gue tentang menjalin sebuah hubungan, gue belajar banyak dari dia. Dia bisa bikin gue lupa sama cinta pertama gue.” jawab gue pelan.
“Cinta pertama lo?” kata dia memiringkan badannya ke arah gue.
“Yups, alig juga sih itu, itu cerita dari SMP, 9 taun yang lalu, dan dia masih sering dateng ke pikiran gue, sampe sekarang. Sempet ilang pas gue sama mantan gue, tapi setelah itu, entah kenapa sosoknya masih sering mampir. Ya akhir-akhir ini udah jarang sih. Semakin ke sini, gue semakin mencoba untuk berdamai sama keadaan, sama kenyataan. Gue ga mau stuck di dia terus.” jawab gue menjelaskan.
“Kalian deket?” tanya dia.
“Dulu, kami deket, bahkan dia masih mau ‘ada’ buat gue di salah satu momen terburuk di hidup gue saat itu, tapi mungkin gue aja kali ya yang ngerasa gitu hahaha. Tapi kemudian gue rasa ada satu momen, yang bikin dia bener-bener membuat jarak dari gue. Gue bikin salah, mungkin terlalu banyak, sampe gue bener-bener ga tau kesalahan apa yang bikin gue sama dia jadi sangat jauh. Sampe sekarang, gue ga tau alasan dia ‘pergi’.” kata gue.
“Hmm... Ga pernah jadian?” tanya dia lagi.
“Ga pernah, well, sejujurnya, dulu gue ga tau kenapa, tapi sekarang gue sadar, she’s never looked at me the way I looked at her, gue rasa itu ga akan berubah, dan gue rasa itu menjawab semua pertanyaan yang ada di kepala gue. she’ll never look at me the way I look at her.” gue senyum sambil ngeliat ke arah dia.

 Ada hening sejenak, dia cuma ngeliatin gue.

“Yoo...” kata dia pelan.
“Apaa, hahahahaha.” jawab gue.
I’m so sorry, dalem banget ya buat lo?” kata dia lagi.
“Hahahaha begitulah, mereka berdua membuat gue tenggelam di dua perasaan berbeda yang sama dalemnya, mantan gue mengajarkan rasa sakitnya perpisahan, first love gue mengajarkan apa itu cinta bertepuk sebelah tangan, dan susahnya melupakan. But hey, a real first love selalu punya tempat spesial kan buat kita?” kata gue yang dia jawab dengan anggukan.
“Gue belum pernah sedalem itu...” kata dia.
“Ntar juga lo nemu kok, yah, sori-sori, jadi sendu gini, eh, lagu kesukaan gue nih, Untouchable!” kata gue saat intro lagu Untouchable mulai mengalun.

“Yoo... Sekarang lo gimana?” kata dia pelan.
“Sekarang? Muuuuch better, kan ada elo di sini.” jawab gue jujur.
“Iih... gombal terus...” kata dia merajuk.
“Hahahahaha.” gue tertawa. Tertawa karena kejujuran gue hanya dikira gombal...

Ga lama, kami berdua sampe di tempat gue mau hunting foto, daerah Warung Langit. Gelap, karena emang udah lewat tengah malem.

“Udah sampe nih.” kata gue sambil memarkirkan mobil.
“Oh di sini? Ih gelap banget Yo.” kata dia sambil melepas seat belt.
“Iya, gimana? Mau balik aja?” kata gue menawarkan.
“Ih ngga lah, gue cuma bilang aja, yuk.” kata dia sambil membuka pintu mobil.
    
Gue turun dari mobil, mengambil tas kamera di kursi belakang, gue liat dia kedinginan, ya bajunya gitu, gue pun berinisiatif memberikan jaket gue ke dia, asli bukan modus, karena gue juga belum merasa kedinginan, dia lebih butuh.

“Nih, pake aja, lumayan tangan lo jadi ga begitu dingin.” kata gue sambil memberikan jaket gue ke dia.
“Elo gimana?” kata dia.
“Yah, segini mah masih biasa, dulu gue SD berangkat sekolah lebih dingin dari ini hehe. Tuh, liat lampu-lampu kota Bandung.” kata gue sambil mengeluarkan kamera.
“Iya Yo, bagus ya ternyata dari atas sini.” kata dia sambil memakai jaket gue. “Ternyata kita tu kecil ya Yo, dunia ini gede banget. Kita emang ga pantes sombong.” kata dia lagi.
    
