Saturday, May 19, 2018

Aku, Bandung, dan Dia



Orang mungkin punya 1001 alasan untuk mencintai Jogja, tapi menurutku, kamu tidak perlu alasan apapun untuk mencintai Bandung dan isinya, kamu akan mencintainya begitu saja tepat ketika kamu menginjakkan kakimu di sini. Suasanya, tata kotanya, cuacanya, sampai jajanan-jajanan kecilnya. Seperti saat ini, bersama laki-laki di sebelahku, berbagi oksigen di ruangan sempit yang kita semua sepakat menyebutnya mobil, memutari kota Bandung di malam hari, dengan segala lampu-lampu jalannya, dan angin malam yang menerpa wajahku lembut. 


Aku tidak bisa ingat kapan terakhir aku sebahagia ini, setelah kebahagiaan dalam hidupku direnggut oleh laki-laki brengsek yang pernah aku cintai setengah mati, lima tahun yang lalu. Tapi, bersama laki-laki ini, kebahagiaanku kembali begitu saja, laki-laki yang selalu mendengarkan ceritaku, yang selalu menggunakan t-shirt hitamnya, yang selalu melontarkan lelucon ringannya, yang bisa membuat aku tertawa di saat obrolan pertama, yang sanggup membuatku hangat hanya dengan senyumannya.


Kamu mungkin tidak terlalu suka dengan laki-laki disampingku ini, dia tidak seperti laki-laki kebanyakan, dia tidak akan memulai sesuatu tanpa aku mulai sebelumnya. Aku ingat semua hal yang aku mulai untuk dia, obrolan pertama, iMessage pertama, genggaman tangan pertama, pelukan pertama, hingga ciumanku yang mendarat di pipi kirinya, yang membuat dia mematung lama, membuatku tidak tahan untuk tidak menciumnya lagi.


Kamu mungkin tidak suka dia, tapi aku suka.


Dan sungguh, bolehkah aku berharap bisa selalu seperti ini? 


Tuhan, bolehkan aku berharap?


Mungkin hanya dia, laki-laki yang bisa aku percaya, setelah aku membenci semua laki-laki di sekitarku karena trauma oleh perlakuan seseorang brengsek itu, ah, tidak perlu aku ceritakan, mengingatnya saja membuatku membenci diriku sendiri. Tapi laki-laki di sampingku ini berbeda, aku menyapanya di sebuah toko buku sekitar delapan bulan yang lalu, dia sedang berdiri tersenyum memegang sebuah novel karya penulis favoritku waktu itu, tempat yang sama ketika aku pertama kali melihatnya dua tahun sebelumnya. Dia tersenyum lebar, aku ingat setiap detil dari dia hari itu. Kacamatanya, t-shirt hitamnya, blue jeans dengan bercak noda di bagian lutut kirinya, dan sepatu Vans-nya yang seakan sengaja dibuat kotor.


Kamu tahu? Ketika kamu berada dalam satu titik terendah dalam hidupmu, kamu akan kehilangan rasa percaya pada siapa pun, bahkan apa pun. Aku telah merasakan itu, aku kehilangan rasa percayaku pada setiap orang di sekitarku, temanku, orang tuaku, bahkan aku tidak lagi percaya Tuhan. Untuk apa aku berdoa, untuk apa aku berusaha, untuk apa aku membuang semua tenaga dan uangku ketika takdir sudah menentukan semuanya. Aku marah, aku marah pada Tuhan ketika Dia mengambil Ayahku di ruang operasi yang dingin itu. Untuk apa aku membuang air mata berdoa pada Tuhan, ketika Ayahku sudah ditakdirkan untuk pergi sore itu? Aku marah, aku marah pada Tuhan, ketika takdirnya mempertemukan aku dengan laki-laki yang pergi begitu saja setelah membuat aku melakukan aborsi di usia 18 tahun, lima tahun lalu. 


Setiap hari, aku berharap bahwa tidurku ini akan menjadi tidur terakhirku, aku lelah, aku tidak ingin bangun lagi.


Tapi kamu tahu? Ketika kamu bertemu dengan seseorang yang tepat, semua rasa marahmu pada Tuhan akan berubah menjadi rasa syukur. 


“Al? Bengong gitu sih, isya dulu yuk, deket sini ada masjid gede bagus deh, dulu aku sering salat di situ.” suaranya memecah lamunanku.

“Yuk.” 

“Bawa mukena kan?” 

“Bawa dong, kan setiap jalan sama seorang Adityo Kristianto, aku harus selalu bawa mukena.” jawabku sambil tersenyum ke arahnya.

“Hehe, jangan cuma pas sama aku doang dong, Alana Travinska.” kali ini dia yang menatapku sambil tersenyum lebar.


