Setiap pertemuan adalah
kesempatan berharga, kesempatan manis yang luar biasa.
Ada banyak hal yang bisa kita
dapat dalam sebuah pertemuan, singkat ataupun tidak. Eratnya genggaman,
hangatnya pelukan, manisnya senyuman, dan jujurnya sebuah tatapan.
Namun, tidak semua dari kita bisa
merasakan manisnya pertemuan dengan orang yang kita damba, entah karena waktu
yang tidak kunjung tiba, atau memang karena semesta tidak ingin kita saling
jumpa.
Berapa banyak dari kita yang
mulai merasakan jatuh cinta dari melihat foto di Instagram, lalu memberanikan
diri mengirim direct message,
menunggu dibalas, dan akhirnya bertukar ID Line untuk saling berkomunikasi?
Mungkin tidak banyak, tetapi ada.
Jatuh cinta memang banyak sekali
bentuknya, dalam hal ini mungkin kita jatuh cinta pada pandanga pertama di foto
Instagramnya, setelah akhirnya saling mengirim pesan, berbalas chat, memberikan perhatian-perhatian
layaknya pasangan yang sedang menjalani LDR, dan akhirnya BOOM, kalian jatuh
cinta.
Memang tidak ada yang melarang
kita untuk jatuh cinta secara online,
semua orang punya hak untuk mencintai dan dicintai. Teman gue, Liko, adalah
contoh nyata, dia dan “pasangannya” sudah berkomunikasi secara online selama hampir tiga bulan, temen
gue sendiri yang memperlihatkan isi pesan-pesannya, mereka bisa gue bilang
sudah seperti pasangan sesungguhnya. Obrolan mereka sudah seperti orang yang
berpacaran, gestur-gestur kecil saat mau tidur ataupun bangun tidur, even mereka bertengkar seperti layaknya
pasangan.
Menurut gue, itu sudah sangat
jauh, dan akhirnya gue bertanya, “Kenapa lu ga ketemuan aja? Doi juga ngajak
elu ketemu terus kan.” dan jawaban dia cukup menarik, dia membutuhkan teman
untuk dia berbagi cerita, mengeluarkan keluh kesahnya, dan berbagi
perhatian-perhatian yang bisa membuatnya bahagia. Teman gue, untuk sekarang
memang tidak ingin bertemu dulu dengan “pasangannya”, dia jatuh cinta dengan
semua pesan-pesan mereka selama ini, dan bagi dia, itu sudah lebih dari cukup.
Sudah lebih dari cukup saat dia mendapatkan ucapan selamat pagi saat bangun
tidur, dan ucapan selamat tidur saat akan terlelap. Sudah lebih dari cukup
untuk membuat dia tersenyum lagi saat dia mendapat emoji pelukan dan kecupan
ketika harinya sedang buruk. Sudah lebih dari cukup untuk membuat dia kebingungan mencari “pasangannya”
saat tidak ada pesan hampir seharian. Sudah lebih dari cukup saat dia hanya
bisa melihat profile picture
pasangannya tanpa bisa mendengar suaranya. Itu semua sudah lebih dari cukup.
Dia belum siap untuk bertemu
dengan “pasangannya”, untuk saat ini, dia belum siap.
Well, setiap orang memang punya
caranya sendiri untuk jatuh cinta.
Sementara gue pribadi, gue tidak
bisa mencintai seseorang hanya dari pesan, perhatian, dan gesturnya saja.
Ketika gue telah memutuskan untuk jatuh cinta pada seseorang, gue akan
mencintai semua yang ada pada seseorang tersebut, mulai dari marahnya,
senyumnya, ngambeknya, tawanya, sedihnya, kebaikan hatinya, tangisnya, wanginya,
tatapan matanya, peluknya, perhatiannya, suaranya, gesturnya, rambutnya, dan
semua bagian yang ada pada dirinya. Gue tidak bisa hanya mencintai perhatiannya,
tanpa mencintai marahnya. Gue tidak bisa hanya mencintai senyumnya, tanpa mencintai
tangisnya. Gue tidak bisa hanya mencintai kebaikan hatinya, tanpa mencintai
ngambeknya. Gue tidak bisa hanya mencintai peluknya, tanpa mencintai pukulnya. Gue
tidak bisa hanya mencintai bahagianya, tanpa mencintai sedihnya.
Ketika gue memutuskan untuk
mencintai seseorang, semua itu akan gue ambil sepaket tanpa membuang sedikitpun
dari dia, karena itulah dia. Dia adalah bagian dari itu semua. Ketika gue hanya
mencintai sebagian dari dirinya, berarti gue tidak mencintai dia sepenuhnya. Maka
dari itu, sebuah pertemuan adalah sesuatu yang penting buat gue, bukan hanya
untuk sekedar bertemu, tetapi untuk bisa melihat seseorang yang gue cintai
secara utuh. Dari sebuah pertemuan itulah, gue bisa melihat semua yang ada dari
seseorang tersebut.
Tapi siapa yang tau tentang
semesta, mungkin saja suatu hari nanti kita sendiri yang akan mengalami hal
yang sama seperti yang dialami teman gue. Mungkin kita ada di posisi teman gue,
atau bisa jadi malah kita ada di posisi sebaliknya.
Sampai akhirnya kita sadar, bahwa
kita tidak ditakdirkan untuk merasakan eratnya genggaman, hangatnya pelukan,
melihat manisnya senyuman, dan teduhnya tatapan seseorang tersebut.
Saat dimana kita ditakdirkan
untuk tidak saling bertemu. Kita tidak ditakdirkan untuk melihat wajah satu
sama lain.
Saat dimana kita hanya
ditakdirkan untuk saling berbagi cerita tanpa saling berjumpa, bukan
untuk berbagi waktu dan canda tawa bersama.
Saat dimana kita hanya
ditakdirkan untuk "mendengar" keluh kesah satu sama lain, bukan untuk
mendengar suaranya.
Saat dimana kita hanya
ditakdirkan untuk saling memberikan sepercik perhatian, bukan memberikan
sentuhan.
Saat dimana kita hanya
ditakdirkan untuk menyemangati hari-harinya, bukan untuk menyeka air
matanya.
Saat dimana kita hanya
ditakdirkan untuk "ada" bagi satu sama lain, bukan benar-benar ada
untuk memberi ketenangan.
Saat dimana kita hanya
ditakdirkan untuk mencintai dalam angan, bukan untuk ada di genggaman tangan.
0 comments:
Post a Comment