Gue ngeliat dia, lama. Gue pernah ngomong hal yang sama dulu, persis. Gue ngerasa dejavu. Tuhan, apakah ini takdir? Hahahaha yakali.

Gue mulai ambil beberapa foto, gue lebih banyak ngambil foto long exposureshutter speed lambat, biar ada efek di city light-nya. Sekitar 15 menitan, gue liat Alana udah meluk-meluk badannya sendiri, ya emang tambah dingin sih disini.

“Udah yuk.” kata gue sambil ngajak dia jalan ke mobil.
“Eh, kok udahan?” kata dia mengikuti gue di belakang.
“Nih, mau liat-liat ga?” kata gue memberikan kamera ke dia.
“Mauuu.” jawab dia.
    
Kami duduk di mobil, dia ngeliat hasil foto gue, gue ngeliatin wajahnya. Indah.

“Bagus-bagus, Yo! Lo suka foto-foto ya?” kata dia sambil terus melihat hasil foto gue.
“Yah lumayan, hobi, walaupun ga jago-jago banget.” jawab gue.
“Ihh ini bagus-baguus, ini juga ada hasil foto lo yang lain ya? Gue boleh liat?” kata dia yang gue jawab dengan anggukan.

 Dia liat semua hasil foto-foto gue yang ada di kamera itu, sesekali ber-“waah” ria, ah, gue ngerasa hangat.

“Yo, gue boleh ikut ga kalo lo mau hunting foto lagi?” kata dia setelah selesai melihat hasil foto gue.
“Boleh dong, tapi kalo lo ada tugas gambar atau lo mau gambar, gue juga boleh ikut ya?” kata gue.
Deal!” kata dia senyum sambil memberikan kamera ke gue.
“Yaudah, balik ya sekarang?” kata gue.
“Okeeey bosquu!” kata dia sambil mengacungkan jempol.

Di perjalanan pulang, gue setel lagu-lagu slow, dia yang keliatannya capek cuma diem di mobil sambil nusuk-nusuk lengan kiri gue pake jarinya.

“Yo...” kata dia tiba-tiba ngagetin gue.
“Yaps?” jawab gue.
“Hmm...” kata dia menggumam.
“Kenapaaa?” gue liatin dia.
“Itu...” dia nunduk.
“Kenapa sih Aaal.” kata gue gemes.

 Dia diem agak lama.

“Lapar...” kata dia pelan.

Krik

Gue diem, kaget lucu. Dia juga diem

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA, astaga gue kira apaaan Aaal.” gue tertawa lepas.
“Iih malah ketawa! Sebel aaah!” kata dia merajuk, memeluk lututnya, lalu menghadap ke jendela.
“Hahahahaha jangan ngambeek, iya kita cari makan yaa.” kata gue akhirnya.
“Iya... hehehe.” jawab dia. “Ini lagu-lagunya enak-enak, Yo, playlist elo?” tanya dia kemudian.
“Bukan, ini playlist-nya Spotify, Warm Fuzzy Feeling judul playlist-nya.” jawab gue.
“Enak-enak.” kata dia yang gue jawab dengan anggukan.

Kami menuruni Dago atas yang gelap-sepi-dingin malam itu, dia ga terlalu banyak gerak kaya pas berangkat, cuma senandung-senandung kecil ngikutin lagu. Selang dua lagu kemudian, gue liat dia malah ketiduran. 

Gue liat dia, jari-jari mungilnya, rambut hitam-kecoklatannya, hembusan pelan nafasnya. Gue bergumam pelan. 

Hey Al, lo tau, kenapa gue suka lagu Untouchable itu? Karena lagu itu, ngingetin gue tentang elo.

     In the middle of the night
     When I'm in this dream
     It's like a million little stars
     Spelling out your name
     You gotta come on, come on
     Say that we'll be together
     Come on, come on    
     Little taste of Heaven

Gue mau selalu ceria, bareng elo. Gue mau mencerahkan hari-hari sendu-biru gue, bareng eloGue mau menutup luka lama gue, gue mau menutup lembaran kisah lama gue, gue mau melawan rasa takut gue dalam menjalin hubungan, gue mau mulai cerita baru dalam hidup gue, bareng elo.

 Gue mau bareng elo, Al.

 Gue mau selalu bareng elo.

 Alana.

 Gue mau elo.


    

    
     Klik disini untuk chapter berikutnya --> Gelato Paradise