Saturday, August 13, 2016

Maha-nya Para Siswa

Halo halo, apa kabar kalian?
Gimana mama-papa? Sehat?
Urusan kuliah gimana, lancar?
Malem ini gue mau nyeritain pengalaman asik nih, ditemenin sama lagu-lagu tahun 2000an dan segelas susu soda, yuk mulai!

Saturday, July 23, 2016

Perempuan Pertama

Halooo!
Apa kabar? Lama juga ya ga ngepost.
Entah kenapa baru mood lagi buat nyelesein draft yang udah lama numpuk.

Kaya biasanya, malem ini gue ngetik sambil ditemenin lagu-lagu yang bisa menambah sendu suasana malam sepi kota Depok.

Lagu pertama yang mengalun adalah One Last Cry-nya Brian McKnight, hmm, bahaya. Semoga gue bisa menyelesaikan draft kali ini.

So let's start!



Perempuan pertama.
Ya, gue akan menceritakan tentang perempuan pertama yang mengajarkan sesuatu dalam hidup gue. Perempuan yang mengajarkan tentang apa itu sebuah hubungan, bagaimana menjalani sebuah hubungan, mengatasi masalah dalam sebuah hubungan dan yang lainnya.

Sebelum lebih jauh, biarkan gue memperkenalkan dia terlebih dahulu, namanya adalah Archangela Gilarni Jafloenty (bukan nama samaran), dia adalah teman satu kelas di SMA yang akhirnya bisa menembus tembok kokoh yang gue bangun selama kurang lebih 5 tahun, ya, 5 tahun penuh terisi dengan trauma akan kegagalan pada cinta pertama. Dia datang di tengah kesepian yang telah menjadi sahabat terbaik gue selama 5 tahun ini. Gue tidak pernah merasa kesepian, tapi saat tiba-tiba handphone gue menjadi rame setiap hari karena pesan masuk dari dia, gue jadi tau, gue jadi paham, bahwa selama 5 tahun itu, gue sendirian. Gue jadi mengerti bahwa selama ini gue hidup dalam sepi, sampai dia datang ke hidup gue untuk sedikit memberi cahaya yang menerangi jalan yang selama ini gelap gulita.

Gue sering berpikir, kenapa gue bisa "jatuh" ke dia, dan setelah sekian lama, akhirnya gue menemukan alasan yang tepat. Dia datang di puncak kesepian gue, dia datang tepat dimana rasanya gue butuh seseorang untuk bersandar. 

Lama sekali rasanya gue tidak merasakan rasa bahagia saat ada pesan masuk, rasa girang saat berbalas pesan, sembunyi-sembunyi saat telponan, dan rasa ingin cepat sampai sekolah hanya untuk bertemu seorang perempuan, rasa-rasa itu tadi yang telah dia berikan ke gue, yang gue kira telah hilang di hidup gue. Ternyata masih ada.

Prosesnya pun simpel, dalam hati ini gue tetap berpegang teguh pada prinsip hidup gue yang tidak mau berpacaran. Buat gue itu bisa berjalan lancar, tapi tidak dengan dia. Dia menginginkan kejelasan, begitu juga teman-teman yang lain. Gue dianggap laki-laki yang suka menggantungkan seseorang, padahal iya tidak. Gue tidak menginginkan sebuah status, gue tidak mencari status dari dia, gue bahagia dengan pesan-pesannya, gue bahagia saat mengantar dia pulang, gue bahagia saat menjemput dia dari tempat les dan akhirnya makan malam berdua, gue bahagia. 

Sejujurnya, banyak pertimbangan yang ada di pikiran gue saat itu. Gue tidak ingin status, tapi gue juga tidak ingin dia hilang. Dia memberikan sesuatu yang luar biasa, yang membuat gue bisa membuka hati, tapi di sisi lain gue telah melawan perempuan yang selama ini gue sayang, mamah. Ya, mamah tidak pernah setuju gue dekat dengan dia, karena mamah tau perbedaan agama bukanlah hal sepele, dan itu juga yang menjadi pertimbangan gue kenapa gue ga pernah mau pacaran sama dia. Pertimbangan yang terakhir adalah, saat itu adalah saat dimana sebentar lagi kami kuliah, ya, kami kelas 3 SMA saat itu. Hubungan pertama gue, dan gue harus LDR, gile gile, ngidam apa dulu nyokap gue sampe dapet anak kaya gini. Tapi kami tetap jadian dengan cara kami sendiri, tidak ada tanggal resmi, hanya kami sama-sama tau bahwa kami adalah milik satu sama lain. Tidak ada acara tembak menembak, tidak ada peringatan bulanan atau tahunan, tapi, kami jadian.

