Tuesday, June 27, 2017

Sisi Lain Lebaran

Haloo semuanyaaa!
Gimana-gimana kabarnya? Sehat?
Eh, udah lebaran ya, mohon maaf lahir batin dulu dong sini. *sungkem*
Ada momen seru apa nih di lebaran kali ini? Ha? Mantan ngajakin nikah?
Kereeen, gue juga mau bagi-bagi momen lebaran nih, tapi gue gamau bagi-bagi momen bahagia, karena semua orang udah berbagi kebahagiaan pas lebaran, dan gue kan ga suka jadi mayoritas, postingan ini bakalan santai aja, ga terlalu “serius” dalam pembawaannya, tapi semoga tetep ada makna yang bisa diambil, so sambil ditemenin nasi rendang dan segelas janji palsu, yuk mulai!



      Lebaran, pasti selalu jadi momen seru, momen bahagia, momen kemenangan dimana kita kembali fitri, momen dimana kita berhasil mengalahkan nafsu selama sebulan penuh, menambah pundi-pundi amal, dan pastinya saat yang tepat buat menjalin kembali tali silaturahmi.

      Tapi, lebaran juga bisa jadi momen yang menyakitkan.

      Kenapa?

      Karena..

      Karena kita tidak bisa menikmati, dan menjalani momen lebaran dengan orang yang kita cintai. Mungkin ini lebaran pertama tanpa pasangan, mungkin ini lebaran pertama kita ngga sungkem sama keluarga pacar. Mungkin, ini lebaran pertama tanpa keluarga yang lengkap, ada keluarga yang ngga bisa hadir karena ada keperluan sampe ga bisa mudik, atau mungkin, ini lebaran pertama sejak ditinggal pergi anggota keluarga yang udah dipanggil Tuhan untuk pulang.

      Kita terlalu fokus melihat kebahagiaan di hari lebaran, sedangkan gue tertarik untuk melihat sisi lain dari hari lebaran, yaitu kesedihan.

      Ada temen gue yang merasakan bahwa momen lebaran kali ini bukanlah momen dimana dia pengen melakukan semua hal-hal bahagia. Justru di momen lebaran kali ini, rindu, tangis dan penyesalannya yang memenuhi hari lebarannya.

Iya, ini lebaran pertamanya tanpa sosok ayahnya.

Sosok ayah yang selalu memimpin saat akan berangkat solat ied.

Sosok ayah yang selalu bersemangat saat bagi-bagi thr.

Sosok ayah yang selalu riang saat foto keluarga besar.


Sekarang...

Tidak ada lagi pemimpin saat akan berangkat solat ied.

Tidak ada lagi semangat saat bagi-bagi thr.

Tidak ada lagi senyum ayah terlihat di foto keluarga besar.


Dia rindu. Dia rindu sosok ayahnya.


Yang selalu membelai lembut rambut panjangnya dalam diam.

Yang selalu menjadi tujuan pertama saat ada yang melukai hatinya.

Yang selalu tersenyum tanpa menghakimi saat ada masalah dalam hari-harinya.

Yang selalu memeluk erat sambil meminta maaf atas ketidaksempurnaannya dalam menjaga, mendidik, dan memberi contoh dalam hidupnya.

Yang akan selalu menjadi cinta pertamanya.


Dia menangis.

Bukan karena dia lemah.


Dia menangis.

Tangis penyesalan.

Dia menyesal.

Karena terlalu asik dengan teman-temannya.

Karena terlalu sibuk dengan kuliahnya.

Karena tidak pulang kerumah saat ada jeda di kuliahnya.

Sekarang...

Dia tidak punya waktu lagi untuk ayahnya.

Dia tidak punya kesempatan lagi untuk memeluk ayahnya.

Dia tidak punya lagi tujuan untuk melepas air matanya.

Dia tidak bisa lagi melihat senyum ayahnya.

Dia tidak bisa lagi melihat cinta pertamanya.

Gue ngga bermaksud membuka lagi luka, kalau ternyata kalian punya cerita yang sama kaya temen gue ini. Gue hanya ingin membuka mata kalian, kalau ada sisi lain selain kebahagiaan di hari lebaran.