Oh iya, perkenalkan, aku Alana Travinska. Kamu mungkin sudah mendengar tentang aku sebelumnya, tapi cerita dari dia hanya menceritakan kebaikanku saja, kebaikannya sendiri tidak pernah dia tunjukkan. Aku ingin kamu tau tentang dia, dari cara pandangku, dan aku harap kamu bisa menerima gaya berceritaku.


Tapi aku tidak akan bercerita di sini, karena ini bukan tempatku. 


"Al, ayo, ngelamun mulu."


Dan tidak sekarang, karena ini bukan waktuku.


"Alanaa."


Aku akan bercerita di tempat dan waktu yang tepat. Suatu saat.


"Iyaa, bawel deh."



Rangkulannya sudah melingkari pundakku. Sekarang, aku harus pergi.


"Yuk."


Sampai jumpa lagi.



--oo--


Click here for the beginning chapter --> Toko Buku



Sunday, April 29, 2018

Teman Baik?


Halooo semuaaanyaa!!

Wah udah lama banget ya ga ketemu, setelah berbulan-bulan blog gue diambil alih sama diri gue yang lain, akhirnya gue kembali!

Jadi, apa kabar kalian? Sehat?
Masih suka ngupil pake jempol? 
Masih doyan liatin update-an mantan sama pacar barunya?
Masih diem-diem screenshot Insta Story gebetan? 
Masih sabar ditinggal maen sama pacar?
Masih toleransi sama pacar yang suka ngomong kasar?
Masih ngasih maaf sama pacar yang doyan selingkuh?
Hah??
Masih??
Kereen.

Malem ini, ditemenin sama susu kental manis dan semangkuk kebahagiaan semu, ayo kita mulai!

----------------------

Kali ini, tentu gue tetep akan ngomongin topik yang sangat dekat dengan kita, usia-usia dewasa awal di mana kita erat dengan masalah cinta, mencari dan menemukan pasangan hidup, #uhuk. Hei, itu bukan omongan gue, itu omongan Robert Havighurst. Hah, lo gatau siapa itu Havighurst? Seriously bro

Banyak orang ngomongin tentang cinta, tapi setiap ditanya, “Apa itu cinta?” mereka cuma bisa diam.

Pfft, tipikal. 

Gue ga mau ngoceh ngajarin kalian apa itu cinta, silakan cari sendiri biar kalian ga males baca. Baca di sumber terpercaya, dari jurnal atau buku, lebih bagus yang internasional. Minimal tiga, jangan lupa daftar pustaka sama bawa bukti fisiknya! Sori, bawaan aslab. 

Cinta itu banyak bentuknya, cinta orang tua pada anaknya, cinta seorang guru pada murid-muridnya, hingga cinta antar sepasang kekasih. Setiap dari kita tentu punya hak yang sama untuk mencintai dan dicintai. Entah bagaimana bentuknya, ada yang senang mencintai dalam diam, ada yang tetap mencintai walau disakiti, bahkan ada yang hobinya mencintai mereka yang sudah memiliki pasangan, pffftt. Ya walaupun, tidak setiap rasa cinta kita bisa terbalaskan. Untuk itulah, ada yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. 

Oh iya, ngomongin cinta antar kekasih, Sternberg punya teori yang menurut gue luar biasa bener tentang cinta. Kata Sternberg, cinta itu terdiri dari tiga aspek, yaitu keintiman, komitmen, dan gairah. Oke, pikiran lo jangan kotor dulu. Keintiman di sini adalah kedekatan emosional antar dua individu dalam hubungan tersebut, sementara gairah adalah perasaan romantis antar pasangan, dan komitmen, ya lo tau lah pasti. Ketiga aspek ini harus punya keseimbangan, lo ga bisa hanya mikirin gairah sama keintiman lo, tanpa mikirin komitmen, dan begitu juga di aspek lainnya. Semua harus seimbang agar hubungan yang dijalin bisa dalam kondisi yang baik. Ya kecuali kalo emang lo cuma having fun aja, ga serius. 

Btw kayanya gue udah mulai ga sober malem-malem gini gue bisa inget teori Sternberg. 

Nah, kenapa banyak cerita cinta yang gagal? Coba deh kita cerna lagi hubungan kita sama pacar, oh sori, hubungan elo maksudnya, gue kan jomlo. Hubungan lo sama pacar lo gimana? Apa tiga aspek tadi seimbang atau engga, kalo engga, ya bukannya harus putus, tapi kan bisa diperbaiki. Gunanya tau teori ini adalah, lo bisa tau kira-kira di aspek mana yang kurang dalam hubungan lo. Coba deh lo baca-baca teori lengkapnya, menyenangkan kok, ga sulit untuk dipahami. Udah umur segini, udahan lah maen-maennya, udah waktunya serius sama pasangan, jangan dikit-dikit putus. Duh, jadi pengen punya pacar. Skip.

