Klik di sini kalo belum baca
part sebelumnya -->
Gelato Paradise
---------------------
“Biasa kan?” tanya Helen sambil
meletakkan tasnya di sebelah gue.
“Iya El.” jawab gue pelan yang
dia jawab dengan anggukan.
Oh terima kasih, entah kenapa
hari ini sakit gue kambuh lagi, untung Helen juga lagi pas di kampus. Gue punya
penyakit yang membuat gue bisa tiba-tiba sakit kepala luar biasa dan lemas luar
biasa juga, yang bikin gue bener-bener ga bisa gerak. Gue abis bimbingan, dan
tiba-tiba aja penyakit gue ini kambuh lagi. Gue langsung telepon Helen, nanyain
dia di mana, dan pahlawan gue itu langsung keluar kelas, nyamperin gue kemudian
nuntun gue ke mobilnya.
Iya, kalo kalian liat cowo pake
kaus-bomber-jeans-boots warna hitam, dan bawa map plastik bening
lagi jalan dituntun sama cewe, kalian ga salah liat, itu gue.
Helen udah sering bareng gue dan
tau banget gue jarang bawa tas ke kampus, jadi, dulu gue minta tolong dia buat
sedia Panadol merah dan satu bar cokelat di tasnya, untung dua barang itu
ga keluar dari tasnya walaupun kami udah jarang ketemu. Gue sangat butuh Panadol untuk membunuh sakit kepala, dan cokelat manis yang bisa mengembalikkan
gue dari lemas luar biasa ini.
Setelah sampai di mobil Helen,
gue makan cokelat dan minum Panadolnya, lalu gue tiduran di mobil Helen, sambil
nunggu dia selesai kelas, hingga akhirnya di sini lah kami, Kopibar Margonda,
gue yang terduduk lunglai dan Helen yang memesankan Hot Chocolate buat
gue dan pasti Piccolo Latte buat dirinya sendiri. Oh iya, kalian ga
salah baca, gue selalu pesan Hot Chocolate di kedai kopi mana pun, karena
gue ga minum kopi, gue hanya penikmat aromanya saja.
“Gimana, udah mendingan?” Helen
datang dari toilet bersamaan dengan datangnya minuman kami, gelas Hot Chocolate yang langsung gue genggam untuk menghangatkan tangan, coffee
shop ini terlalu dingin buat gue yang sekarang.
“Lumayan, paling engga pusingnya
udah ngurang.” gue menyeruput minuman gue. Sial, panas.
“Tumben kambuh lagi, kayanya udah
lama lo ga kambuh?” tanya Helen.
“Ga tau, aneh gue juga.”
“Telat makan kali lo.”
“Biasanya juga gimana El.”
“Iya ya hehehe.” Helen terkekeh karena
gue rasa semua juga tau kalo gue ga pernah makan di luar.
Kemudian gue menghabiskan hampir
setengah jam mendengarkan Helen cerita, sambil pelan-pelan meminum hot
chocolate gue, Helen emang paling bisa bikin gue nyaman lagi. Gue yang
daritadi sandaran di pundaknya, merangkul lengannya, dia yang lalu melepas
kacamata gue dan meletakkannya di meja, membiarkan gue terpejam sambil
mendengar ceritanya. Ini siapa yang cowo siapa yang cewe sih sebenernya?
“Eh iya, Alana gimana Yo? Lo ga
cerita lagi abis malem itu.” tanya Helen.
Gue tidak langsung menjawab.
“Well, I’m fucked up.”
jawab gue pelan.
“Loh? Kenapa?” tanya Helen lagi.
Kalian pernah ada dalam suatu
keadaan diajak naik ke awan, terus pas udah sampe, kalian ditendang jatuh ke
bawah? Nah itu. Sejak terakhir gue dan Alana jalan bareng di Gancit, dan dia
cerita tentang pertemuan kami berdua, ga lama dari itu juga, entah kenapa dia
menjadi tidak sehangat dulu. Gue gatau apa yang terjadi, dia jadi dingin ketika
di chat, membalas seadanya.
Gue ngerasa kaya semua yang udah
kami lewatin berdua selama tujuh bulan 11 hari berlalu begitu saja.
Iya, gue ngitungin, kenapa?
"Abis malem itu, dia kaya
dingin gitu sih, El." jawab gue akhirnya
"Ko gitu? Lo abis ngapain
emang?"
"Gue ga ngapa-ngapain, gue
sampe scroll chat gue ke atas, nginget-nginget perjalanan pulang
dari rumahnya. Ga ada yang salah, semuanya normal, semuanya kaya bia..sa... Apa
karena itu El?!" gue bangkit dari sandaran gue di pundaknya.