Kami bersama menjalani hubungan itu lumayan lama, dan mungkin tidak terlalu buruk, berjalan sekitar 1 tahun lebih, dan gue merasakan rasa jatuh yang amat sangat, karena itu adalah pertama kalinya gue merasakan memiliki perempuan yang gue sayang, yang gue jaga, yang selalu menemani kehidupan gue saat itu, gue jadi lemah soal dia. Gue pernah meneteskan air mata hanya karena seharian tidak saling komunikasi, gue kangen, gue terbiasa ada dia di hari-hari gue, dan saat dia 'pergi sebentar', gue tidak bisa menerima keadaan itu. Saat dia lebih bahagia dengan suasana barunya, gue harus mencari cara supaya gue tetap menarik buat dia. Saat awal kuliah adalah momen-momen paling berat buat gue, momen dimana dia lagi asik-asiknya sama teman baru, lingkungan baru, dan kuliah di bidang yang emang bener-bener expert-nya dia. Gue gabisa nyalahin dia, karena memang dunianya bukan hanya gue. Sementara gue, sudah sangat tergantung dengan dia, dan gue sangat butuh dia. Puncaknya, saat dia bilang bahwa dia bosan, gue diam. Gue bingung, pikiran stuck, gue sedih. Ya, postingan gue yang sempat membahas tentang rasa bosan pada pasangan adalah curhatan gue buat dia. Tapi bukan itu yang membuat kami pisah, karena kami akhirnya memutuskan untuk berpisah setelah masalah perbedaan kepercayaan ini semakin pelik. Saat perbincangan tentang perpisahan itu dibahas, jujur gue tidak bisa menahan sedih, sesak rasanya, lebay mungkin, tapi itu benar-benar yang gue rasakan. 

Hari-hari setelah itu, gue merasakan kehampaan yang amat sangat. Gue terbiasa dengan dia, dia adalah hari-hari gue, dan gue harus menjalani hari-hari tanpa ada dia, itu berat. Gue terbiasa dengan perjalanan pulang ke rumah ditemani dia di telpon, terbiasa dengan ucapan selamat tidur yang membuat tidur gue nyenyak, terbiasa dengan obrolan pagi yang membuat gue semangat, dan semua itu hilang. 

Saat dia hilang, dunia gue hilang.

Gue kembali pada keadaan yang sepi, yang awalnya sangat menyiksa. Hingga kini, kesepian tidak lagi menggangu. Gue telah kembali terbiasa dengan rasa sepi, rasa sepi tidak lagi gue rasakan sebagai kesepian, karena gue memang tidak merasakan kesepian. Gue meninggalkan handphone seharian pun mungkin tidak akan menjadi masalah, dan gue tidak terganggu dengan itu. Malah terkadang gue agak aneh bila ada notifikasi pesan di handphone gue. 

Hidup gue yang penuh dengan berbagi cerita pun hilang, dan kembali gue memendam semuanya, karena gue memang tidak terlalu punya banyak teman yang bisa gue ajak berbagi cerita. Kehidupan gue yang sebenarnya pun seakan memanggil, kesendirian yang selalu menemani gue pun mengajak untuk kembali. 

Ya, gue lupa, bahwa gue bahagia dengan kesendirian, gue sangat menikmati kesendirian yang gue rasakan saat ini. Gue bebas melakukan apapun, kapanpun. Gue tidak harus kumpul-kumpul ga jelas di luar sana, tidak perlu keramaian kota, gue hanya perlu rumah. Rumah yang selalu bisa memenuhi semua yang gue butuhkan, gue tidak pernah bosan ada di rumah, karena rumah akan selalu menjadi tempat untuk kembali.  


Hubungan baru? Tidak, tidak untuk sekarang. 
Untuk sekarang, sendiri lebih menarik, dan mungkin lebih baik.


Untuk kamu, tulisan tentang kamu ini (akhirnya) bisa saya selesaikan. Terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang sudah kamu berikan dan yang kita pelajari bersama. Terima kasih sempat mengisi bagian dari cerita hidup saya ini. Mungkin hanya sedikit yang diceritakan disini, karena selebihnya biarkan saya simpan sendiri. 



Sekali lagi, terima kasih. 


Saturday, April 2, 2016

Cerita Kecil

'Hai,kamu apa kabar?'

Ya, kata itulah yang mengawali percakapan antara kami setelah sekian lama tidak bertegur sapa. Setelah sekian lama tidak menjalin komunikasi, jarak yang tercipta antara kami pun sangat renggang. Jantung berdegup kencang, seiring rasa ragu yang membebani hati ini untuk mengirim pesan singkat yang sangat singkat tersebut. Mungkin memang itu terlihat singkat, namun keraguan yang harus dibuang, sungguh tidak sesingkat itu.