Oke, setelah ngomongin cinta, gue mau bahas tentang proses jatuh cinta, yang juga punya banyak bentuk, ada jatuh cinta tiba-tiba, ada jatuh cinta yang memang dipupuk dari nol, dan buat gue, ada salah satu jatuh cinta yang seharusnya tidak pernah terjadi, yaitu jatuh cinta pada sahabat sendiri.

Dan sekarang, gue akan fokus pada hal itu.

Mari kita berkaca pada satu cerita, ini dari teman gue, siapa ya namanya, sebentar, gue sedang memikirkan nama samarannya. Oke, nama teman gue ini Vio.

Heh, ini temen gue ya, bukan gue, emang namanya aja mirip. Oke. Next.
 
Dia ini perempuan cantik luar biasa, (makanya gue ga jatuh cinta sama dia, gue hanya jatuh cinta pada perempuan yang lucu, imut, gemesin, dan besar, emm hatinya.) Vio ini punya sahabat baik, cowo, yang udah bersama selama tujuh tahun. Mereka deket banget, udah kenal sama keluarga satu sama lain, Vio juga suka cerita tentang masalah percintaannya ke sahabatnya itu (selama mereka sahabatan, Vio ganti pacar tiga kali, sementara sahabatnya setia menjomlo) dan selama itu juga tidak ada perasaan lebih yang terjalin di antara mereka berdua. Ya, itu kata Vio, gue dengerin cerita dia sambil manggut-manggut benerin bulu mata. Sedikit banyak memang benar, tapi dia tidak tau kalo ternyata, sahabatnya itu memiliki rasa yang dia simpan sendiri selama dua tahun terakhir. Banyak yang bilang kalo emang pertemanan atau persahabatan itu tidak bisa terjadi di antara laki-laki dan perempuan. Gue gatau sih, karena alhamdulilah selama ini gue tidak pernah jatuh cinta pada sahabat gue sendiri. 
 
Shit. Oke, pernah. Iya, gue pernah jatuh cinta sama sahabat gue sendiri. Sekali, dan itu cerita lama, biarlah tenggelam saja di palung Mindanao.

Nah, karena akhirnya Vio tau kalo sahabatnya itu punya rasa, dia bingung, saling diam, sampe sahabatnya Vio itu memilih untuk menjauh, daripada harus selalu ada di bayang-bayang Vio. Hubungan mereka jadi canggung, dan tidak seperti dulu lagi. Seperti yang pernah gue bilang di postingan sebelumnya, ketika satu orang telah memilih untuk pergi, meski dia kembali, rasanya tidak akan sama lagi. Dan itu yang terjadi antara Vio dan sahabatnya. Bayangin, lo kehilangan sahabat baik lo yang udah nemenin ke mana-mana selama tujuh tahun terakhir hanya karena sahabat lo tidak bisa menahan rasa cintanya buat elo. Itu sakit. 

Itu hanya salah satu, tapi dari setiap kasus —anjaas, kasus— yang gue lihat, kisah cinta pada sahabat sendiri ini tidak pernah berakhir indah. Kebanyakan selalu punya ending yang sama, yaitu salah satunya memilih menjauh. Gue ga bilang semua ya, gue bilang kebanyakan. Kenapa seperti itu? Karena kebanyakan dari kita selalu tidak siap dan tidak pernah berpikir akan menjalin hubungan percintaan dengan sahabat sendiri. Kita tidak bisa menerima ketika ternyata pernyataan cinta itu lahir dari mulut sahabat kita sendiri, dan akhirnya kita mulai mempertanyakan, “Kenapa? Kenapa harus elo?”

Well, siapa sih yang bisa mengatur kapan cinta datang dan pada siapa kita jatuh cinta?

Dan pada akhirnya, semua bisa terbaca. Akan ada satu pihak yang memilih untuk pergi, ditinggalkan atau meninggalkan. Gue bahas ini, karena gue melihat Vio cukup 'terpukul' karena kejadian itu. Kehilangan sahabat yang selalu menemani ke mana-mana, tau aib-aib kita, tau kelemahan kita, yang paling paham sama jalan pikir kita, kehilangan orang seperti itu tu berat, dan menemukan orang yang bisa klop lagi juga bukan mudah. Dan ditinggal seperti itu tu rasanya hampa, linglung, dan sakit di saat yang bersamaan. Sama rasanya seperti ketika lo gagal SNMPTN, terus SBMPTN juga gagal, terus akhirnya lo sedih, terus lo nyebrang jalan dan ketabrak truk semen tapi ga mati. Kebayang kan? Sip.
 
Gue inget, ada temen gue pernah bilang ke gue, “Yo, gue kasih tau nih ya, jatuh cinta sama sahabat sendiri tu sama kaya lo ke McD terus pesen nasi rendang, ga mungkin bisa. Jadi, kalo lo jatuh cinta sama sahabat lo, itu mungkin emang niat awal lo aja, niat awal lo deket sama dia tu mau sahabatan atau emang mau pacaran?” Gue serius denger ceramah dia waktu itu, dan selang dua minggu kemudian, dia jadian sama sahabatnya sendiri. Pengen gue tampol pake sambel botol rasanya. 

