Halooo!
Apa kabar? Lama juga ya ga ngepost.
Entah kenapa baru mood lagi buat nyelesein draft yang udah lama numpuk.
Kaya biasanya, malem ini gue ngetik sambil ditemenin lagu-lagu yang bisa menambah sendu suasana malam sepi kota Depok.
Lagu pertama yang mengalun adalah One Last Cry-nya Brian McKnight, hmm, bahaya. Semoga gue bisa menyelesaikan draft kali ini.
So let's start!
Perempuan pertama.
Ya, gue akan menceritakan tentang perempuan pertama yang mengajarkan sesuatu dalam hidup gue. Perempuan yang mengajarkan tentang apa itu sebuah hubungan, bagaimana menjalani sebuah hubungan, mengatasi masalah dalam sebuah hubungan dan yang lainnya.
Sebelum lebih jauh, biarkan gue memperkenalkan dia terlebih dahulu, namanya adalah Archangela Gilarni Jafloenty (bukan nama samaran), dia adalah teman satu kelas di SMA yang akhirnya bisa menembus tembok kokoh yang gue bangun selama kurang lebih 5 tahun, ya, 5 tahun penuh terisi dengan trauma akan kegagalan pada cinta pertama. Dia datang di tengah kesepian yang telah menjadi sahabat terbaik gue selama 5 tahun ini. Gue tidak pernah merasa kesepian, tapi saat tiba-tiba handphone gue menjadi rame setiap hari karena pesan masuk dari dia, gue jadi tau, gue jadi paham, bahwa selama 5 tahun itu, gue sendirian. Gue jadi mengerti bahwa selama ini gue hidup dalam sepi, sampai dia datang ke hidup gue untuk sedikit memberi cahaya yang menerangi jalan yang selama ini gelap gulita.
Gue sering berpikir, kenapa gue bisa "jatuh" ke dia, dan setelah sekian lama, akhirnya gue menemukan alasan yang tepat. Dia datang di puncak kesepian gue, dia datang tepat dimana rasanya gue butuh seseorang untuk bersandar.
Lama sekali rasanya gue tidak merasakan rasa bahagia saat ada pesan masuk, rasa girang saat berbalas pesan, sembunyi-sembunyi saat telponan, dan rasa ingin cepat sampai sekolah hanya untuk bertemu seorang perempuan, rasa-rasa itu tadi yang telah dia berikan ke gue, yang gue kira telah hilang di hidup gue. Ternyata masih ada.
Prosesnya pun simpel, dalam hati ini gue tetap berpegang teguh pada prinsip hidup gue yang tidak mau berpacaran. Buat gue itu bisa berjalan lancar, tapi tidak dengan dia. Dia menginginkan kejelasan, begitu juga teman-teman yang lain. Gue dianggap laki-laki yang suka menggantungkan seseorang, padahal iya tidak. Gue tidak menginginkan sebuah status, gue tidak mencari status dari dia, gue bahagia dengan pesan-pesannya, gue bahagia saat mengantar dia pulang, gue bahagia saat menjemput dia dari tempat les dan akhirnya makan malam berdua, gue bahagia.
Sejujurnya, banyak pertimbangan yang ada di pikiran gue saat itu. Gue tidak ingin status, tapi gue juga tidak ingin dia hilang. Dia memberikan sesuatu yang luar biasa, yang membuat gue bisa membuka hati, tapi di sisi lain gue telah melawan perempuan yang selama ini gue sayang, mamah. Ya, mamah tidak pernah setuju gue dekat dengan dia, karena mamah tau perbedaan agama bukanlah hal sepele, dan itu juga yang menjadi pertimbangan gue kenapa gue ga pernah mau pacaran sama dia. Pertimbangan yang terakhir adalah, saat itu adalah saat dimana sebentar lagi kami kuliah, ya, kami kelas 3 SMA saat itu. Hubungan pertama gue, dan gue harus LDR, gile gile, ngidam apa dulu nyokap gue sampe dapet anak kaya gini. Tapi kami tetap jadian dengan cara kami sendiri, tidak ada tanggal resmi, hanya kami sama-sama tau bahwa kami adalah milik satu sama lain. Tidak ada acara tembak menembak, tidak ada peringatan bulanan atau tahunan, tapi, kami jadian.