Helen menggumam pelan, mengangkat
bahunya.
"Apa karena harusnya hari
itu gue bikin movement?" Gue mengambil kacamata di meja, dan
memakainya. "Apa harusnya malem itu gue... gue... Tapi gue malah ga
ngapa-ngapain..." gue merasakan kerutan di dahi gue memikirkan kemungkinan
itu.
"Well, dari cerita lo
sih, emang paling engga malem itu harusnya lo ngomong apa kek." Helen
mengangkat satu alisnya.
"Tapi... Waktu itu kan baru
lima bulan El, apa ga kecepetan?"
Helen tersenyum.
"Menurut gue, masa pdkt tu
ga ada patokan lama atau bentarnya sih. Itu kan situasional, tiap orang
beda-beda, kalo keadaan udah mendukung ya kenapa engga, dan kadang momen kan ga
dateng dua kali. Mungkin menurut dia, malem itu momennya. Lo tu selalu
kelamaan, takut ngambil langkah, kaya dulu, pdkt dua tahun, ga jadi juga kan?
Lama pdkt tu ga menjamin lo bakal sukses atau engga." kata Helen pelan,
membuat gue merasa ditonjok pas di ulu hati.
Gue terdiam, mengulang kembali
ingatan gue tentang malem itu. Alana yang menahan gue lama di depan rumahnya,
wajahnya yang tiba-tiba lesu saat gue pamit pulang tanpa ngomong sesuatu yang
penting, yang gue kira itu wajah lesunya karena capek jalan seharian. Alana
yang malam itu minta di telepon saat gue ngabarin kalo gue udah sampe rumah,
bukan sekedar membalas chat seperti biasa, yang kemudian 16 menit di
telepon lebih banyak kami habiskan dengan diam, dan gue masih ga sadar sama
'kemauan' dia.
Gue mengutuk diri gue sendiri.
Udah dua bulanan dari malam itu, sampe sekarang, Alana yang ga sehangat dulu
tapi masih nanyain hari-hari gue, nanyain kegiatan gue, walaupun ketika gue
tanya balik dia cuma jawab seadanya. Bodohnya gue.
Dan lamunan gue pecah saat Keyra
dateng.
"Kenapa lagi ini si Cebol,
El?" tanya Keyra ke Helen.
"Ga tau nih Ra, tiba-tiba dia
kambuh lagi." jawab Helen.
"Jahat lo Key." gue
menimpali sambil menggeser posisi duduk.
"Iya, emang gue temen lo yang
jahat ini, yang abis lo telpon mau ngangkot dari apartemen, ke sini, terus nanti
ngambil motor lo di kampus terus ntar gue parkirin di parkiran apartemen gue
sebelom perkiran kampus lo ditutup." Keyra nyerocos.
"Hehehehehe, kalian ini
terbaik emang hehehe." kata gue menatap Helen dan Keyra bergantian.
Keyra menarik kursi, lalu duduk
di hadapan gue.
"Yaudah sini mana kunci
motor lo?"
"Loh, ga di sini dulu?"
tanya Helen.
"Engga ah, lagi nugas gue, deadline."
jawab Keyra.
"Yah maap Key." kata
gue merasa bersalah, sambil memberikan kunci motor gue.
"Apa sih ah, lebay lo.
Di mana? Di G?" kata Keyra menanyakan lokasi motor gue sambil mengambil
kunci motor dari tangan gue.
"Iya, di G." jawab gue.
"Ya udah, gue cabut ya."
Keyra beranjak bangkit dari kursinya.
"Ati-ati Key, thank you."
kata gue dan Helen hampir bersamaan.
Lalu Keyra berhenti sejenak.
"Lo gapapa kan gue
tinggal?" tanya Keyra ke Helen.
"Iya, gue udah gapa–"
jawab gue.
"Gue ga nanya elo, Cebol." potong Keyra.
Helen terkekeh, "Iya Ra,
gapapa ko gue, lo lanjut aja."
"Oke." lalu Keyra
mengarahkan pandangannya ke gue, "Ga usah sering kambuh lo, nyusahin aja,
buruan sembuh, kasian Helen." kata Keyra sambil berlalu, seakan tidak
membutuhkan jawaban gue.
"Siaap komandan!" jawab
gue, dan gue lihat Keyra tersenyum.
Setelah Keyra pergi, gue kembali
larut dalam pikiran gue tantang Alana.
"Udah, mungkin bukan karena
itu juga alasannya." Helen menyeruput minumannya pelan.