Terlepas dari itu semua, jatuh cinta sama sahabat sendiri memang hal yang cukup rumit. Tentu ada hal positif dan negatif yang akan terjadi, positifnya, kalian berdua tau seluk beluk masing-masing, tau aib masing-masing, dan udah nyaman satu sama lain. Taaapi, itu kalo kalian berdua punya rasa yang sama. Kalo engga? Ya sisi negatifnya kaya temen gue tadi, si Vio, canggung paraaah. Persahabatan ancur. Hubungan putus. Sahabat ilang. Kurang apa lagi? Tentu ga ada yang salah sama peraaaan yang tiba-tiba muncul, tapi mungkin kalian harus memahami dan bener-bener berpikir, apa yang mau dikorbanin, perasaan atau persahabatan?
 
Sekali lagi, katanya, sahabatan tu ga mungkin antar laki-laki dan perempuan, kalo lo ga ngerasa punya perasaan lebih buat sahabat lo, mungkin sahabat lo yang punya perasaan lebih buat elo. Who knows? Coba lo liat lagi sahabat lo, lo bayangin, kalo dia tiba-tiba ngungkapin perasaan cintanya ke elo, lo bakal ngapain? Lo bakal gimana? Apa lo siap? 


Jadi, menurut lo, kalo jatuh cinta sama sahabat sendiri, mending lanjutin atau udahin?




Saturday, April 14, 2018

Hot Chocolate



Klik di sini kalo belum baca part sebelumnya --> Gelato Paradise

---------------------





“Biasa kan?” tanya Helen sambil meletakkan tasnya di sebelah gue.
“Iya El.” jawab gue pelan yang dia jawab dengan anggukan.

Oh terima kasih, entah kenapa hari ini sakit gue kambuh lagi, untung Helen juga lagi pas di kampus. Gue punya penyakit yang membuat gue bisa tiba-tiba sakit kepala luar biasa dan lemas luar biasa juga, yang bikin gue bener-bener ga bisa gerak. Gue abis bimbingan, dan tiba-tiba aja penyakit gue ini kambuh lagi. Gue langsung telepon Helen, nanyain dia di mana, dan pahlawan gue itu langsung keluar kelas, nyamperin gue kemudian nuntun gue ke mobilnya. 

Iya, kalo kalian liat cowo pake kaus-bomber-jeans-boots warna hitam, dan bawa map plastik bening lagi jalan dituntun sama cewe, kalian ga salah liat, itu gue. 

Helen udah sering bareng gue dan tau banget gue jarang bawa tas ke kampus, jadi, dulu gue minta tolong dia buat sedia Panadol merah dan satu bar cokelat di tasnya, untung dua barang itu ga keluar dari tasnya walaupun kami udah jarang ketemu. Gue sangat butuh Panadol untuk membunuh sakit kepala, dan cokelat manis yang bisa mengembalikkan gue dari lemas luar biasa ini. 

Setelah sampai di mobil Helen, gue makan cokelat dan minum Panadolnya, lalu gue tiduran di mobil Helen, sambil nunggu dia selesai kelas, hingga akhirnya di sini lah kami, Kopibar Margonda, gue yang terduduk lunglai dan Helen yang memesankan Hot Chocolate buat gue dan pasti Piccolo Latte buat dirinya sendiri. Oh iya, kalian ga salah baca, gue selalu pesan Hot Chocolate di kedai kopi mana pun, karena gue ga minum kopi, gue hanya penikmat aromanya saja.

“Gimana, udah mendingan?” Helen datang dari toilet bersamaan dengan datangnya minuman kami, gelas Hot Chocolate yang langsung gue genggam untuk menghangatkan tangan, coffee shop ini terlalu dingin buat gue yang sekarang.
“Lumayan, paling engga pusingnya udah ngurang.” gue menyeruput minuman gue. Sial, panas.
“Tumben kambuh lagi, kayanya udah lama lo ga kambuh?” tanya Helen.
“Ga tau, aneh gue juga.”
“Telat makan kali lo.”
“Biasanya juga gimana El.”
“Iya ya hehehe.” Helen terkekeh karena gue rasa semua juga tau kalo gue ga pernah makan di luar.

Kemudian gue menghabiskan hampir setengah jam mendengarkan Helen cerita, sambil pelan-pelan meminum hot chocolate gue, Helen emang paling bisa bikin gue nyaman lagi. Gue yang daritadi sandaran di pundaknya, merangkul lengannya, dia yang lalu melepas kacamata gue dan meletakkannya di meja, membiarkan gue terpejam sambil mendengar ceritanya. Ini siapa yang cowo siapa yang cewe sih sebenernya?