Temen gue juga ga seterusnya sendu. Bukan selalu berdiam diri di kamar meratapi kepergian ayahnya. Dia tetap upload foto cantiknya pake baju lebaran kembaran sama adik dan ibunya, dia juga tetap ceria menyambut hari raya, dia juga tetap foto-foto sama teman rumah masa kecilnya. Dia sama seperti kita, membagi kebahagiaan di sosial media, menebar senyum di sekitarnya, dia melakukan hal itu supaya dia lupa sesaat tentang kepergian ayahnya. Tapi kenangan itu memang kurang ajar, selalu datang tanpa meminta izin dari orang yang bersangkutan.

Dia ingat ayahnya.  

Dan dia rindu.

Tapi dia sosok yang kuat, sebagai kakak yang membuat adiknya bisa bangkit bersama menghadapi kehilangan.

Dia sosok yang kuat, sebagai anak yang selalu memeluk ibunya.

Dia sosok yang kuat.

Gue ngga bisa apa-apa saat dia cerita kalo ayahnya meninggal. Gue tercekat, tenggorokan gue kaku. Gue tau betapa dekatnya dia sama ayahnya. Gue cuma bisa meluk dia saat itu, diam, tidak perlu kata-kata “tabah ya” atau “kuat ya” atau “Ayah udah seneng disana” karena dia tidak butuh itu, dia tidak butuh saran apapun, dia hanya butuh didengarkan. Dia tidak meminta orang lain untuk memahami perasaannya. Karena seperti postingan gue dulu, semua orang punya skala sakit masing-masing yang ga akan sama. Orang ga akan mengerti perasaan sakit sesorang. Dia hanya butuh ditenangkan.

Seperti saat ini, saat akhirnya dia cerita tentang rindunya yang datang kembali. Gue tidak perlu mengucapkan apapun, cukup mendengarkan, dan memeluknya dalam diam.

Gue sendiri ngga tau mau gimana kalo gue yang ada di posisi dia, mungkin gue ga sekuat dia, atau mungkin gue bisa lebih kuat dari dia.

Gue mungkin hanya sering merasakan versi kecil dari ditinggalkan, ditinggalkan seorang wanita secara tiba-tiba tanpa alasan apapun, chat tidak dibalas, chat ga di-read, dikacangin, adalah sesuatu yang sangat biasa buat gue. Hina sekali memang gue...

Tapi, walaupun hal itu sering kejadian, ada dua sisi yang gue rasakan. Di satu sisi, tidak ada yang berubah. Rasa sakitnya ngga ilang, rasa sakitnya ga berkurang. Tapi yang berubah adalah bagaimana gue mengatasi dan ga terlalu kaget lagi saat hal itu kejadian.

Sampe akhirnya, gue sudah tidak lagi berekspektasi pada seorang wanita. Karena ekspektasi gue selalu patah, dan gue tidak ingin lagi merasakan kecewa saat ditinggalkan, kecewa saat chat tidak dibalas, dan lain sebagainya. Karena itu, gue memilih untuk tidak memulai "sesuatu" dengan wanita.

Hehe, makanya jangan mudah percaya dengan gue yang di sosial media. Sini, duduk berdua, ngobrol serius sama gue, baru judge gue orang yang seperti apa.

Ah, udah deh, panjang amat. Maapin ya! Selamat lebaraaaann!!!!


Sunday, June 4, 2017

Pertemuan

Setiap pertemuan adalah kesempatan berharga, kesempatan manis yang luar biasa. 

Ada banyak hal yang bisa kita dapat dalam sebuah pertemuan, singkat ataupun tidak. Eratnya genggaman, hangatnya pelukan, manisnya senyuman, dan jujurnya sebuah tatapan. 

Namun, tidak semua dari kita bisa merasakan manisnya pertemuan dengan orang yang kita damba, entah karena waktu yang tidak kunjung tiba, atau memang karena semesta tidak ingin kita saling jumpa.