Saturday, April 2, 2016

Cerita Kecil

'Hai,kamu apa kabar?'

Ya, kata itulah yang mengawali percakapan antara kami setelah sekian lama tidak bertegur sapa. Setelah sekian lama tidak menjalin komunikasi, jarak yang tercipta antara kami pun sangat renggang. Jantung berdegup kencang, seiring rasa ragu yang membebani hati ini untuk mengirim pesan singkat yang sangat singkat tersebut. Mungkin memang itu terlihat singkat, namun keraguan yang harus dibuang, sungguh tidak sesingkat itu.



Detik demi detik, gue menantikan jawaban pesan singkat tersebut, sembari menunggu, gue sempet kentut 3-4 kali, oke, mungkin 5 kali (iya, gue mendadak masuk angin), setelah 2 menit, muncul notifikasi pesan baru di layar handphone yang kurang lebih isinya 'Hai Duuut, aku baik-baik aja. Kamu apa kabar juga disana? Gimana, di Jakarta lancar-lancar aja kan?'

...

Sejenak rasanya jantung ini berhenti berdetak, ngga kepikiran kegiatan apa lagi yang selanjutnya harus gue lakukan, gue sempet kepikiran buat minum sambil kayang, tapi gue lupa kalo gue lagi jerawatan (entah apa hubungannya). Selanjutnya, tanpa terasa kami terus berbalas pesan hingga larut malam dan memang sudah waktunya untuk istirahat, tapi obrolan tak kunjung menyurut, dia bercerita banyak tentang hidupnya yang sekarang, dia masih betah di Bandung, kota yang dulu pernah menjadi kota kenangan bagi kami berdua. Sekarang, dia sibuk mengejar gelar S2-nya, dan rencananya setelah itu mau lanjut ke Dublin. 

'Katanya mau lanjut ke Dublin yak?' gue basa-basi.

'Iyaah amiin, abis S2 emang rencananya mau kesana, udah ada yang nawarin kerjaan, hihi. Eh eh, skype-an yuk! Aku udah lama ga liat muka kamu, pengen denger suara kamu juga. ID skype aku baru, yg lama lupa password, ID aku GraceHS, buruan add ya!' balasnya bersemangat. 

Gue pun meng-iyakan ajakannya, gue pribadi juga pengen ngeliat mukanya yang sekarang, dan semoga dia ga pingsan ngeliat muka gue yang mirip anoa. Gue lihat jam yang udah menunjukkan pukul setengah 12 malam, sedikit senyum di bibir dan gue jalankan aplikasi skype dan mencari ID-nya, setelah ketemu, langsung gue telpon tanpa menunggu lama lagi, nada sambung baru saja berbunyi, dan langsung diangkat, gue deg-degan setengah mati mau ngeliat muka cinta pertama yang sampe sekarang susah buat digantikan, sesaat layar gelap gulita sebelum akhirnya sedikit demi sedikit menunjukkan sosok wajah yang gue kenal, dan, ya, akhirnya gue ngeliat lagi sosok yang dulu pernah ada, dan selalu ada di benak gue.

'Halooh?' Itu suara pertama yang gue denger dari bibirnya, badan gue lemes, tangan udah gemeteran, akhirnya gue jawab. 
'Halooh, kamu masih cantik yah, ga berubah.'
'Iih, gombal! Muka kamu manaaa? Kamu tu kalo mau skype lampu kamarnya dinyalain dulu dooong.' jawabnya dengan nada sebel. 

Gue lupa, lampu kamar udah gue matiin karna gue kira tadi udah mau tidur. 

'Iya sabar, juragan.' jawab gue.
'Huh!'
'Udah nih.' sapa gue setelah menyalakan lampu. 
'Iyaa hehehehe' dia cuma ketawa. 
'Kok ketawa sih, ngomong dong.' 
'Muka kamu masih kaya anoa ya, ga berubah.' 

Kampret. 

Kami banyak bertukar cerita, saling share kabar terbaru, gimana keadaan orang tuanya, kakak laki-lakinya yang bentar lagi akan menikah, dan aktivitas lainnya. Gue sengaja ngga nanyain tentang pacarnya, bukannya apa, gue pengen dia yang cerita tanpa perlu gue tanya, kalo gue yang nanya ntar seakan gue pengen tau banget cerita tentang pacarnya. Mungkin karena ga tahan, akhirnya dia pun cerita tentang pacarnya, yang ternyata kurang setuju sama keputusan dia buat kerja di Dublin, dia cerita juga bahwa pacarnya sibuk dengan kegiatan kuliahnya, agenda bertemu juga sangat jarang. Jujur, gue antara seneng tapi sedih juga. Seneng kalo ternyata hubungannya ga selacar yang gue bayangkan, dan gue sedih saat mendengar curhatannya yang menggambarkan betapa sayangnya dia sama cowonya. 