“Eh iya, Alana gimana Yo? Lo ga cerita lagi abis malem itu.” tanya Helen.

Gue tidak langsung menjawab.

Well, I’m fucked up.” jawab gue pelan.
“Loh? Kenapa?” tanya Helen lagi.

Kalian pernah ada dalam suatu keadaan diajak naik ke awan, terus pas udah sampe, kalian ditendang jatuh ke bawah? Nah itu. Sejak terakhir gue dan Alana jalan bareng di Gancit, dan dia cerita tentang pertemuan kami berdua, ga lama dari itu juga, entah kenapa dia menjadi tidak sehangat dulu. Gue gatau apa yang terjadi, dia jadi dingin ketika di chat, membalas seadanya. 

Gue ngerasa kaya semua yang udah kami lewatin berdua selama tujuh bulan 11 hari  berlalu begitu saja.

Iya, gue ngitungin, kenapa?


"Abis malem itu, dia kaya dingin gitu sih, El." jawab gue akhirnya
"Ko gitu? Lo abis ngapain emang?" 
"Gue ga ngapa-ngapain, gue sampe scroll chat gue ke atas, nginget-nginget perjalanan pulang dari rumahnya. Ga ada yang salah, semuanya normal, semuanya kaya bia..sa... Apa karena itu El?!" gue bangkit dari sandaran gue di pundaknya.

Helen menggumam pelan, mengangkat bahunya.

"Apa karena harusnya hari itu gue bikin movement?" Gue mengambil kacamata di meja, dan memakainya. "Apa harusnya malem itu gue... gue... Tapi gue malah ga ngapa-ngapain..." gue merasakan kerutan di dahi gue memikirkan kemungkinan itu.
"Well, dari cerita lo sih, emang paling engga malem itu harusnya lo ngomong apa kek." Helen mengangkat satu alisnya.
"Tapi... Waktu itu kan baru lima bulan El, apa ga kecepetan?"

Helen tersenyum.

"Menurut gue, masa pdkt tu ga ada patokan lama atau bentarnya sih. Itu kan situasional, tiap orang beda-beda, kalo keadaan udah mendukung ya kenapa engga, dan kadang momen kan ga dateng dua kali. Mungkin menurut dia, malem itu momennya. Lo tu selalu kelamaan, takut ngambil langkah, kaya dulu, pdkt dua tahun, ga jadi juga kan? Lama pdkt tu ga menjamin lo bakal sukses atau engga." kata Helen pelan, membuat gue merasa ditonjok pas di ulu hati.

Gue terdiam, mengulang kembali ingatan gue tentang malem itu. Alana yang menahan gue lama di depan rumahnya, wajahnya yang tiba-tiba lesu saat gue pamit pulang tanpa ngomong sesuatu yang penting, yang gue kira itu wajah lesunya karena capek jalan seharian. Alana yang malam itu minta di telepon saat gue ngabarin kalo gue udah sampe rumah, bukan sekedar membalas chat seperti biasa, yang kemudian 16 menit di telepon lebih banyak kami habiskan dengan diam, dan gue masih ga sadar sama 'kemauan' dia.

Gue mengutuk diri gue sendiri. Udah dua bulanan dari malam itu, sampe sekarang, Alana yang ga sehangat dulu tapi masih nanyain hari-hari gue, nanyain kegiatan gue, walaupun ketika gue tanya balik dia cuma jawab seadanya. Bodohnya gue.

Dan lamunan gue pecah saat Keyra dateng.

"Kenapa lagi ini si Cebol, El?" tanya Keyra ke Helen.
"Ga tau nih Ra, tiba-tiba dia kambuh lagi." jawab Helen.
"Jahat lo Key." gue menimpali sambil menggeser posisi duduk.
"Iya, emang gue temen lo yang jahat ini, yang abis lo telpon mau ngangkot dari apartemen, ke sini, terus nanti ngambil motor lo di kampus terus ntar gue parkirin di parkiran apartemen gue sebelom perkiran kampus lo ditutup." Keyra nyerocos.
"Hehehehehe, kalian ini terbaik emang hehehe." kata gue menatap Helen dan Keyra bergantian.

Keyra menarik kursi, lalu duduk di hadapan gue.

"Yaudah sini mana kunci motor lo?"
"Loh, ga di sini dulu?" tanya Helen.
"Engga ah, lagi nugas gue, deadline." jawab Keyra.
"Yah maap Key." kata gue merasa bersalah, sambil memberikan kunci motor gue.
"Apa sih ah, lebay lo. Di mana? Di G?" kata Keyra menanyakan lokasi motor gue sambil mengambil kunci motor dari tangan gue.
"Iya, di G." jawab gue.
"Ya udah, gue cabut ya." Keyra beranjak bangkit dari kursinya.
"Ati-ati Key, thank you." kata gue dan Helen hampir bersamaan.