"Terus apa dong El? Mungkin
dia bosen aja kali ya, sebenernya dua sampe tiga hari setelah malem itu tu dia
masih ga terlalu dingin, tapi abis itu baru deh. Apa dia bosen sama gue yang
gitu-gitu aja?" kata gue mencoba menerka-nerka lagi.
"Kenapa lo bisa mikir
gitu?" tanya Helen.
"Ya lo kan tau gue... Gue
separah itu ya El? Se-ngebosen-in itu?" kata gue.
Helen mengubah posisi duduknya
yang sedari tadi menopang dagu dengan tangan kirinya.
"Yo, gue rasa Alana juga
udah ngerti elo. Elo yang pasif, yang ga bisa mulai duluan, dan gue rasa, Alana
bisa nge-cover kelemahan lo itu dengan baik. Dia bisa bertahan sama elo
sampe segini lama, kalo dia emang ga tahan sama elo, dia pasti bakal ninggalin
elo dari jauh-jauh hari. Ga akan masih rajin nge-chat elo." kata
Helen pelan.
Saat itu handphone gue
berbunyi, notifikasi iMessage. Dari Alana.
"Di mana? Udah pulang?"
cuma itu isi pesannya.
See? Buat seorang Alana, ini dingin banget,
bener-bener tidak hangat seperti Alana yang gue tau, tapi dia masih selalu chat
gue seperti ini setiap hari, walaupun setelah menjawab pertanyaannya itu, chat
gue tidak akan dibalas lagi.
"Alana nih, El." kata
gue ke Helen.
"Tuh, baru diomongin, dia
masih mau kan chat elo." jawab Helen.
Gue masih terdiam melihat
notifikasi itu, belum gue balas.
"Coba, selama dua bulan ini
lo ngapain aja? Lo udah ngajak dia ketemuan?" tanya Helen.
Gue menggeleng.
"Astaga, ga lo ajak jalan
atau ketemuan sama sekali?" bisa gue liat tatapan heran Helen ke gue.
"Abis... Biasanya kan dia
yang ngajak, jadi karena selama ini dia ga ngajak, gue kira dia sibuk jadi ga
bisa jalan..." jawab gue pelan.
Helen menggeleng-gelengkan
kepalanya, "Gue semakin yakin lo tu sebenernya emang bukan cowo."
"Terus gimana dong, gue ajak
ketemu nih?" tanya gue.
"Ya iyalah Adityo
Kristianto, lo tuh ya, udah kaya kucing dikasih ikan asin, tapi bukannya
dimakan malah diliatin aja. Dulu kan lo bisa ngajak ketemuan cewe lo tiap
hari, masa sekarang ga bisa?" kata Helen sebal.
"Emang kucing makan ikan
asin, El?" kata gue ngaco.
"JANGAN NGALIHIN
PEMBICARAAN!" gue rasa Helen mau ngebakar gue idup-idup.
"I... Iya... Ya kan itu dulu
udah jadi cewe gue, ini kan belom, takut lah gue." gue membela diri.
"Yaudah yaudah iya, udah
deh, sekarang lo mending ajak dia ketemuan aja kapan kek."
"Iya."
Gue membalas iMessage Alana,
bilang kalo gue lagi sama Helen, lalu mengajaknya ketemuan. Tidak sampai satu
menit, ada balasan dari dia, "Tumben belum pulang?" cuma itu jawaban
dia. Gue jelasin di chat tentang penyakit gue yang kambuh, and you
know what? Dia telepon gue.
"El..." kata gue ke
Helen sambil menunjukkan layar handphone gue yang menunjukkan ada
telepon masuk dari Alana.
"Angkat lah." Helen
lalu mengambil earphone dan mulai memutar lagu di handphone-nya.
Gue angkat telepon Alana dengan
gemetaran, dalam dua bulan, ini pertama kalinya lagi gue akan mendengar suaranya.
"Ha... Halo..."
"Kamu kenapa?" tanya
Alana singkat, suaranya datar, kaya jalan tol baru jadi.
Eh, wait, gue ga inget
kalo gue dan Alana udah pindah ke fase aku-kamu.
"Ngg, itu, ini, penyakit
lama, emang suka kambuh." jawab gue akhirnya.
"Sakit apa? Kamu ga pernah
cerita." kata Alana masih dengan suara datarnya. Gue udah diem gemeter
megang handphone.
Lalu gue jelaskan panjang lebar
tentang penyakit gue ini, Alana diam, mendengarkan penjelasan gue.
"Halo?" kata gue karena
gue tidak mendengar suara Alana.
"Iya, lanjut aja."
jawab dia.
"Iya gitu, sekarang masih
di sini sama Helen, motor tadi udah diambil Keyra, diparkir di
apartemennya." kata gue lagi.
