Saturday, October 7, 2017

Toko Buku


“Suka baca novelnya Ika Natassa juga?”
“Eh?” gue kaget dan menoleh ke kiri, melihat seorang perempuan yang keliatannya seumuran gue, mengarahkan pandangannya ke buku yang sedang gue pegang.
“Oh iya, gue, suka. Hehe” jawab gue gugup.
“Jarang liat cowo baca novel hehe.” katanya sambil memilah-milah buku di deretan Tere Liye.


Out of nowhere, gue lagi di Gramedia Gandaria City sore itu, lagi nyari novel yang gue belum punya, agak sepi karena emang weekday, dan tiba-tiba ada cewe yang ngajak ngobrol gue. Grogi parah. Well, she’s cute, rambut panjang kecoklatannya dibiarkan terurai, sweater abu-abunya yang sedikit kebesaran (atau emang modelnya gitu, gue ngga paham) dia ga kaya cewe kebanyakan yang terlihat lebih tua karena dandanannya, dia terlihat fresh dan keliatan lebih muda dengan make up tipis lalu ada warna soft pink atau peach, atau apalah itu yang menempel di bibirnya, dan wanginya enak banget... lembut, ga nyolok norak gitu. 

“Iya hehe, mungkin emang gue bukan cowo? haha” jawab gue ngaco. Kampret, ga kepikiran jawaban lain di otak gue.
“Eh? Hahahaha.” dia menoleh, tertawa, lalu kembali menatap buku-buku Tere Liye.
“Hehe.”
“Udah baca yang mana aja, bukunya Ika Natassa?” tanya dia lagi.
Well, sebenernya gue udah baca semua, oh kecuali AVYW sama Underground, ini gue beli karena gue ga punya yang edisi aslinya ini, gue punyanya yang illustrated edition.”
“Wow, paling suka yang mana?” tanyanya sambil mengalihkan pandangannya ke gue.
“Hmm, let me think, hmm, susah sih, hampir semuanya punya nilai yang sama buat gue, tapi gue pilih Antologi Rasa ini as my favorite.

Dia tersenyum. 
Ya ampun, senyumnya, gemeter lutut kopong gue liat senyumnya.

“Taaaapi, gue jauh sih dibanding cowo-cowonya Ika Natassa,” sambung gue lagi, “I’m still riding my scooter not SUV, lulus kuliah juga belom, and I hate numbers, ga kaya Ruly-Harris, bukan dokter, kaya Beno, ga bisa gambar, kaya River, bukan tukang minyak, kaya Ale and, hey, I’m short.”
“Hahahaha,” dia tertawa lepas karena perkataan gue yang terakhir, “iyaa sih lo pendek emang buat ukuran cowo, tapi masih lebih tinggi kan daripada gue. Gue sih paling suka Architecture of Love, karena gue anak arsitektur kali ya, jadi bisa lebih ngebayangin and I’m soooo in love with ‘New York’ things.”
"Oh elo juga baca buku-bukunya Ik⎯"
"Big fans" kata dia nyela kalimat gue.

Gue baru mau membuka mulut lagi sebelum dia mengucapkan kata-kata yang entah kenapa bikin gue deg-degan.

“Seneng deh ketemu cowo yang bacaannya sama, biasanya cowo-cowo suka ngeledekin gue kalo baca novel fiksi, dan gue ga suka aja kalo novel-novel fiksi diremehin.”
Hey, nothing’s wrong with fiction.”  sanggah gue.
Exactly!”

Kemudian ada hening panjang, yang gue ga tau harus gimana, dan akhirnya dia yang memecah keheningan.
   
“Lo sering ke sini?”
“Sebenernya jarang sih, karena jauh dari rumah gue, tapi gue suka ke sini, I used to live herenear here juga dulu, jalan kaki juga nyampe ke sini, jadi dulu emang iya sering ke sini, tapi sekarang engga.” jawab gue.
“Ooh, gue sebenernya lebih deket ke PIM, tapi gatau kenapa gue ga suka ke PIM⎯"
“Serius lo ga suka ke PIM?!” gue memotong kalimatnya.
 “Iya, kenapa?
 “SAMA!” kata gue bersemangat.
 “Hahahahaha.”
 “Terlalu rame menurut gue.”
 “Setuju.” dia mengangguk.
  
 Lalu entah gimana sampai akhirnya kami menghabiskan waktu hampir 15 atau 16 atau 17 menit, (ga tau sih, ga gue itungin) di lorong novel fiksi, ngobrolin tentang novel-novel Ika Natassa dan lainnya, dia sangat terbuka dan gampang mencairkan suasana, obrolannya benar-benar ngalir dan ga dibuat-buat, dan akhirnya dia memperkenalkan dirinya.

“Gue Alana, by the way.” katanya sambil menyodorkan tangannya yang akhirnya gue genggam untuk jabat tangan, semoga dia ga sadar betapa dingin dan basahnya tangan gue itu. Entah kenapa Gramedia tiba-tiba jadi dingin luar biasa.
“Tio hehe.” balas gue singkat sambil menjabat tangannya yang disambut senyum.

Lalu kembali dia memeluk tiga buku di depan dadanya sebelum menyelipkan rambut ke belakang telinga kirinya, sumpah demi apapun gue suka banget, dan gue lemah banget kalo liat cewe lagi gitu.

Awkward silence, dan gue berpikir gue yang harus memecah keheningan ini, sampai akhirnya dia lagi yang memecah keheningan dengan suaranya yang ringan.

“Lo mau ke mana abis ini?”
“Hmm, udah jam segini sih, kayanya gue bakal ke musola aja, abis itu muter bentar nunggu magrib, baru pulang. Elo? Masih mau nyari buku lagi?” tanya gue basa-basi yang basi banget.
“Engga sih, abis ini gue mau langsung balik kayanya.”
“Ooh, okedeh.” gue mengangguk.
So... shall we...” katanya menggantung.
Shall we pay for these books nowYeah.” kata gue polos sembari melihat ke arah buku-buku yang kami bawa.
“Hahahaha, noshall we... tukeran nomor maybe? Atau ID Line, I’d love to give you mine hehe. You such a nice person, ya walaupun pendek hahaha.” dia tertawa sambil mengangkat bahunya.
“Hahahaha sial, well, here you go.” jawab gue sambil memberikan hp dan mempersilakan dia menyimpan nomornya di hp gue, yang kemudian gue miss call.
“Hehe, thank you ya Yo, it’s really nice to meet you.”
The pleasure is mine, Alana” gue sedikit menunduk.
“Hahahaha apa deeh, sotext me ya?
No, you text me.” gue tersenyum, bercanda.
“Hahahaha, okayI willBye!” katanya sambil berlalu, meninggalkan gue yang berdiri lemas termangu di lorong novel fiksi Gramedia Gandaria City. 

Kenapa gue berdiri lemas termangu? Karena gue baru sadar, dompet gue masih di jok motor. 




----------------------------------------------

                      Nah judul part 2-nya, klik yang ini --> Kopi dan Sirup 


3 comments:

  1. emosi saya, kesel aja baca dompet ketinggalan di motor coba :)

    ReplyDelete
  2. Pernah ngerasain suka atau jatuh cinta sama temen atau sahabat sendiri ngga? Ngeblog tentang itu dong

    ReplyDelete
  3. Potkester nyasarMay 1, 2020 at 1:41 PM

    Ketemu tiba-tiba, ngobrol tiba-tiba, seminat tiba-tiba, emang kadang hidup punya plot twistnya sendiri ��

    ReplyDelete