Lalu Keyra berhenti sejenak.

"Lo gapapa kan gue tinggal?" tanya Keyra ke Helen.
"Iya, gue udah gapa–" jawab gue.
"Gue ga nanya elo, Cebol." potong Keyra.
Helen terkekeh, "Iya Ra, gapapa ko gue, lo lanjut aja."
"Oke." lalu Keyra mengarahkan pandangannya ke gue, "Ga usah sering kambuh lo, nyusahin aja, buruan sembuh, kasian Helen." kata Keyra sambil berlalu, seakan tidak membutuhkan jawaban gue. 
"Siaap komandan!" jawab gue, dan gue lihat Keyra tersenyum.

Setelah Keyra pergi, gue kembali larut dalam pikiran gue tantang Alana.

"Udah, mungkin bukan karena itu juga alasannya." Helen menyeruput minumannya pelan.
"Terus apa dong El? Mungkin dia bosen aja kali ya, sebenernya dua sampe tiga hari setelah malem itu tu dia masih ga terlalu dingin, tapi abis itu baru deh. Apa dia bosen sama gue yang gitu-gitu aja?" kata gue mencoba menerka-nerka lagi.
"Kenapa lo bisa mikir gitu?" tanya Helen.
"Ya lo kan tau gue... Gue separah itu ya El? Se-ngebosen-in itu?" kata gue.

Helen mengubah posisi duduknya yang sedari tadi menopang dagu dengan tangan kirinya.

"Yo, gue rasa Alana juga udah ngerti elo. Elo yang pasif, yang ga bisa mulai duluan, dan gue rasa, Alana bisa nge-cover kelemahan lo itu dengan baik. Dia bisa bertahan sama elo sampe segini lama, kalo dia emang ga tahan sama elo, dia pasti bakal ninggalin elo dari jauh-jauh hari. Ga akan masih rajin nge-chat elo." kata Helen pelan.

Saat itu handphone gue berbunyi, notifikasi iMessage. Dari Alana.

"Di mana? Udah pulang?" cuma itu isi pesannya.
See? Buat seorang Alana, ini dingin banget, bener-bener tidak hangat seperti Alana yang gue tau, tapi dia masih selalu chat gue seperti ini setiap hari, walaupun setelah menjawab pertanyaannya itu, chat gue tidak akan dibalas lagi.

"Alana nih, El." kata gue ke Helen.
"Tuh, baru diomongin, dia masih mau kan chat elo." jawab Helen.

Gue masih terdiam melihat notifikasi itu, belum gue balas.

"Coba, selama dua bulan ini lo ngapain aja? Lo udah ngajak dia ketemuan?" tanya Helen.

Gue menggeleng.

"Astaga, ga lo ajak jalan atau ketemuan sama sekali?" bisa gue liat tatapan heran Helen ke gue.
"Abis... Biasanya kan dia yang ngajak, jadi karena selama ini dia ga ngajak, gue kira dia sibuk jadi ga bisa jalan..." jawab gue pelan.
Helen menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gue semakin yakin lo tu sebenernya emang bukan cowo."
"Terus gimana dong, gue ajak ketemu nih?" tanya gue.
"Ya iyalah Adityo Kristianto, lo tuh ya, udah kaya kucing dikasih ikan asin, tapi bukannya dimakan malah diliatin aja. Dulu kan lo bisa ngajak ketemuan cewe lo tiap hari, masa sekarang ga bisa?" kata Helen sebal.
"Emang kucing makan ikan asin, El?" kata gue ngaco.
"JANGAN NGALIHIN PEMBICARAAN!" gue rasa Helen mau ngebakar gue idup-idup.
"I... Iya... Ya kan itu dulu udah jadi cewe gue, ini kan belom, takut lah gue." gue membela diri. 
"Yaudah yaudah iya, udah deh, sekarang lo mending ajak dia ketemuan aja kapan kek."
"Iya."

Gue membalas iMessage Alana, bilang kalo gue lagi sama Helen, lalu mengajaknya ketemuan. Tidak sampai satu menit, ada balasan dari dia, "Tumben belum pulang?" cuma itu jawaban dia. Gue jelasin di chat tentang penyakit gue yang kambuh, and you know what? Dia telepon gue.

"El..." kata gue ke Helen sambil menunjukkan layar handphone gue yang menunjukkan ada telepon masuk dari Alana.
"Angkat lah." Helen lalu mengambil earphone  dan mulai memutar lagu di handphone-nya.

Gue angkat telepon Alana dengan gemetaran, dalam dua bulan, ini pertama kalinya lagi gue akan mendengar suaranya.

"Ha... Halo..." 
"Kamu kenapa?" tanya Alana singkat, suaranya datar, kaya jalan tol baru jadi.

