Haloo
semuanyaaa!
Gimana-gimana
kabarnya? Sehat?
Eh,
udah lebaran ya, mohon maaf lahir batin dulu dong sini. *sungkem*
Ada
momen seru apa nih di lebaran kali ini? Ha? Mantan ngajakin nikah?
Kereeen, gue juga mau bagi-bagi momen lebaran nih,
tapi gue gamau bagi-bagi momen bahagia, karena semua orang udah berbagi
kebahagiaan pas lebaran, dan gue kan ga suka jadi mayoritas, postingan ini
bakalan santai aja, ga terlalu “serius” dalam pembawaannya, tapi semoga tetep
ada makna yang bisa diambil, so
sambil ditemenin nasi rendang dan segelas janji palsu, yuk mulai!
Lebaran, pasti selalu jadi momen seru,
momen bahagia, momen kemenangan dimana kita kembali fitri, momen dimana kita
berhasil mengalahkan nafsu selama sebulan penuh, menambah pundi-pundi amal, dan
pastinya saat yang tepat buat menjalin kembali tali silaturahmi.
Tapi, lebaran juga bisa jadi momen yang
menyakitkan.
Kenapa?
Karena..
Karena kita tidak bisa menikmati, dan menjalani
momen lebaran dengan orang yang kita cintai. Mungkin ini lebaran pertama tanpa
pasangan, mungkin ini lebaran pertama kita ngga sungkem sama keluarga pacar. Mungkin,
ini lebaran pertama tanpa keluarga yang lengkap, ada keluarga yang ngga bisa
hadir karena ada keperluan sampe ga bisa mudik, atau mungkin, ini lebaran
pertama sejak ditinggal pergi anggota keluarga yang udah dipanggil Tuhan untuk
pulang.
Kita terlalu fokus melihat kebahagiaan di
hari lebaran, sedangkan gue tertarik untuk melihat sisi lain dari hari lebaran,
yaitu kesedihan.
Ada temen gue yang merasakan bahwa momen
lebaran kali ini bukanlah momen dimana dia pengen melakukan semua hal-hal
bahagia. Justru di momen lebaran kali ini, rindu, tangis dan penyesalannya yang
memenuhi hari lebarannya.
Iya, ini lebaran pertamanya tanpa sosok ayahnya.
Sosok ayah yang selalu memimpin saat akan
berangkat solat ied.
Sosok ayah yang selalu bersemangat saat bagi-bagi
thr.
Sosok ayah yang selalu riang saat foto keluarga
besar.
Sekarang...
Tidak ada lagi pemimpin saat akan berangkat solat
ied.
Tidak ada lagi semangat saat bagi-bagi thr.
Tidak ada lagi senyum ayah terlihat di foto keluarga
besar.
Dia rindu. Dia rindu sosok ayahnya.
Yang selalu membelai lembut rambut panjangnya
dalam diam.
Yang selalu menjadi tujuan pertama saat ada yang
melukai hatinya.
Yang selalu tersenyum tanpa menghakimi saat ada
masalah dalam hari-harinya.
Yang selalu memeluk erat sambil meminta maaf atas
ketidaksempurnaannya dalam menjaga, mendidik, dan memberi contoh dalam
hidupnya.
Yang akan selalu menjadi cinta pertamanya.
Dia menangis.
Bukan karena dia lemah.
Dia menangis.
Tangis penyesalan.
Dia menyesal.
Karena terlalu asik dengan teman-temannya.
Karena terlalu sibuk dengan kuliahnya.
Karena tidak pulang kerumah saat ada jeda di
kuliahnya.
Sekarang...
Dia tidak punya waktu lagi untuk ayahnya.
Dia tidak punya kesempatan lagi untuk memeluk
ayahnya.
Dia tidak punya lagi tujuan untuk melepas air
matanya.
Dia tidak bisa lagi melihat senyum ayahnya.
Dia tidak bisa lagi melihat cinta pertamanya.
Gue ngga bermaksud membuka lagi luka, kalau
ternyata kalian punya cerita yang sama kaya temen gue ini. Gue hanya ingin
membuka mata kalian, kalau ada sisi lain selain kebahagiaan di hari lebaran.
Temen gue juga ga seterusnya sendu. Bukan selalu
berdiam diri di kamar meratapi kepergian ayahnya. Dia tetap upload foto cantiknya pake baju lebaran kembaran
sama adik dan ibunya, dia juga tetap ceria menyambut hari raya, dia juga tetap
foto-foto sama teman rumah masa kecilnya. Dia sama seperti kita, membagi
kebahagiaan di sosial media, menebar senyum di sekitarnya, dia melakukan hal
itu supaya dia lupa sesaat tentang kepergian ayahnya. Tapi kenangan itu memang
kurang ajar, selalu datang tanpa meminta izin dari orang yang bersangkutan.
Dia ingat ayahnya.
Dan dia rindu.
Tapi dia sosok yang kuat, sebagai kakak yang
membuat adiknya bisa bangkit bersama menghadapi kehilangan.
Dia sosok yang kuat, sebagai anak yang selalu
memeluk ibunya.
Dia sosok yang kuat.
Gue ngga bisa apa-apa saat dia cerita kalo ayahnya
meninggal. Gue tercekat, tenggorokan gue kaku. Gue tau betapa dekatnya dia sama
ayahnya. Gue cuma bisa meluk dia saat itu, diam, tidak perlu kata-kata “tabah
ya” atau “kuat ya” atau “Ayah udah seneng disana” karena dia tidak butuh itu, dia
tidak butuh saran apapun, dia hanya butuh didengarkan. Dia tidak meminta orang
lain untuk memahami perasaannya. Karena seperti postingan gue dulu, semua orang
punya skala sakit masing-masing yang ga akan sama. Orang ga akan mengerti
perasaan sakit sesorang. Dia hanya butuh ditenangkan.
Seperti saat ini, saat akhirnya dia cerita tentang
rindunya yang datang kembali. Gue tidak perlu mengucapkan apapun, cukup
mendengarkan, dan memeluknya dalam diam.
Gue sendiri ngga tau mau gimana kalo gue yang ada
di posisi dia, mungkin gue ga sekuat dia, atau mungkin gue bisa lebih kuat dari
dia.
Gue mungkin hanya sering merasakan versi kecil
dari ditinggalkan, ditinggalkan seorang wanita secara tiba-tiba tanpa alasan
apapun, chat tidak dibalas, chat ga di-read, dikacangin, adalah sesuatu yang sangat biasa buat gue. Hina
sekali memang gue...
Tapi, walaupun hal itu sering kejadian, ada dua
sisi yang gue rasakan. Di satu sisi, tidak ada yang berubah. Rasa sakitnya ngga
ilang, rasa sakitnya ga berkurang. Tapi yang berubah adalah bagaimana gue
mengatasi dan ga terlalu kaget lagi saat hal itu kejadian.
Sampe akhirnya, gue sudah tidak lagi berekspektasi
pada seorang wanita. Karena ekspektasi gue selalu patah, dan gue tidak ingin
lagi merasakan kecewa saat ditinggalkan, kecewa saat chat tidak dibalas, dan lain sebagainya. Karena itu, gue memilih untuk tidak memulai "sesuatu" dengan wanita.
Hehe, makanya jangan mudah percaya dengan gue yang
di sosial media. Sini, duduk berdua, ngobrol serius sama gue, baru judge gue orang yang seperti apa.
Ah, udah deh, panjang amat. Maapin ya! Selamat
lebaraaaann!!!!