"Kenapa baru cerita? Terus
kalo kambuhnya pas lagi sama aku gimana? Aku kan ga sedia Panadol sama cokelat
di tas. Kamu mau aku panik lari-lari ke minimarket? Terus kalo lagi di tempat
yang ga ada minimarket kaya waktu itu gimana?" jeleger. Gue berasa
disamber petir tepat di ubun-ubun kepala gue denger rentetan pertanyannya.
Gue bingung mau jawab apa, asli
gue gelagapan. Gue ga bermaksud ngerahasiain apa-apa ke dia, bukan maksud ga
cerita juga, tapi emang udah lama gue ga kambuh, jadi gue rasa ga perlu cerita
ke dia.
"Iya kan udah lama ga
kambuh, jadi ga kepikiran juga mau cerita..." jawab gue akhirnya.
Hening, tidak ada jawaban. Gue
melihat layar handphone, melihat kalo-kalo teleponnya udah mati.
"Halo? Al?"
"Iya."
"Maaf..." kata gue
sambil menggaruk-garuk kepala.
Alana tidak langsung manjawab.
"Yaudah." jawab Alana
akhirnya.
Gue yang bingung mau ngomong apa
akhirnya inget mau ngajak dia ketemuan.
"Eh Al."
"Apa?"
"Itu... Emm... Main yuk,
udah lama engga." astaga Tuhan, tolol banget emang gue, itu ngajak
ketemuan macam apa?
"Eh, maksudnya ketemuan,
udah lama ga ketemu." ralat gue.
"Iya gampang lah. Yaudah ya,
cepet sembuh. Salam buat Helen." lalu telepon ditutup. Meninggalkan gue
yang melongo dengan bodohnya.
Gue meletakkan handphone di
meja, dan tertawa tolol, menertawai kebodohan gue yang terlalu akut.
"Gimana?" tanya Helen
sambil melepas earphone dari telinganya.
"Ha ha ha, Helen, selamat,
temen lo ini harus dapet penghargaan pemeran pria tolol terbaik taun ini."
jawab gue tetap dengan mata yang menerawang.
"Hah? Apa sih? Kenapa?"
tanya Helen lagi.
Lalu gue ceritakan apa yang
terjadi di telepon, dan Helen sukses menarik semua perhatian orang di coffee shop ini
karena suara tawanya.
"Hahahahahaha, asli deh gue
ga ngerti apa isi kepala lo itu." Helen masih setengah mati berusaha
menahan tawanya.
Gue diam, meratapi kebodohan gue
sendiri.
"Tapi dia masih peduli kan
sama elo." Helen menyeka air mata tawa yang muncul di mata kanannya.
"Ya iya sih..." gue
mengaduk-aduk sisa Hot Chocolate gue yang tidak lagi panas kemudian
meminumnya. Manis, lalu pahit di akhirnya.
Gue rasa kalian juga tau, minuman
cokelat akan selalu seperti itu, kan? Ketika kalian memesan cokelat panas, akan
lebih enak jika diminum sebelum dingin. Karena ketika cokelat itu tidak lagi
panas, akan ada rasa pahit yang tertinggal di sisa tegukan terakhir kalian.
Dulu gue selalu menunggu hingga cokelat panas gue menjadi dingin, lalu gue
sadar, ketika dingin, rasa pahitnya akan muncul.
Mungkin seperti itu juga yang
terjadi sekarang. Gue terlalu lama menunggu, hingga akhirnya Alana yang
'hangat' menjadi 'dingin' ke gue. Alana yang 'manis' menjadi 'pahit' gue
rasakan. Walau tidak sepenuhnya pahit, gue tetap merasakan manisnya, ketika dia
tetap chat gue setiap hari. Tidak sepenuhnya dingin, gue tetap merasakan
hangatnya, ketika mendengar suaranya yang mengkhawatirkan gue.
Dia masih ada.
Mungkin, 'Hot Chocolate' gue
tidak sehangat dulu, tidak semanis dulu. Tapi tetap akan gue nikmati dingin dan
pahitnya. Karena, dia ada buat gue.
"Yo, lo tu harus bisa
pertahanin Alana," Helen menenggak sisa minumannya. "Dia udah terlalu
bagus buat elo. Sayang kalo sampe dia hilang. Liat deh elo, muka lo biasa aja,
tinggi juga engga, dompet tipis, dan Alana masih ada buat elo. Lo harus banyak
bersyukur sama Tuhan." kata Helen melanjutkan.
"Iya El. Gue juga sadar,
kayanya emang santet gue ke Alana berhasil."
"Kampret hahahahaha."
Helen tertawa.