Eh, wait, gue ga inget kalo gue dan Alana udah pindah ke fase aku-kamu.

"Ngg, itu, ini, penyakit lama, emang suka kambuh." jawab gue akhirnya.
"Sakit apa? Kamu ga pernah cerita." kata Alana masih dengan suara datarnya. Gue udah diem gemeter megang handphone.

Lalu gue jelaskan panjang lebar tentang penyakit gue ini, Alana diam, mendengarkan penjelasan gue.

"Halo?" kata gue karena gue tidak mendengar suara Alana.
"Iya, lanjut aja." jawab dia.
"Iya gitu, sekarang masih di sini sama Helen, motor tadi udah diambil Keyra, diparkir di apartemennya." kata gue lagi.
"Kenapa baru cerita? Terus kalo kambuhnya pas lagi sama aku gimana? Aku kan ga sedia Panadol sama cokelat di tas. Kamu mau aku panik lari-lari ke minimarket? Terus kalo lagi di tempat yang ga ada minimarket kaya waktu itu gimana?" jeleger. Gue berasa disamber petir tepat di ubun-ubun kepala gue denger rentetan pertanyannya.

Gue bingung mau jawab apa, asli gue gelagapan. Gue ga bermaksud ngerahasiain apa-apa ke dia, bukan maksud ga cerita juga, tapi emang udah lama gue ga kambuh, jadi gue rasa ga perlu cerita ke dia.

"Iya kan udah lama ga kambuh, jadi ga kepikiran juga mau cerita..." jawab gue akhirnya.

Hening, tidak ada jawaban. Gue melihat layar handphone, melihat kalo-kalo teleponnya udah mati.

"Halo? Al?"
"Iya." 
"Maaf..." kata gue sambil menggaruk-garuk kepala.

Alana tidak langsung manjawab.

"Yaudah." jawab Alana akhirnya.

Gue yang bingung mau ngomong apa akhirnya inget mau ngajak dia ketemuan.

"Eh Al."
"Apa?"
"Itu... Emm... Main yuk, udah lama engga." astaga Tuhan, tolol banget emang gue, itu ngajak ketemuan macam apa? 
"Eh, maksudnya ketemuan, udah lama ga ketemu." ralat gue.
"Iya gampang lah. Yaudah ya, cepet sembuh. Salam buat Helen." lalu telepon ditutup. Meninggalkan gue yang melongo dengan bodohnya.

Gue meletakkan handphone di meja, dan tertawa tolol, menertawai kebodohan gue yang terlalu akut.

"Gimana?" tanya Helen sambil melepas earphone dari telinganya.
"Ha ha ha, Helen, selamat, temen lo ini harus dapet penghargaan pemeran pria tolol terbaik taun ini." jawab gue tetap dengan mata yang menerawang.
"Hah? Apa sih? Kenapa?" tanya Helen lagi.

Lalu gue ceritakan apa yang terjadi di telepon, dan Helen sukses menarik semua perhatian orang di coffee shop ini karena suara tawanya.

"Hahahahahaha, asli deh gue ga ngerti apa isi kepala lo itu." Helen masih setengah mati berusaha menahan tawanya.

Gue diam, meratapi kebodohan gue sendiri.

"Tapi dia masih peduli kan sama elo." Helen menyeka air mata tawa yang muncul di mata kanannya.

"Ya iya sih..." gue mengaduk-aduk sisa Hot Chocolate gue yang tidak lagi panas kemudian meminumnya. Manis, lalu pahit di akhirnya.

Gue rasa kalian juga tau, minuman cokelat akan selalu seperti itu, kan? Ketika kalian memesan cokelat panas, akan lebih enak jika diminum sebelum dingin. Karena ketika cokelat itu tidak lagi panas, akan ada rasa pahit yang tertinggal di sisa tegukan terakhir kalian. Dulu gue selalu menunggu hingga cokelat panas gue menjadi dingin, lalu gue sadar, ketika dingin, rasa pahitnya akan muncul.

Mungkin seperti itu juga yang terjadi sekarang. Gue terlalu lama menunggu, hingga akhirnya Alana yang 'hangat' menjadi 'dingin' ke gue. Alana yang 'manis' menjadi 'pahit' gue rasakan. Walau tidak sepenuhnya pahit, gue tetap merasakan manisnya, ketika dia tetap chat gue setiap hari. Tidak sepenuhnya dingin, gue tetap merasakan hangatnya, ketika mendengar suaranya yang mengkhawatirkan gue. 

Dia masih ada.

Mungkin, 'Hot Chocolate' gue tidak sehangat dulu, tidak semanis dulu. Tapi tetap akan gue nikmati dingin dan pahitnya. Karena, dia ada buat gue.