Setelah 2 jam skype-an, akhirnya obrolan pun selesai, gue pamit karena kuota gue mau abis, daripada nanti tiba-tiba mati kan ga enak, 'Makasiih yaaah udah mau dengerin curhatkuu, selamat istirahat, salam buat mamah yah!'. Itulah kata-kata penutup dari dia. 2 jam yang buat gue menjadi 2 jam paling singkat. 

Ini bukan perkara gue ngga move on, tapi cinta pertama memang selalu punya tempat spesial, apalagi cinta pertama ini tidak pernah ada di genggaman gue. Gue ngga munafik, gue pengen jadi pacarnya, gue pengen jadi tambatan hatinya, tapi kalo bukan gue yang ada di hatinya, gue bisa apa? Gue ngga mau maksa, karena menurut gue, cinta tidak diawali dengan paksaan. Gue ga pengen memaksa dia buat jatuh hati pada sosok yang mirip anoa ini, gue selalu memandang dia dari jauh, tersenyum saat melihat fotonya, dan kembali berbalik untuk melihat realita. 

Realita bahwa gue, hanya bisa jadi pengagumnya. 

Gue tidak berhenti di dia, dengan status single bukan berarti gue belum move on, gue hanya belum menemukan sosok yang bisa membuka pintu hati gue yang sudah terlalu lama tertutup.

Gue juga pernah merasakan cerita cinta, sekali, entah bisa dibilang pacaran atau ngga, karena tidak ada acara tembak-menembak. Oh ya, untuk cerita cinta tanpa acara tembak-menembak ini akan gue bahas di postingan selanjutnya, biar ngga pecah konsen. 

Yak, gue tipe orang yang tidak mudah menjatuhkan hati, seperti di postingan sebelumnya, seumur hidup, gue cuma 2 kali merasakan yang namanya jatuh cinta. Keren ga? Ngga ya? Yaudah gapapa. Karena gue bukan tipe yang main-main dalam menjalin hubungan, menurut gue, saat pria dan wanita memutuskan untuk berkomitmen, maka komitmen mereka juga tidak bisa dianggap main-main. Kecuali yang emang tipenya cuma pengen have fun doang, yang selalu ngerasa 'Yaelah coy, mumpung masih muda, nakal aja dulu, maen aja dulu, serius mah ntar aja. Kaku amat lu.' Gue ga kebayang gimana kalo saat mereka yang ngomong gitu, akhirnya jatuh cinta yg bener-bener jatuh, dan pasangannya cuma nganggep dia "permainan", makan tuh masa muda. 

Kita ga pernah tahu seberapa serius seseorang dalam menjalin hubungan, jangan sampe orang yang lu "mainin" ini punya keseriusan yang luar biasa, yang akan hancur hidupnya saat lu ninggalin dia dengan cueknya. Baru-baru ini gue ikut seminar, tentang cinta gitu, dan menurut gue emang banyak kasusnya di masyarakat, tentang bagaimana hidup seseorang bisa berubah 360 derajat hanya karena satu masalah cinta. Oke, menurut gue itu ga melulu soal cinta, bisa juga satu kejadian lain yang akan ngerubah alur hidup seseorang buat kedepannya. 

Terkadang kita sibuk mengejar seseorang yang kita idam-idamkan, kita buta dan tidak bisa melihat seseorang yang sebenarnya selalu ada buat kita, dia yang selalu menemani malam hari kita saat sosok yang kita idam-idamkan bahkan tidak ingin membicarakan tentang kita. 

Coba sadari, saat kesepian, saat butuh teman berbagi, siapa yang kalian cari? Siapa yang datang menghampiri kalian? Siapa yang selalu punya bahan obrolan setiap malam agar malam kalian tidak terasa sepi? Siapa yang sebenernya selalu ada? 

Jadi, sebenernya yang kita butuhkan itu siapa? Dia yang selalu kita damba tanpa ada respon baiknya, atau dia yang selalu ada tanpa diminta? :)

Be wise. :)







5 comments: