Sunday, June 4, 2017

Pertemuan

Setiap pertemuan adalah kesempatan berharga, kesempatan manis yang luar biasa. 

Ada banyak hal yang bisa kita dapat dalam sebuah pertemuan, singkat ataupun tidak. Eratnya genggaman, hangatnya pelukan, manisnya senyuman, dan jujurnya sebuah tatapan. 

Namun, tidak semua dari kita bisa merasakan manisnya pertemuan dengan orang yang kita damba, entah karena waktu yang tidak kunjung tiba, atau memang karena semesta tidak ingin kita saling jumpa.



Berapa banyak dari kita yang mulai merasakan jatuh cinta dari melihat foto di Instagram, lalu memberanikan diri mengirim direct message, menunggu dibalas, dan akhirnya bertukar ID Line untuk saling berkomunikasi? Mungkin tidak banyak, tetapi ada.

Jatuh cinta memang banyak sekali bentuknya, dalam hal ini mungkin kita jatuh cinta pada pandanga pertama di foto Instagramnya, setelah akhirnya saling mengirim pesan, berbalas chat, memberikan perhatian-perhatian layaknya pasangan yang sedang menjalani LDR, dan akhirnya BOOM, kalian jatuh cinta.

Memang tidak ada yang melarang kita untuk jatuh cinta secara online, semua orang punya hak untuk mencintai dan dicintai. Teman gue, Liko, adalah contoh nyata, dia dan “pasangannya” sudah berkomunikasi secara online selama hampir tiga bulan, temen gue sendiri yang memperlihatkan isi pesan-pesannya, mereka bisa gue bilang sudah seperti pasangan sesungguhnya. Obrolan mereka sudah seperti orang yang berpacaran, gestur-gestur kecil saat mau tidur ataupun bangun tidur, even mereka bertengkar seperti layaknya pasangan.

Menurut gue, itu sudah sangat jauh, dan akhirnya gue bertanya, “Kenapa lu ga ketemuan aja? Doi juga ngajak elu ketemu terus kan.” dan jawaban dia cukup menarik, dia membutuhkan teman untuk dia berbagi cerita, mengeluarkan keluh kesahnya, dan berbagi perhatian-perhatian yang bisa membuatnya bahagia. Teman gue, untuk sekarang memang tidak ingin bertemu dulu dengan “pasangannya”, dia jatuh cinta dengan semua pesan-pesan mereka selama ini, dan bagi dia, itu sudah lebih dari cukup. Sudah lebih dari cukup saat dia mendapatkan ucapan selamat pagi saat bangun tidur, dan ucapan selamat tidur saat akan terlelap. Sudah lebih dari cukup untuk membuat dia tersenyum lagi saat dia mendapat emoji pelukan dan kecupan ketika harinya sedang buruk. Sudah lebih dari cukup  untuk membuat dia kebingungan mencari “pasangannya” saat tidak ada pesan hampir seharian. Sudah lebih dari cukup saat dia hanya bisa melihat profile picture pasangannya tanpa bisa mendengar suaranya. Itu semua sudah lebih dari cukup.

Dia belum siap untuk bertemu dengan “pasangannya”, untuk saat ini, dia belum siap.

Well, setiap orang memang punya caranya sendiri untuk jatuh cinta.

Sementara gue pribadi, gue tidak bisa mencintai seseorang hanya dari pesan, perhatian, dan gesturnya saja. Ketika gue telah memutuskan untuk jatuh cinta pada seseorang, gue akan mencintai semua yang ada pada seseorang tersebut, mulai dari marahnya, senyumnya, ngambeknya, tawanya, sedihnya, kebaikan hatinya, tangisnya, wanginya, tatapan matanya, peluknya, perhatiannya, suaranya, gesturnya, rambutnya, dan semua bagian yang ada pada dirinya. Gue tidak bisa hanya mencintai perhatiannya, tanpa mencintai marahnya. Gue tidak bisa hanya mencintai senyumnya, tanpa mencintai tangisnya. Gue tidak bisa hanya mencintai kebaikan hatinya, tanpa mencintai ngambeknya. Gue tidak bisa hanya mencintai peluknya, tanpa mencintai pukulnya. Gue tidak bisa hanya mencintai bahagianya, tanpa mencintai sedihnya.

Ketika gue memutuskan untuk mencintai seseorang, semua itu akan gue ambil sepaket tanpa membuang sedikitpun dari dia, karena itulah dia. Dia adalah bagian dari itu semua. Ketika gue hanya mencintai sebagian dari dirinya, berarti gue tidak mencintai dia sepenuhnya. Maka dari itu, sebuah pertemuan adalah sesuatu yang penting buat gue, bukan hanya untuk sekedar bertemu, tetapi untuk bisa melihat seseorang yang gue cintai secara utuh. Dari sebuah pertemuan itulah, gue bisa melihat semua yang ada dari seseorang tersebut.

Tapi siapa yang tau tentang semesta, mungkin saja suatu hari nanti kita sendiri yang akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami teman gue. Mungkin kita ada di posisi teman gue, atau bisa jadi malah kita ada di posisi sebaliknya.

Sampai akhirnya kita sadar, bahwa kita tidak ditakdirkan untuk merasakan eratnya genggaman, hangatnya pelukan, melihat manisnya senyuman, dan teduhnya tatapan seseorang tersebut.

Saat dimana kita ditakdirkan untuk tidak saling bertemu. Kita tidak ditakdirkan untuk melihat wajah satu sama lain.

Saat dimana kita hanya ditakdirkan untuk saling berbagi cerita tanpa saling berjumpa,  bukan untuk berbagi waktu dan canda tawa bersama.

Saat dimana kita hanya ditakdirkan untuk "mendengar" keluh kesah satu sama lain, bukan untuk mendengar suaranya.

Saat dimana kita hanya ditakdirkan untuk saling memberikan sepercik perhatian, bukan memberikan sentuhan. 

Saat dimana kita hanya ditakdirkan untuk menyemangati hari-harinya, bukan untuk menyeka air matanya. 

Saat dimana kita hanya ditakdirkan untuk "ada" bagi satu sama lain, bukan benar-benar ada untuk memberi ketenangan.

Saat dimana kita hanya ditakdirkan untuk mencintai dalam angan, bukan untuk ada di genggaman tangan.


0 comments:

Post a Comment