"Yo, lo tu harus bisa pertahanin Alana," Helen menenggak sisa minumannya. "Dia udah terlalu bagus buat elo. Sayang kalo sampe dia hilang. Liat deh elo, muka lo biasa aja, tinggi juga engga, dompet tipis, dan Alana masih ada buat elo. Lo harus banyak bersyukur sama Tuhan." kata Helen melanjutkan.
"Iya El. Gue juga sadar, kayanya emang santet gue ke Alana berhasil."
"Kampret hahahahaha." Helen tertawa.

Hening sejenak, gue masih bengong dengan pandangan yang menerawang entah ke mana.

"Balik yuk." ajak gue akhirnya.
"Yuk. Gue anterin sampe rumah ya." Helen menawarkan.
"Ga usah, sampe apartemen Keyra aja. Sekalian ambil motor." 
"Emang lo udah kuat bawa motor?"
"Udah, nanti gue istirahat dulu aja di tempat Keyra."
"Ya udah."

Di dalam mobil, gue lebih banyak diam, mendengarkan lagu-lagu dari Brava Radio ditambah kemacetan jalan Margonda dan cahaya lampu di malam hari membuat gue kembali tenggelam dalam pikiran gue tentang Alana. Tidak banyak wanita yang bisa menerima ke-pasif-an gue, tidak banyak wanita yang bisa menerima kebodohan gue, dan tidak banyak wanita yang bisa menerima kelemahan gue, tapi dia bisa menerima gue. Gue beruntung. Terlalu beruntung.

"Di sini aja El, biar gue nyebrang." kata gue setelah mobil mendekati JPO Margo City.
"Okey." Helen meminggirkan mobilnya, lalu mencubit pipi kanan gue pelan. "Jangan kambuh lagi lah, untung ada gue tadi, kalo engga gimana? Bawa tas, ya?" kata Helen dengan nada khawatir.
"Iya, Mami. Thank you ya," gue memeluk Helen erat, lalu beranjak keluar.
"Ati-ati nyebrangnyaa." Helen melambai ke arah gue yang mulai berjalan menuju JPO.

Di keramaian JPO ini, segala hiruk-pikuknya membuat gue memperhatikan semuanya. Mereka yang berjualan, mereka yang mengharapkan sepeser rupiah, mereka yang jalan terburu-buru, mereka yang tertawa dengan temannya, dan bahkan mereka yang hanya diam melihat ke arah jalan. Lalu gue pun tenggelam dalam pikiran gue sendiri. Setiap dari kita tentu punya persoalan masing-masing, gue dikelilingi oleh perempuan-perempuan hebat di sekitar gue, dengan persoalan percintaan mereka masing-masing. Keyra yang sengaja menyibukkan diri agar bisa melupakan Naren. Helen yang mulai luluh pada adik tingkat (dia paling anti sama laki-laki yang lebih muda dari dia) dan gue dengan persoalan gue sendiri.

Sekarang, gue harus 'berjuang' untuk mendapatkan Hot Chocolate gue lagi.

Gue merasakan handphone gue bergetar, gue lihat ada notifikasi iMessage dari Alana.

"Ayo ketemu." isi pesannya.

Gue tersenyum, cukup dua kata itu saja sudah bisa membuat jantung gue berdegup luar biasa kencang, dan cukup dua kata itu saja sudah bisa membuat gue tidak bisa berhenti tersenyum lebar.

Gue mencari nama Alana di recent call, tanpa keraguan gue telepon dia.

Hanya perlu dua nada panggil, Alana mengangkat telepon gue.

"Hei." ucap gue ringan.
"Hei..." suaranya tidak lagi datar, suaranya lemah, tidak lagi dingin.
"Hehe."
"Yo..." kata Alana menggantung.
"Iya?" jawab gue lembut.
"Kangen..." suranya lirih, gue bisa mendengar dia sedikit terisak, kerongkongan gue seperti tercekat mendengar isakannya.

Gue terdiam sejenak, tidak gue sadari sudah berapa lama gue berdiri mematung di depan Maxx Coffee.

"Kita ketemu ya." kata gue akhirnya.
"He'em..." jawab dia yang gue bisa bayangkan dia mengangguk menjawab pernyataan gue.

Ada hening beberapa saat, lalu gue kembali bicara.

"Hey, I think I lost something.
"Apa?"
"The sweetest smile of yours."
"Hmm..." Alana hanya menggumam pelan.
"Can you find it for me?"
"I know where it is...
"You do? So where's the smile?"
"Here..." jawab Alana pelan.
"Where's the smile?" ulang gue.
"Here..." jawab Alana lebih kuat.
"Hehe, udah senyum?"
"Udah..."
"We'll meet soon, ya." gue tersenyum, karena gue tau, dia juga tersenyum.
"Iya."

Lalu gue menutup telepon, gue masukkan handphone ke dalam saku, dan kembali berjalan.




Perjuangan gue memang baru akan dimulai.




Tapi gue rasa, untuk sekarang, ini selesai.




Iya, selesai.




-oo-