Saturday, February 6, 2016

Sore Itu

'Still everyday I think about you
I know for a fact that's not your problem
But if you change your mind you'll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collaps'

Yap, itu sepotong alunan lagu yang lagi menemani gue di atas motor kesayangan gue, Honda Scoopy warna item-coklat yang rada krem, sore itu mungkin sekitar pukul 6 sore, langit terlihat biru dihiasi warna kuning-jingga dari matahari sore, ditambah lampu jalan yang sudah mulai menyala di kawasan Pondok Indah yang menambah sendu perjalanan gue sore itu, perjalanan jauh dari kampus ke rumah. 

Oh iya, it's not about my ex, it's about my first love. 

Lagu dari Adithia Sofyan itu mengiatkan gue tentang cerita masa lalu, tentang wanita yang membuat gue (sempat) sulit untuk bisa membuka hati. Gue yang dulu selalu kepikiran doi tiap hari, ya berharap siapa tau doi tiba-tiba berubah pikiran dan bisa sedikit melihat sosok kecil yang selalu menunggu. 

Dulu entah kenapa gue selalu menunggu dan terlalu jatuh ke doi, entah kenapa, sampe sekarang juga gue bingung. Setiap kumpul sama temen-temen, ngomongin cewe, yang ada di bayangan gue ya doi lagi doi lagi, emang yang namanya move on itu susahnya setengah mati, berusaha melawan kenangan. 

Yaah, waktu itu gue masih bocah, masih anak SMP yang baru pertama kali ngerasain rasanya jatuh cinta pada sesosok wanita berkerudung yang periang, dengan senyum khas yang gatau kenapa selalu ngebuat gue lemes setiap kali ngeliatnya. Cewe yang bisa bikin gue sampe sholat istikharah saking tergila-gilanya gue sama doi, padahal waktu itu sholat gue aja masih bolong-bolong, mungkin itu juga yang bikin gue rajin sholat, sampe bela-belain bangun malem buat tahajud padahal kalo papasan malah salting gajelas. 

Gila emang efek dari jatuh cinta.

Walaupun akhirnya gue harus rela ngeliat doi bahagia sama orang yang emang bisa bikin doi bahagia, karna cinta juga ga bisa dipaksain, egois banget kalo gue cuma mikirin perasaan gue sendiri, toh nyatanya emang ada yg bisa bikin doi bahagia dengan cara yang doi pengen, bukan dengan cara gue yang cuma bisa beraksi di balik layar, beliin doi pulsa diem-diem dengan harapan doi bakal bales sms gue yang ternyata harapan gue hanya sebatas harapan, tetep ga ada balesan sms yang gue terima. Gue gabisa ngasih aksi nyata yang bisa ngebuat doi sadar kalo gue punya rasa. 




Sampe di satu titik gue sadar, gue harus ngejauh. Gue gabisa gini terus, gue gabisa terus berharap pada orang yang jelas-jelas udah punya tambatan hatinya sendiri. Life must go on, ga harus selalu berhenti pada satu orang, gue mencoba realistis, sadar sama kualitas diri gue sendiri yang mungkin emang ga pantes buat doi. 

"Yaelah Yo, belom nikah, lu sikat aja kali men!"

Sori, gue bukan tipe orang yang suka ganggu hubungan orang, karna menurut gue, itu hina. Banget. Kalopun gue berhasil ngerebut dia dari cowonya itu, ga akan ngebuat gue jadi keren, karna setiap sesuatu yang didapat dengan cara yang tidak baik, hasilnya juga ga akan berkah, subhanallah sekali. Ya walaupun gue juga ga bakal bisa sih ngerebut dia dari cowonya, cowonya keren meen, gue cuma serpihan upilnya doang. 

Dulu, gue terlalu sibuk buat ngejar kebahagiaan gue itu, sampe gue lupa caranya bahagia, sampe gue lupa rasanya bahagia. Gue lupa kalo gue bisa bahagia cuma karna liat senyumnya, liat namanya di inbox hp gue, denger suara ketawanya. Gue ga sadar kalo gue bisa bahagia hanya dengan hal-hal sederhana itu. Sementara bahagianya dia, bukan gue. 

Sebagian orang mungkin emang cuma bisa jadi bagian kecil dari cerita hidup kita, mungkin cerita bahagia bisa juga cerita duka, tapi mereka yang memberikan kita alur hidup yang berwarna dan ga gitu-gitu aja. 

Jadi, kenapa kita ngga mulai membuat diri kita jadi bagian cerita bahagia di hidup orang yang sayang sama kita. 


Ah, hari makin senja, matahari meninggalkan sisa goresan indah di langit Jakarta, Jakarta yang menyimpan sejuta cerita, beribu lara yang ada dibalik tawa penduduknya.

Udah saatnya istirahat, gerungan motor gue mulai mereda sesaat memasuki ujung jalan depan rumah yang tidak begitu ramai, hanya ada beberapa satpam yang memberikan senyum ramah saat gue melintas di depannya, gue buka pintu rumah, ‘Ma, saya pulang.’.