Hening sejenak, gue masih bengong
dengan pandangan yang menerawang entah ke mana.
"Balik yuk." ajak gue
akhirnya.
"Yuk. Gue anterin sampe
rumah ya." Helen menawarkan.
"Ga usah, sampe apartemen
Keyra aja. Sekalian ambil motor."
"Emang lo udah kuat bawa
motor?"
"Udah, nanti gue istirahat
dulu aja di tempat Keyra."
"Ya udah."
Di dalam mobil, gue lebih banyak
diam, mendengarkan lagu-lagu dari Brava Radio ditambah kemacetan jalan Margonda
dan cahaya lampu di malam hari membuat gue kembali tenggelam dalam pikiran gue
tentang Alana. Tidak banyak wanita yang bisa menerima ke-pasif-an gue, tidak
banyak wanita yang bisa menerima kebodohan gue, dan tidak banyak wanita yang
bisa menerima kelemahan gue, tapi dia bisa menerima gue. Gue beruntung. Terlalu
beruntung.
"Di sini aja El, biar gue
nyebrang." kata gue setelah mobil mendekati JPO Margo City.
"Okey." Helen
meminggirkan mobilnya, lalu mencubit pipi kanan gue pelan. "Jangan kambuh
lagi lah, untung ada gue tadi, kalo engga gimana? Bawa tas, ya?" kata
Helen dengan nada khawatir.
"Iya, Mami. Thank you
ya," gue memeluk Helen erat, lalu beranjak keluar.
"Ati-ati nyebrangnyaa."
Helen melambai ke arah gue yang mulai berjalan menuju JPO.
Di keramaian JPO ini, segala
hiruk-pikuknya membuat gue memperhatikan semuanya. Mereka yang berjualan,
mereka yang mengharapkan sepeser rupiah, mereka yang jalan terburu-buru, mereka
yang tertawa dengan temannya, dan bahkan mereka yang hanya diam melihat ke arah
jalan. Lalu gue pun tenggelam dalam pikiran gue sendiri. Setiap dari kita tentu
punya persoalan masing-masing, gue dikelilingi oleh perempuan-perempuan
hebat di sekitar gue, dengan persoalan percintaan mereka masing-masing. Keyra
yang sengaja menyibukkan diri agar bisa melupakan Naren. Helen yang mulai luluh
pada adik tingkat (dia paling anti sama laki-laki yang lebih muda dari dia) dan
gue dengan persoalan gue sendiri.
Sekarang, gue harus 'berjuang'
untuk mendapatkan Hot Chocolate gue lagi.
Gue merasakan handphone gue
bergetar, gue lihat ada notifikasi iMessage dari Alana.
"Ayo ketemu." isi
pesannya.
Gue tersenyum, cukup dua kata itu
saja sudah bisa membuat jantung gue berdegup luar biasa kencang, dan cukup dua
kata itu saja sudah bisa membuat gue tidak bisa berhenti tersenyum lebar.
Gue mencari nama Alana di recent
call, tanpa keraguan gue telepon dia.
Hanya perlu dua nada panggil,
Alana mengangkat telepon gue.
"Hei." ucap gue ringan.
"Hei..." suaranya tidak
lagi datar, suaranya lemah, tidak lagi dingin.
"Hehe."
"Yo..." kata Alana
menggantung.
"Iya?" jawab gue
lembut.
"Kangen..." suranya
lirih, gue bisa mendengar dia sedikit terisak, kerongkongan gue seperti
tercekat mendengar isakannya.
Gue terdiam sejenak, tidak gue
sadari sudah berapa lama gue berdiri mematung di depan Maxx Coffee.
"Kita ketemu ya."
kata gue akhirnya.
"He'em..." jawab dia
yang gue bisa bayangkan dia mengangguk menjawab pernyataan gue.
Ada hening beberapa saat, lalu
gue kembali bicara.
"Hey, I think I lost
something."
"Apa?"
"The sweetest smile of
yours."
"Hmm..." Alana hanya
menggumam pelan.
"Can you find it for me?"
"I know where it is..."
"You do? So where's
the smile?"
"Here..." jawab
Alana pelan.
"Where's the smile?"
ulang gue.
"Here..." jawab
Alana lebih kuat.
"Hehe, udah senyum?"
"Udah..."
"We'll meet soon,
ya." gue tersenyum, karena gue tau, dia juga tersenyum.
"Iya."
Lalu gue menutup telepon, gue
masukkan handphone ke dalam saku, dan kembali berjalan.
Perjuangan gue memang baru akan
dimulai.
Tapi gue rasa, untuk sekarang,
ini selesai.
Iya, selesai.
-oo-