Kami bersama menjalani hubungan itu lumayan lama, dan mungkin tidak terlalu buruk, berjalan sekitar 1 tahun lebih, dan gue merasakan rasa jatuh yang amat sangat, karena itu adalah pertama kalinya gue merasakan memiliki perempuan yang gue sayang, yang gue jaga, yang selalu menemani kehidupan gue saat itu, gue jadi lemah soal dia. Gue pernah meneteskan air mata hanya karena seharian tidak saling komunikasi, gue kangen, gue terbiasa ada dia di hari-hari gue, dan saat dia 'pergi sebentar', gue tidak bisa menerima keadaan itu. Saat dia lebih bahagia dengan suasana barunya, gue harus mencari cara supaya gue tetap menarik buat dia. Saat awal kuliah adalah momen-momen paling berat buat gue, momen dimana dia lagi asik-asiknya sama teman baru, lingkungan baru, dan kuliah di bidang yang emang bener-bener expert-nya dia. Gue gabisa nyalahin dia, karena memang dunianya bukan hanya gue. Sementara gue, sudah sangat tergantung dengan dia, dan gue sangat butuh dia. Puncaknya, saat dia bilang bahwa dia bosan, gue diam. Gue bingung, pikiran stuck, gue sedih. Ya, postingan gue yang sempat membahas tentang rasa bosan pada pasangan adalah curhatan gue buat dia. Tapi bukan itu yang membuat kami pisah, karena kami akhirnya memutuskan untuk berpisah setelah masalah perbedaan kepercayaan ini semakin pelik. Saat perbincangan tentang perpisahan itu dibahas, jujur gue tidak bisa menahan sedih, sesak rasanya, lebay mungkin, tapi itu benar-benar yang gue rasakan.
Hari-hari setelah itu, gue merasakan kehampaan yang amat sangat. Gue terbiasa dengan dia, dia adalah hari-hari gue, dan gue harus menjalani hari-hari tanpa ada dia, itu berat. Gue terbiasa dengan perjalanan pulang ke rumah ditemani dia di telpon, terbiasa dengan ucapan selamat tidur yang membuat tidur gue nyenyak, terbiasa dengan obrolan pagi yang membuat gue semangat, dan semua itu hilang.
Saat dia hilang, dunia gue hilang.
Gue kembali pada keadaan yang sepi, yang awalnya sangat menyiksa. Hingga kini, kesepian tidak lagi menggangu. Gue telah kembali terbiasa dengan rasa sepi, rasa sepi tidak lagi gue rasakan sebagai kesepian, karena gue memang tidak merasakan kesepian. Gue meninggalkan handphone seharian pun mungkin tidak akan menjadi masalah, dan gue tidak terganggu dengan itu. Malah terkadang gue agak aneh bila ada notifikasi pesan di handphone gue.
Hidup gue yang penuh dengan berbagi cerita pun hilang, dan kembali gue memendam semuanya, karena gue memang tidak terlalu punya banyak teman yang bisa gue ajak berbagi cerita. Kehidupan gue yang sebenarnya pun seakan memanggil, kesendirian yang selalu menemani gue pun mengajak untuk kembali.
Ya, gue lupa, bahwa gue bahagia dengan kesendirian, gue sangat menikmati kesendirian yang gue rasakan saat ini. Gue bebas melakukan apapun, kapanpun. Gue tidak harus kumpul-kumpul ga jelas di luar sana, tidak perlu keramaian kota, gue hanya perlu rumah. Rumah yang selalu bisa memenuhi semua yang gue butuhkan, gue tidak pernah bosan ada di rumah, karena rumah akan selalu menjadi tempat untuk kembali.
Hubungan baru? Tidak, tidak untuk sekarang.
Untuk sekarang, sendiri lebih menarik, dan mungkin lebih baik.
Untuk kamu, tulisan tentang kamu ini (akhirnya) bisa saya selesaikan. Terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang sudah kamu berikan dan yang kita pelajari bersama. Terima kasih sempat mengisi bagian dari cerita hidup saya ini. Mungkin hanya sedikit yang diceritakan disini, karena selebihnya biarkan saya simpan sendiri.
Sekali lagi, terima kasih.
kok sedih ya bacanya yok :(
ReplyDelete